WAKTU kecil, Muhammad Nur Huda sering ikut sang ayah ke sawah dan kebun di desanya. Dari sanalah pertemuan pertamanya dengan berbagai jenis hewan melata. Dan, cinta pun bersemi.

LUDRY ARGO WISNU PRAYOGA, Sidoarjo

Bangunan semipermanen berukuran 8 meter persegi itu penuh sesak oleh tumpukan boks plastik. Lokasinya di kawasan persawahan Desa Jabaran, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo. Di tempat itulah Huda, panggilan akrab Muhammad Nur Huda, merawat puluhan reptil koleksinya. Tidak hanya dikoleksi, Huda juga menahbiskan diri sebagai peternak ular.

Memang, kalimat dari hobi membawa rezeki tepat disematkan kepadanya. Kegemarannya mengoleksi hewan reptil juga membuat kantongnya semakin tebal. Sebab, banyak yang tertarik membeli hewan koleksinya. Terutama ular berjenis Trimere surus insularis atau biasa dikenal ular hijau.

Meski tergolong reptil viper yang memiliki bisa mematikan, Huda tak gentar. Dia memilih si hijau dengan alasan tidak banyak orang yang mengembangbiakkannya. ”Jarang sekali yang tertarik karena racunnya tergolong high venom. Sekali gigit bisa modar,” canda Huda.

Huda menekuni hobi sekaligus sumber pendapatan tersebut dua tahun terakhir. Saat itu, banyak kolektor hewan reptil yang mencari jenis ular tersebut. ”Kalau punya ular ini, bisa dibilang kolektor andal. Mungkin karena keganasannya,” ujar Huda. Ketika berhasil menemukan jenis ular itu saat berburu, Huda berinisiatif untuk mengembangbiakkannya. ”Rumah saya dekat dengan habitatnya, terutama di kawasan semak belukar dan pohon bambu,” jelasnya.Sekarang dia sudah bisa menerima pesanan dari seluruh Indonesia.

Kolektor hewan dari berbagai kota rela membayar hingga ratusan ribu rupiah untuk seekor ular hijau. ”Dari Malang, Jogja, hingga Bogor. Harganya Rp 500 ribu–600 ribu per ekor. Biasanya, mereka membeli sepasang untuk dikembangbiakkan sendiri,” ungkap pria 35 tahun yang belajar secara otodidak untuk merawat dan mengembangkan ular asli Indonesia itu.

Menurut Huda, tidak ada kendala saat melakukan pengembangbiakan. Karena dilakukan dengan dasar kesenangan, Huda tidak merasa berat. Juga ketika seekor ular menggigitnya. ”Sampai menjalani perawatan serius di RS,” paparnya. Alih-alih kapok, Huda tambah cinta. Bahkan, dia mengaku sekarang sudah kebal. ”Sudah tahu cara mengatasi gigitan ular. Rasanya seperti kebal,” paparnya.

Huda juga lebih memahami perilaku si ular. Misalnya, saat musim kawin mulai Februari sampai Agustus, ular membutuhkan perawatan khusus. ”Selain itu, saat musim kawin, perlu lebih berhati-hati dengan gigitan. Karena bisanya lebih ganas dari ular kobra,” lanjutnya.

Saat memulai usaha, Huda juga harus paham perasaan tetangga dan keluarga. Pasalnya, tidak sedikit yang risi dan takut dengan peternakannya. ”Dulu bikin kandang sekitar rumah. Kadang ada ular yang lepas. Banyak tetangga yang protes,” ungkapnya, lantas tertawa. Akhirnya, dia membangun kandang di sekitar persawahan di Desa Jabaran. ”Cocok dengan tempat habitat, reptil bisa tumbuh sehat,” ungkapnya.

Peminat ularnya cukup banyak, bahkan sering kali dia kehabisan stok ular untuk dikembangbiakkan. ”Pernah mengirim 20 boks ke kawasan Jakarta, sepertinya untuk pameran reptil,” paparnya. Dia pun harus mencari persediaan ular dengan berburu. Baik di kawasan hutan maupun perkebunan di sekitar rumah. Menurut Huda, ular jenis itu bisa berevolusi dengan cepat setelah bertelur. ”Ular yang sudah bertelur bisa lebih jinak dan warnanya berubah tidak hijau lagi,” jelasnya.

Huda punya niat lain selain berjualan. Dia berkeinginan punya pusat edukasi hewan reptil di desanya. Tujuannya, masyarakat tidak perlu takut dan khawatir saat menjumpai hewan liar tersebut. Sebab, di daerahnya sering dijumpai berbagai jenis hewan reptil. ”Agar paham cara mengatasinya sehingga tidak perlu merasa takut. Apalagi sampai memakan korban,” ungkapnya.