Wisma New Barbara di Lokalisasi Moroseneng Jadi Green House Anggrek

  • Bagikan

KALAU mendengar kata Wisma New Barbara, umumnya langsung terpikirkan lokalisasi. Tetapi, itu sudah lampau, rek. Jadul. Wisma New Barbara tidak seperti yang dulu lagi.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

Wisma New Barbara femes pada zamannya. Rumah bordil dengan ragam layanan khusus dewasa itu ada di dua tempat. Dolly dan Moroseneng. Tetapi, itu dulu. Citra negatif tersebut kini berubah 180 derajat. Wisma New Barbara di Moroseneng, Sememi, diubah pemkot menjadi green house spesialisasi anggrek.

Dari luar, tulisan New Barbara berwarna merah terpampang di bilik kaca berukuran 1 x 2 meter. Saat masuk, aroma harum langsung tercium dari balik pintu kaca tebal Teriknya matahari di Sememi pun tak terasa ketika berada di dalam bangunan berwarna cokelat dan krem tersebut. Embusan AC nan sejuk memadati gedung yang dulu mangkrak itu.

Tidak ada lagi pemandangan perempuan-perempuan berpakaian seksi. Juga sapaan manis manja menggoda dari balik kaca-kaca. Mereka digantikan ratusan anggrek berbagai warna yang ditempatkan di dekat pintu masuk. Meski tak beroperasi sebagai tempat prostitusi, keberadaan ruangan Wisma New Barbara tak banyak berubah.

Memang ada penambahan beberapa ruangan khusus. Misalnya, tempat inkubasi penempatan benih anggrek, ruang inkubator penebaran benih anggrek, dan ruang untuk pembuatan media anggrek.

Jenis anggrek di eks Wisma New Barbara memang belum banyak. Hanya ada tiga. Yaitu, anggrek dendrobium, anggrek catleya, dan anggrek bulan. Maklum, green house dan kebun anggrek masih masuk tahap pembangunan. Walau baru, tanaman yang mereka miliki mencapai ratusan. Bahkan, bibit anggreknya mencapai 5 ribuan.

Lokasi green house itu berada di Sememi Jaya Gang II, RW 1, RT 3, Sememi, Kecamatan Benowo. Dulu lebih sering disebut Moroseneng. Itu adalah tempat prostitusi terbesar nomor dua di Surabaya setelah Dolly. Green house dan kebun anggrek itu menempati wisma yang ditutup sejak 2013. Setelah dilakukan pembayaran ganti rugi, wisma yang memiliki 50 kamar tersebut kosong.

Pemkot pun memanfaatkannya sebagai tempat wisata edukasi tentang tanaman anggrek. Semuanya dikelola secara profesional. Termasuk ruang inkubasi penempatan bibit yang suhunya dibuat di bawah 16 derajat Celsius. Tujuannya, ribuan bibit itu berhasil tumbuh. ’’Gak kehitung jumlahnya. Mungkin 5 ribu lebih,’’ ucap tenaga laboratorium kultur jaringan anggrek dari dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) Anis Satu Risda kemarin siang (22/7).

  • Bagikan