Jamaah haji tahun ini bisa mengisi waktu dengan mengunjungi Museum As-Haabee. Museum yang baru dibuka bulan lalu itu berlokasi tidak jauh dari Masjidilharam. Konsep audio video membuat museum tersebut terasa modern.

M. Hilmi Setiawan, Makkah, Jawa Pos

SUBRI bin Shaari dan Zaiton binti Kamaruddin duduk anteng melihat tayangan sejarah awal Arab Saudi di dalam kubus yang tergantung miring. Kubus itu dibalut warna hitam. Sekilas menyerupai Kakbah. Pasangan jamaah haji asal Kuala Lumpur, Malaysia, tersebut begitu antusias untuk mengunjungi Museum As-Haabee.

Mereka sempat kecele karena saat kunjungan pertama museum sedang tutup. Jadwal operasional dibuka mulai pagi sampai pukul 11.00. Kemudian tutup dan dibuka lagi setelah selesai salat Asar hingga pukul 23.00.

Tidak ada sejengkal pun bagian museum yang mereka lewatkan. Setiap kali ada tayangan video yang menceritakan sejarah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, mereka berhenti sejenak untuk menontonnya. Salah satu bagian yang menarik bagi mereka adalah maket Kota Madinah di awal-awal masa hijrah Nabi Muhammad. “Banyak informasi baru yang saya dapatkan,” ujar Subri dengan logat Melayu.

Waktu satu jam bagi Subri tak terasa ketika menyusuri museum yang terdiri atas sepuluh bagian atau cerita itu. Bagi Subri kekuatan museum adalah penyajiannya dalam bentuk digital atau tayangan audio video. Termasuk tayangan Perang Uhud yang disajikan layaknya tayangan bioskop.

Pasukan Islam digambarkan dengan prajurit memakai serban hijau. Sementara pasukan lawan digambarkan beserban merah. Peperangan antara pasukan hijau dan merah berlangsung seru. Layar terlihat hidup. Apalagi, bagian bawah layar dibentuk mirip kontur gunung.

Subri mengaku mendapatkan informasi keberadaan Museum As-Haabee itu dari teman-temannya. Dia bertekad harus bisa datang ke museum tersebut sebelum pulang. Subri dan Zaiton dijadwalkan pulang ke Kuala Lumpur pada 23 Agustus. Pasangan yang mendaftar haji pada 2008 itu menyatakan, proses hajinya berjalan lancar. “Sedikit batuk bersama teman-teman satu kamar,” katanya lantas tersenyum.

M. Hilmi Setiawan, wartawan Jawa Pos (kiri) bersama pemandu museum Ahsan Farouq.

Mencari lokasi museum itu tidak sulit. Patokannya adalah Hotel Dar Al Tawhid Intercontinental yang berada persis di sebelah Masjidilharam. Museum As-Haabee berlokasi di belakang hotel bercat cokelat muda tersebut. Sebelum sampai di pintu museum, tersedia banyak toko dengan konsep modern. Mulai toko parfum, pizza, ayam goreng, dan makanan ringan hingga kedai kopi.

Tarif tiket masuk museum itu 15 riyal atau sekitar Rp 60 ribu per orang. Museum yang dibuka menjelang musim haji 2019 tersebut juga menerapkan diskon khusus bagi jamaah asal Indonesia dan Malaysia. Diskon berlaku jika pengunjung rombongan mencapai 50 orang atau lebih.

Saat Jawa Pos mengunjungi museum itu Senin (19/8), antrean cukup panjang. Kebanyakan pengunjung yang antre berasal dari India dan Benua Afrika. Salah seorang pemandu museum yang bernama Ahsan Farouq menuturkan, jamaah haji asal Indonesia sebaiknya berkunjung pagi. “Sebab, pemandu khusus bahasa Indonesia ada di sesi pagi,” kata pria 24 tahun itu.

Farouq menjelaskan, untuk memanjakan pengunjung, pengelola museum menyiapkan pemandu dengan beragam bahasa. Mulai Indonesia, Inggris, Urdu, hingga bahasa Turki. Farouq menerangkan, dalam sehari kunjungan ke museum menembus 1.000 orang.

Area pertama museum bercerita tentang keesaan Allah SWT. Masuk ke area kedua, kepada pengunjung akan disajikan cerita sahabat Nabi dengan judul “Iman yang Tidak Tergoyahkan”. Dalam lukisan berupa sketsa, diceritakan kisah salah satu orang terawal yang memeluk agama Islam atau disebut assabiqunal awwalun.

Dia adalah Ammar bin Yasir. Di lukisan tersebut Ammar serta ayahnya yang bernama Yasir dan ibunya yang bernama Sumayyah binti Khayyat mengalami penyiksaan kejam dari Abu Jahal. Namun, siksaan itu tak menggoyahkan iman.

Di bagian akhir museum terdapat area bernama “The Farewell”. Area itu berisi cerita di pengujung usia Nabi Muhammad. Juga ada layar monitor touch screen yang berisi kumpulan tokoh pada masa Nabi Muhammad.

Mengunjungi Museum As-Haabee, jangan berharap bisa menemukan artefak atau peninggalan pernak-pernik dari para sahabat Nabi. Entah itu baju perang atau perlengkapan lainnya. Namun, dengan pendampingan guide museum, pengunjung bisa memahami sejarah perjuangan para sahabat Nabi Muhammad dengan baik.

Sebelumnya, seusai proses mabit di Mina, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga berkunjung ke Museum As-Haabee. Menurut dia, keberadaan museum tersebut sangat bermanfaat. “Menambah wawasan terkait riwayat para sahabat Nabi Muhammad. Kisahnya sangat memberikan teladan bagi kita bersama,” tuturnya.

Yusuf Hamdani, pemandu museum yang mendampingi Lukman saat itu, menceritakan bahwa kisah yang ditampilkan adalah kehidupan sahabat Nabi di Makkah maupun saat di Madinah. Dia menerangkan, Museum As-Haabee dibuka Juli lalu.

Dia mengatakan, pengunjung tidak perlu khawatir kesulitan untuk memahami isi museum. Pemandu yang disiapkan bakal menjelaskan dengan detail. Setiap negara atau bahasa diwakili satu pemandu. “Tapi, untuk Indonesia, di musim haji ini disediakan dua pemandu karena jamaahnya banyak,” katanya.