33 C
Semarang
Selasa, 22 September 2020

Pertanda Resesi

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

17 Agustus tahun ini.

Tiga hari sebelumnya. 

Jam 6 pagi waktu New York.

Itulah hari pertama kurva terbalik: yield bond jangka panjang lebih rendah dari yield bond jangka pendek. 

Itu belum pernah terjadi sejak 10 tahun lalu.

Ekonom waspada.

Pasar gempar.

Itulah pertanda-pertanda. 

Akan datangnya resesi ekonomi.

Pertanda-pertanda yang sama. Persis terjadi di masa lalu.

Di lima kali resesi ekonomi dunia. 

Selalu pertanda itulah yang datang. Sejak resesi ketika saya baru lahir di tahun 1950-an.

Sampai resesi terakhir tahun 2008.

Lima kali resesi selalu seperti itu indikasinya.

Beginilah awalnya:

Tidak semua pemilik uang mau menabung. 

Atau deposito. 

Atau bikin usaha. 

Atau membeli saham.

 

Tabungan dan deposito dianggap rendah bunganya.

Membeli saham pun takut. Harga saham bisa jatuh.

Membeli tanah terus-menerus? Takut kena pajak progresif. Atau takut sertifikatnya hilang. Harus pula menjaga tanahnya itu.

Pun bikin usaha. Ruwet. Harus kerja keras. Harus bersaing. Belum tentu sukses. Bahkan bisa stres. Apalagi kalau akhirnya dikhianati.

Tersedia jalan lain. 

Banyak yang memilih membeli bond. Surat utang. 

Hasilnya (yield) memang rendah tapi pasti. Dan aman. Apalagi kalau surat utang itu bukan bond yang dikeluarkan perusahaan. Melainkan surat utang oleh suatu negara. Pasti tidak ada resiko. Pasti dibayar. 

Lebih-lebih kalau pemerintahnya adalah Amerika Serikat. Siapa yang tidak percaya.

Biasanya yield untuk bond jangka panjang (10 tahun) lebih rendah dari yield bond jangka pendek (2 tahun).

Sepuluh tahun dianggap terlalu lama. Pemilik uang kadang memerlukan uangnya lebih cepat. Misalnya tiba-tiba ada peluang beli saham perdana. Dari sebuah IPO perusahaan yang fenomena.

Maka lebih banyak yang membeli bond jangka 2 tahun. Meski yieldnya lebih rendah. 

Itulah yang terjadi tanggal 14 Agustus lalu. Jam 6 pagi itu.

Biasanya yang membeli bond jangka panjang tidak sebanyak itu. Tiba-tiba pembeli bond 10 tahun lebih banyak dibanding yang 2 tahun. 

Belum pernah dialami seperti itu selama 10 tahun terakhir.

Orang cari aman.

Berarti bidang lain lagi tidak aman. Dalam empat tahun ke depan. Mereka memilih menghindar untuk empat tahun ke depan. Dengan cara memilih membeli bond 10 tahun. 

Rumusnya: kian naik yang membeli bond, kian turun yieldnya.

Rumus berikutnya: kalau pembeli bond dengan jatuh tempo 10 tahun lebih banyak dibanding pembeli bond dengan jatuh tempo 2 tahun berarti akan terjadi resesi.

Maka kesimpulan umum pun diambil: jam 6 pagi itu adalah awal akan terjadinya resesi ekonomi.

Kapan terjadinya?

Bukan besok pagi.

Bukan bulan depan.

Para ahli pengin lebih aman: antara 6 sampai 14 bulan ke depan.

Apakah artinya?

Para penguasa masih bisa ambil langkah menghindarinya.

Masih bisa membuat kebijakan baru. Atau meralat kebijakan lama. 

Menelan ludah sendiri memang tidak terhormat. Tapi lebih tidak terhormat lagi diludahi orang ramai-ramai.

Memang yang terbaca di tanggal 14 Agustus itu hanya angka. Belum tentu benar akan terjadi. Kesaktian satu angka tidak sama di kurun yang berbeda. Angka 02 sakti di tahun 2014. Tapi hilang kesaktiannya di tahun ini.

Jadi, tenang saja. 

Apalagi kurva yang terbalik itu hanya terjadi sesaat. Setelah itu balik lagi. Terutama ketika Presiden Donald Trump tiba-tiba menelan sendiri sebagian ludahnya. 

Ia membuat sebagian tempe itu jadi kedelai lagi. Ia meralat beberapa bagian keputusannya tentang bea masuk barang Tiongkok. 

Apalagi bagi yang tidak punya uang. Lebih mudah lagi. Tidak harus bingung akan membeli saham atau bond.

Bahwa kurva itu membaik lagi Alhamdulillah. Tapi pertanda-pertanda itu harus terus dibaca. Dengan hati terbuka. 

Apalagi ada indikator lain yang datang lebih dulu: harga emas naik terus. Sejak lebih dua bulan lalu.

Emas dan bond ada kemiripan. Keduanya dianggap investasi jangka panjang yang aman.

Kesimpulannya: apa yang harus kita lakukan?

Tidak harus melakukan apa-apa. Ikuti sunatullah. Pertahankan hidup. Terus bekerja. Kalau bisa, sedikit lebih keras.

Yang terpenting lagi sebenarnya lebih sederhana. Dan semua orang bisa melakukannya: menjadi orang baik.(Dahlan Iskan)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tekuni Hobi Puisi Sejak SMP

Membaca puisi adalah salah satu hobi yang saat ini masih ditekuni Tukijo. Pria asal Cilacap ini mengaku sudah hobi membaca puisi sejak ia duduk...

Panwaskab Rekrut Anggota Panwascam

DEMAK-Setelah dilantik beberapa waktu lalu, Panwaskab Demak mulai bergerak melakukan tahapan persiapan menyongsong Pilgub Jateng 27 Juni 2018 mendatang. Di antaranya adalah membuka rekrutmen...

Tuntut Pembubaran FPI

KEBUMEN –Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kebumen menggelar aksi penolakan terhadap organisasi Front Pembela Islam (FPI), Sabtu (28/01). Aksi...

Tahun Depan Fokus Kemiskinan

"Infrastruktur berkurang karena jalan provinsi itu 89 persen sudah baik. Mudah-mudahan tidak kena bencana," Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng SEMARANG - Tahun depan, Anggaran Pendapatan dan Belanja...

Mangkrak, 16 Kios Pasar Bulu Disegel

SEMARANG - Sedikitnya 16 kios yang tidak digunakan alias mangkrak di Pasar Bulu lantai II disegel oleh petugas Dinas Perdagangan Kota Semarang. Hal ini...

Pelaku Masih Sekolah Sebelum Ditangkap

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dua pelaku pembunuhan sopir taksi online yang ditemukan tewas tergeletak di Jalan Cendana IV Sambiroto, Tembalang, Semarang, diketahui masih tercatat sebagai...