Tradisi Idul Adha Perantau Madura, Pulang demi Nyambung Bheleh

  • Bagikan

Idul Adha adalah panggilan pulang untuk para perantau Madura di mana pun berada dan apa pun pekerjaannya. Entah demi silaturahmi dengan keluarga besar atau kerinduan pada makan beramai-ramai di musala atau masjid.

GALIH ADI, Sampang; DEBORA S., Jakarta; SEPTINDA A., Surabaya; Jawa Pos

HARI ini, saat orang beramai-ramai mengolah daging kurban, di kampung di balik perbukitan kapur itu, tak akan ada sate yang gosong. Atau kurang matang dibakar.

Bisa dipastikan, di kampung di Sampang, Jawa Timur, tersebut, semua daging sate -sapi maupun kambing- bakal terbakar sempurna. Meminjam istilah tingkat kematangan steak, mau medium rare, medium, medium well, atau well done? Bisa!

Bagaimana tidak bisa, lha 150 di antara 2.000 kepala keluarga warga Desa Karanganyar, Kecamatan Tambelangan, tersebut, adalah penjual sate “profesional”.

Dan, di Idul Adha seperti hari ini, semua bisa dipastikan toron, pulang kampung.

“Paling banyak berjualan di Solo dan Jogja. Mulai yang masih pakai gerobak sampai yang sudah buka stan atau depot,” kata Kepala Desa Karanganyar Safi kepada Jawa Pos Jumat lalu (9/8).

Karanganyar hanyalah noktah kecil dari kemeriahan secara keseluruhan di Madura tiap kali Idul Adha datang. Ribuan perantau pulang ke pulau yang terbagi ke dalam empat kabupaten -Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep- itu.

Dulu, sebelum ada Jembatan Suramadu, penumpukan penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, di hari-hari seperti sekarang ini adalah pemandangan rutin. Para perantau Madura antre menunggu kapal yang akan mengantarkan mereka ke Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Yang kampungnya di pulau-pulau kecil sekitaran Madura malah harus berupaya lebih ekstra lagi.

Ke Pulau Mandangin, misalnya, para perantau harus naik kapal berpenumpang 20-30 orang dari Pelabuhan Tangklok, Sampang. Dan, mesti berbagi tempat dengan barang bawaan yang menggunung.

Masih sulit diukur, juga tidak ada yang berani memastikan, tapi sampai ada yang menyebut, yang toron ke Madura saat Idul Adha itu konon lebih banyak ketimbang ketika Idul Fitri. Sudah pasti tak cuma para penjual sate seperti di Karanganyar atau para pekerja di sektor informal lainnya yang melakukannya.

  • Bagikan