33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Keteguhan Jasikun Menemani Istri Berjuang Melawan Kanker Serviks

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

JASIKUN tak kenal menyerah. Empat belas tahun sudah dia telaten menemani pendamping hidupnya itu berjuang melawan sakit. Mendampinginya di kala apa pun. Contoh nyata kesetiaan.

KARTIKA SARI, Surabaya

IkrarJasikun saat menikahi Suyatin tidak sekadar manis di bibir. Ketika itu dia berjanji sehidup semati dengan sang istri. Jasikun benar-benar melaksanakannya. Menemani istrinya dalam kondisi apa pun. Termasuk ketika istrinya divonis mengidap kanker serviks sejak 2005.

Pria asal Jalan Wonokusumo Jaya Gang VIII Nomor 5A, Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir, itu setia menemani istrinya kontrol ke rumah sakit. Dua kali sepekan. Dia juga betah berlama-lama mengantre. Menguruskan semua kebutuhan administrasi hingga menghibur sang istri bila tiba-tiba merasakan sakit.

Setiap hari pula, Jasikun membantu istrinya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai menyiapkan baju hingga tas yang harus dibawa. Jasikun juga telaten menemani istrinya berjalan kaki sejauh 1 kilometer ke jalan raya untuk mendapatkan angkutan kota yang melintas.

Seperti halnya Sabtu lalu (6/7), dia menemani Suyatin mengikuti seminar awam paliatif di Gedung Diagnostik Center RSUD dr Soetomo. ”Sebenarnya kalau dari rumah menuju jalan raya bisa menggunakan becak, tapi kami memilih jalan kaki,” tutur Jasikun.

Selama meniti jalan, pasutri itu selalu bergandengan tangan. Jasikun selalu merasa khawatir bila istrinya tak bisa berjalan lancar. Pemandangan itu sering kali membuat orang lain tergelitik menggoda mereka. ”Kami sering disiuli orang-orang yang melihat kami. Padahal, kami sudah orang tua, tapi masih sering digoda,” ujar pria 77 tahun tersebut.

Tak cukup itu saja. Saat istrinya kontrol di instalasi paliatif dan bebas nyeri, Jasikun juga sering menemaninya untuk melakukan hal-hal yang diajarkan di tempat itu Salah satunya, membuat kerajinan tangan. Misalnya, merajut. Namun, menurut Jasikun, apa yang dilakukannya itu belum seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Suyatin bertahan melawan kanker serviks.

Kala itu, pada 2005, Suyatin masih berusia 57 tahun. Dokter mendiagnosis kanker Suyatin sudah stadium III. Awalnya, Suyatin mengalami gangguan menstruasi. Namun, dia menganggapnya sebagai hal yang wajar. Sebab, di usianya saat itu, Suyatin merasa sudah seharusnya mengalami menopause. Namun, semakin lama, kondisinya semakin buruk. Dia juga mengalami keputihan dengan bau yang tidak seperti seharusnya. Pendarahan pun mulai terjadi. ”Bukan hanya istri yang panik, tapi saya juga. Lalu, kami pun berobat ke klinik. Selanjutnya, istri saya dirujuk ke RSUD,” kata pensiunan guru tersebut.

Sejak itu, dia selalu menemani istrinya melalui berbagai konsultasi dengan dokter dan pengobatan. Saat menjalani kemoterapi dan radiasi, Suyatin sering muntah dan susah makan. Itulah yang membuat Jasikun semakin khawatir. ”Sering kali habis makan dimuntahkan lagi. Begitu terus tiap habis kemoterapi,” ucap Jasikun.

Kemoterapi dan radiasi memang dilakukan. Namun, kanker serviks tersebut telah menyebar. Suyatin pun merasakan nyeri yang hebat. ”Saya selalu takut jika istri saya tiba-tiba diambil oleh Yang Mahakuasa,” ucap Jasikun getir.

Sejak awal tahu sakit, Suyatin menjalani pemeriksaan dan pengobatan di instalasi paliatif dan bebas nyeri. Di sana, dia mendapatkan obat untuk menghilangkan rasa nyeri akibat penyakitnya. Dokter dan tenaga medis juga melatih cara berpikir Suyatin agar ikhlas menjalani hidup dengan penyakitnya. ”Saya diberi dorongan dan semangat serta dibiasakan untuk meningkatkan ibadah,” ucap perempuan 72 tahun tersebut.

Bukan hanya Suyatin yang diberi motivasi, melainkan juga keluarganya. Termasuk suami. Mereka bersama-sama mempersiapkan agar Suyatin bisa hidup lebih bermakna. Tanpa berpikir akan cepat tiada karena penyakit. ”Inilah salah satu alasan saya memberikan perhatian yang banyak kepada istri. Namun, lebih dari itu, saya benar-benar sayang dengan istri,” tuturnya.

Jasikun mengaku tak pernah marah bila istrinya mengeluh dan banyak menyita waktunya. ”Waktu saya memang dihabiskan di rumah bersama istri. Istri saya berjuang melawan penyakitnya. Saya pun harus berjuang mendukungnya” kata Jasikun dengan suara bergetar.

Begitulah keluarga kecil itu saling menjaga agar tidak terlalu merepotkan banyak orang.

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Harga Cabai Mahal, Buat Pembibitan

DEMAK-Tingginya harga cabai membuat petani ramai-ramai menanam dan membuat pembibitan cabai. Hasilnya, omzet penjualan cabai bisa meningkat 50 persen. Seperti diketahui, harga cabai di pasar...

Ingin Terkenal Seperti Warteg dan Masakan Padang

RADARSEMARANG.COM - Penjual gulai kambing Bustaman, Semarang, Rodliyah, mengaku dirinya merupakan generasi kelima dari keluarganya. Wanita enam anak tersebut mengungkapkan dari cerita leluhurnya, kali...

Timsus Asusila, Blusukan ke Hotel dan Kos untuk Bongkar Kejahatan

PARA polisi ini keluar masuk hotel, wisma, sampai kos-kosan. Yang dicari, para pelaku tindak pidana asusila. Enam anggota Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya itu...

Muncul Kajian untuk Kembalikan Logo Lama

KENDAL – Logo Kabupaten Kendal hingga saat ini ternyata masih menuai beberapa pro kontra. Muncul sejumlah masukan dari berbagi pihak untuk mengembalikan logo Kendal...

Himpun Anggota, Kenalkan Olahraga Sepatu Roda

TEMANGGUNG-Untuk mewadahi penghobi olah raga sepatu roda di Kabupaten Temangung, kini telah terbentuk klub Bumiphala Roller Sport Temanggung (Roket). Harapannya, sepatu roda bisa berkembang,...

Ajak Anak Muda, GO-JEK Gelar GO-HACKATHON

SEMARANG–GO-JEK penyedia layanan on-demand berbasis aplikasi, mengajak anak muda Indonesia untuk membuat solusi permasalahan sehari-hari berupa karya teknologi berbasis open source seperti aplikasi, tools,...