Muhammad Nur Huda yang Hobi Pelihara dan Beternak Reptil Mematikan

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di...

WAKTU kecil, Muhammad Nur Huda sering ikut sang ayah ke sawah dan kebun di desanya. Dari sanalah pertemuan pertamanya dengan berbagai jenis hewan melata. Dan, cinta pun bersemi.

LUDRY ARGO WISNU PRAYOGA, Sidoarjo

Bangunan semipermanen berukuran 8 meter persegi itu penuh sesak oleh tumpukan boks plastik. Lokasinya di kawasan persawahan Desa Jabaran, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo. Di tempat itulah Huda, panggilan akrab Muhammad Nur Huda, merawat puluhan reptil koleksinya. Tidak hanya dikoleksi, Huda juga menahbiskan diri sebagai peternak ular.

Memang, kalimat dari hobi membawa rezeki tepat disematkan kepadanya. Kegemarannya mengoleksi hewan reptil juga membuat kantongnya semakin tebal. Sebab, banyak yang tertarik membeli hewan koleksinya. Terutama ular berjenis Trimere surus insularis atau biasa dikenal ular hijau.

Meski tergolong reptil viper yang memiliki bisa mematikan, Huda tak gentar. Dia memilih si hijau dengan alasan tidak banyak orang yang mengembangbiakkannya. ”Jarang sekali yang tertarik karena racunnya tergolong high venom. Sekali gigit bisa modar,” canda Huda.

Huda menekuni hobi sekaligus sumber pendapatan tersebut dua tahun terakhir. Saat itu, banyak kolektor hewan reptil yang mencari jenis ular tersebut. ”Kalau punya ular ini, bisa dibilang kolektor andal. Mungkin karena keganasannya,” ujar Huda. Ketika berhasil menemukan jenis ular itu saat berburu, Huda berinisiatif untuk mengembangbiakkannya. ”Rumah saya dekat dengan habitatnya, terutama di kawasan semak belukar dan pohon bambu,” jelasnya.Sekarang dia sudah bisa menerima pesanan dari seluruh Indonesia.

Kolektor hewan dari berbagai kota rela membayar hingga ratusan ribu rupiah untuk seekor ular hijau. ”Dari Malang, Jogja, hingga Bogor. Harganya Rp 500 ribu–600 ribu per ekor. Biasanya, mereka membeli sepasang untuk dikembangbiakkan sendiri,” ungkap pria 35 tahun yang belajar secara otodidak untuk merawat dan mengembangkan ular asli Indonesia itu.

Menurut Huda, tidak ada kendala saat melakukan pengembangbiakan. Karena dilakukan dengan dasar kesenangan, Huda tidak merasa berat. Juga ketika seekor ular menggigitnya. ”Sampai menjalani perawatan serius di RS,” paparnya. Alih-alih kapok, Huda tambah cinta. Bahkan, dia mengaku sekarang sudah kebal. ”Sudah tahu cara mengatasi gigitan ular. Rasanya seperti kebal,” paparnya.

Huda juga lebih memahami perilaku si ular. Misalnya, saat musim kawin mulai Februari sampai Agustus, ular membutuhkan perawatan khusus. ”Selain itu, saat musim kawin, perlu lebih berhati-hati dengan gigitan. Karena bisanya lebih ganas dari ular kobra,” lanjutnya.

Saat memulai usaha, Huda juga harus paham perasaan tetangga dan keluarga. Pasalnya, tidak sedikit yang risi dan takut dengan peternakannya. ”Dulu bikin kandang sekitar rumah. Kadang ada ular yang lepas. Banyak tetangga yang protes,” ungkapnya, lantas tertawa. Akhirnya, dia membangun kandang di sekitar persawahan di Desa Jabaran. ”Cocok dengan tempat habitat, reptil bisa tumbuh sehat,” ungkapnya.

Peminat ularnya cukup banyak, bahkan sering kali dia kehabisan stok ular untuk dikembangbiakkan. ”Pernah mengirim 20 boks ke kawasan Jakarta, sepertinya untuk pameran reptil,” paparnya. Dia pun harus mencari persediaan ular dengan berburu. Baik di kawasan hutan maupun perkebunan di sekitar rumah. Menurut Huda, ular jenis itu bisa berevolusi dengan cepat setelah bertelur. ”Ular yang sudah bertelur bisa lebih jinak dan warnanya berubah tidak hijau lagi,” jelasnya.

Huda punya niat lain selain berjualan. Dia berkeinginan punya pusat edukasi hewan reptil di desanya. Tujuannya, masyarakat tidak perlu takut dan khawatir saat menjumpai hewan liar tersebut. Sebab, di daerahnya sering dijumpai berbagai jenis hewan reptil. ”Agar paham cara mengatasinya sehingga tidak perlu merasa takut. Apalagi sampai memakan korban,” ungkapnya.

- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Random News

SIMGAKIN Persempit Manipulasi SKTM

RADARSEMARANG.COM - KETUA DPRD Kota Semarang, Supriyadi, menilai di Kota Semarang sejauh ini tidak banyak ditemukan oknum orangtua yang menyalahgunakan SKTM demi anaknya bisa...

Buka Kelompok Usia, Dewasa dan Veteran

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Djarum Foundation Kejurkot Bulutangkis I Salatiga 2018 mulai digelar Minggu (22/7) besok, di GOR PPLP Sepak Takraw (Ngebul), Jalan Veteran Kota Salatiga....

Banyak Pengusaha Nekat Tak Bayar Pajak

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo siap tukar data dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah I, untuk bekerjasama menggali...

Transaksi Non Tunai Meningkat

SEMARANG–Transaksi non tunai di Jawa Tengah meningkat 3 persen di tahun ini. Edukasi ke masyarakat pun terus dilakukan Bank Indonesia guna mendorong program tersebut. Deputi...

More Articles Like This

- Advertisement -