33 C
Semarang
Sabtu, 26 September 2020

Tiga Mahasiswa UHT Bikin Obat Penyembuh Luka Ekonomis

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

BERAGAM inovasi di bidang kesehatan terus bermunculan dari para generasi muda. Salah satunya, inovasi yang dibuat tiga dara dari Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya. Mereka menciptakan obat penyembuh luka dengan memakai bahan sederhana yang mudah didapat.

AHMAD DIDIN KHOIRUDDIN, Surabaya

Suasana sepi langsung menyambut saat masuk salah satu laboratorium milik UHT beberapa waktu lalu. Di salah satu sudut, ada tiga mahasiswi yang sedang asyik membuat percobaan. Gelas ukur, pipet, dan tabung reaksi sudah tersedia di atas meja. Di samping mereka, terdapat serbuk hijau.

”Ini adalah serbuk yang berasal dari tanaman kaktus,” celetuk salah seorang mahasiswi, Sang Ayu Prischa Esterina. Selain kaktus, bahan utama yang dipakai untuk membuat serbuk penyembuh luka ciptaan mereka adalah kulit udang. Setelah semua bahan lengkap, pengolahan pun segera dimulai.

Ketiganya punya peran masing-masing. Kathleen Aldora bertugas mencampur larutan. Kemudian, Prischa menyiapkan serbuk kaktus dan kulit udang. Sementara itu, Ayu Mira Cyntia Dewi kebagian mencatat semua perlakuan yang dikerjakan kedua rekannya tersebut.

Tak hanya asal buat, karya tiga mahasiswa jurusan kedokteran itu baru saja meraih medali emas dalam ajang Japan Design, Idea & Invention Expo di Tokyo, Jepang, yang digelar pada 15–17 Juni. Tidak hanya itu, karena keunikan bahan yang dipakai, mereka mendapatkan special award dari dua negara. Yakni, Arab Saudi dan Kamboja.

Ide awal pembuatan karya itu cukup sederhana. Di pasar, mereka sering melihat kulit udang yang terbuang sia-sia. Maklum, kulit sisa hewan air umumnya tidak dimakan. Kalaupun dipakai, itu hanya untuk campuran makan ternak. ”Nah, kami pelajari lagi beberapa jurnal. Ternyata kulit udang atau chitosan banyak sekali manfaatnya. Terutama di bidang kesehatan,” tutur Prischa.

Bahan itu sangat mudah didapat. Bahkan, mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk memperoleh kulit udang.

Karena dianggap sebagai limbah, penjual udang memberikan bahan itu secara cuma-cuma alias gratis. Berbekal keliling di beberapa pedagang, mereka pun bisa mengantongi beberapa kresek kulit udang untuk diolah.

Dalam beberapa referensi, chitosan memang bisa mempercepat pembekuan darah sehingga cukup efektif dipakai untuk kulit yang terluka atau terbakar. Namun, itu saja tidak cukup. Ketiganya sepakat mencari unsur pelengkap temuan mereka. ”Setelah darah kering, butuh bahan untuk mempercepat pembentukan jaringan kulit,” imbuh mahasiswa semester IV tersebut.

Buku dibolak-balik. Searching sana-sini. Banyak bahan alami yang ditemukan. Namun, yang paling dekat dan mudah dicari adalah kaktus. Kaktus yang mereka pakai bukan kaktus hias kecil dengan harga selangit itu. Melainkan kaktus gepeng yang jumlahnya paling banyak di Indonesia. ”Itu biasanya ada di pinggir jalan, di kampung-kampung. Tinggal petik saja kalau butuh,” tuturnya.

Bermodal dua bahan gratisan itu, mereka dapat menciptakan sesuatu. Memang, untuk bisa dipakai sebagai obat penyembuh luka komersial, dibutuhkan pengembangan dan penelitian yang mendalam. Untuk saat ini, mereka sudah menguji coba karyanya pada beberapa objek hewan. ”Kami bandingkan, luka yang dibiarkan dan diberi serbuk. Hasilnya, lebih cepat sembuh yang serbuk,” jelasnya. Untuk memvalidkan hasil, dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali.

Mendapatkan berbagai penghargaan internasional tidak membuat mereka berpuas diri. Masih ada target yang mereka kejar. Sementara ini, serbuk berukuran nano yang mereka buat masih dicampur dengan plester pabrikan. Ke depan, mereka ingin membuat plester sendiri dari bahan alami yang dicampur dengan serbuk tersebut.

Targetnya, produk itu bisa dijual ke pasaran. Hal itu bukan isapan jempol semata. Sebab, saat ajang perlombaan lalu, sudah ada investor yang melirik karya mereka. ”Kami pastikan akan menjualnya di bawah USD 1 (setara Rp 1 ribu),” kata Prischa.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyempurnakan karya itu memang terhitung cukup lama. Yakni, delapan bulan. Namun, waktu itu sudah terpotong rutinitas kuliah yang cukup padat. Saat libur semester kali ini, mereka berencana kembali mengutak-atik karya tersebut hingga terbukti semakin valid.

Salah satu tujuan terbesar mereka adalah melakukan pengujian langsung pada manusia. Namun, masih dibutuhkan beberapa tahap penyempurnaan lagi. Selain itu, perlu ada pengurusan ethical clearance (EC) untuk bisa mencoba karya tersebut pada tubuh manusia. ”Kami ingin produk ini bisa dipakai sebagai penanganan pertama pada orang yang terluka,” tandasnya.

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...