JawaPos.com – Konsep pengembangan moda transportasi jalur kereta di wilayah Gerbangkertosusila sudah lama disiapkan pemerintah. Program itu masuk rencana jangka panjang pembangunan di Jatim.

Kini rencana tersebut kembali diseriusi. Tak hanya masuk proyek prioritas percepatan, sejumlah studi telah dilakukan bersama pihak ketiga yang tertarik.

Pemerintah mengantongi sejumlah konsep awal yang bakal diterapkan.

Di antaranya, dari operator kereta api Prancis dan sebuah konsorsium Jerman. Secara umum, konsep yang ditawarkan dua investor itu tak jauh beda. Mengoneksikan jalur kereta yang ada di wilayah ring I Jatim. “Saat ini konsep itu tengah didalami pemerintah pusat,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim Fattah Jasin.

Berdasar desain pengembangan jalur KA bertajuk Surabaya Regional Rail Transport System (SRRTS) yang digagas operator kereta asal Prancis, koneksi moda dilakukan di seluruh wilayah Gerbangkertosusila. Rute yang dilalui adalah Mojokerto/Porong-Tarik-Sidoarjo-seluruh stasiun di Surabaya hingga Lamongan.

Namun, konsep tersebut dimodifikasi. Jalur kereta juga akan melintas ke arah Gresik serta Tuban. Selain itu, pemerintah berencana menghidupkan lagi jalur dari Lamongan-Babat-Jombang-Mojokerto. “Sehingga, koneksi dari seluruh jalur itu bersifat komuter (memutar) ke seluruh wilayah Gerbangkertosusila,” katanya.

Untuk merealisasikan konsep itu, pemerintah menyiapkan empat skenario jalur. Yakni, memakai jalur yang sudah ada, memodifikasi sejumlah jalur yang ada, plus mengaktifkan jalur yang saat ini tidak difungsikan. “Juga, ada rencana mengembangkan jalur baru,” katanya.

Untuk wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, yang digunakan adalah rel-rel existing. Sementara itu, yang masuk proyeksi diaktifkan lagi adalah wilayah Gresik, Tuban, serta ruas Babat hingga Jombang.

Rencana khusus disiapkan pemerintah terhadap jalur-jalur kereta di Surabaya. Meski tetap memakai jalur existing (mulai Waru, Wonokromo, Gubeng, Surabaya, Kota, Pasar Turi, hingga Kandangan), ada modifikasi berupa memperbanyak jalur rel jenis elevated (melayang).

Konsep itu diperlukan agar tidak mengganggu lalu lintas jalan yang dilalui perlintasan. Diperkirakan ada sekitar 19 km rel di wilayah Surabaya yang menggunakan jenis itu. Selain jalur, yang disiapkan dalam program koneksitas adalah pemerataan angkutan pengumpan (feeder) di seluruh stasiun pemberhentian kereta.

Pemerintah juga akan membenahi jenis moda angkutan yang dioperasikan. Secara umum, nanti digunakan kereta cepat yang ramah lingkungan. “Ada sejumlah jenis kereta yang sedang dijajaki,” tutur Kabid Pengembangan Transportasi dan Multimoda Dishub Jatim Kurniawan Hary.

Program itu membutuhkan dana besar. Pemerintah tengah merancang skema pendanaannya. Jika menggunakan hitungan yang sudah dibuat perusahaan kereta asal Prancis, program tersebut diperkirakan butuh dana sekitar 1,055 miliar euro atau setara Rp 16 triliun. Namun, hitungan itu berpotensi berubah.

Tingginya biaya yang dibutuhkan cukup beralasan. Tak hanya dipakai untuk persiapan fasilitas dan infrastruktur moda angkutan (baik kereta, perangkat sinyalisasi, peranti telekomunikasi, maupun pembangunan rel elevated), dana juga dialokasikan untuk aktivasi jalur-jalur yang sudah mati dan pembuatan jalur baru.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ris/din/c10/ayi)