Agni Rajagopal

  • Bagikan

Dulunya anak miskin sekali. Tidak mampu sekolah. Pun hanya untuk SMA. Tamat SD ia merantau ke kota. Ke Madras –sekarang disebut Chennai.

Ia kerja serabutan. Mati-matian. Ia pernah ke peramal nasib. Yang membuatnya sangat optimistis  –bahwa ia akan jadi orang sukses.

Pitchai Rajagopal benar-benar sukses. 

Ia punya lebih 120 restoran di 26 negara.

Rajagopal pun menjadi cinderela. From zero to hero. Bagi keluarganya. Dan bagi orang miskin pada umumnya. Terutama di India. Lebih utama lagi di negara bagian Tamil Nadu.

Rajagopal sangat percaya dukun.

Usaha pertamanya toko peracangan (kelontong). Tidak kunjung maju. Padahal dukun sebelumnya mengatakan: nasib baiknya ada di dunia bisnis. 

Rajagopal pun ke dukun lagi: kenapa bisnisnya tidak sukses.

“Bidang bisnismu salah,” kata dukun.

“Yang cocok bidang apa?” tanya Rajagopal.

“Yang ada hubungan dengan Agni,” jawab si dukun.

Ia terus memikirkan bisnis apa yang ada hubungannya dengan api dan nyala api. Bukan hanya api. Tapi api dan nyala api.

Ide baru pun datang tiba-tiba. Dipicu oleh temannya. Yang pamit mau makan siang. Ke sebuah restoran. Sejauh 5 kilometer.

Kesimpulannya: “Saya harus buka restoran di sini. Ternyata tidak ada restoran di daerah ini,” katanya dalam hati.

Tekadnya pun mantap. Ini dia. Bisnis yang ada hubungannya dengan api dan nyala api.

Rajagopal pun mendirikan restoran. Namanya Kamachi Bhavan. Ia bekerja keras di restoran itu. Tekadnya menyala-nyala.

Gagal. 

Restorannya tidak maju.

Ke dukun lagi. Yang lain lagi. 

“Namanya tidak cocok,” kata sang dukun.

Nama restorannya pun diganti. Menjadi Saravana Bhovan.

Jenis makanannya pun diubah. Menjadi lebih vegetarian. Cocok untuk orang India. Yang tidak makan daging sapi.

Rajagopal pun menuai harapan. Kian besar.

Ia temukan pula model manajemen kekeluargaan. Yang cocok untuk India. Sampai karyawannya tidak memanggilnya bos. Tapi annachi  –lauda, kakak sulung.

  • Bagikan