32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Pasutri Pendongeng di Daerah Konflik, Trauma Healing dengan Cerita

MENYEMBUHKAN hati anak negeri yang mengalami trauma lewat dongeng. Itulah yang dilakukan oleh Ivan Sumantri Bonang dan Iin Muthmainnah. Pasutri dari Bandar Lampung tersebut mendirikan Komunitas Dongeng Dakocan. Mereka berkeliling ke daerah-daerah konflik.

FERLYNDA PUTRI, Bandar Lampung

Wangi kopi tiom yang disuguhkan oleh Iin Jumat malam itu (21/6) sungguh menggoda. Rasa kopi tersebut asam di awal. Tapi kemudian manis. Seperti pengalamannya bersama sang suami, Ivan, saat mengambil kopi yang dibanderol hingga Rp 5,3 juta per kg itu di Lanny Jaya, Papua.

Misi mereka ke Lanny Jaya bukanlah pelesiran. Penggawa Komunitas Dongeng Dakocan tersebut datang untuk bercerita. Di daerah tertinggal seperti Lanny Jaya, banyak kelas kosong karena tak ada guru yang mengajar. Untuk menghidupkan kelas-kelas itu, Polri mengisi kegiatan belajar mengajar lewat Binmas Noken.

Iin dan Ivan digandeng Polri untuk membantu mendongeng. Mereka keluar masuk sekolah di sana. Selain itu, mereka ditugaskan untuk mendidik polisi calon anggota Binmas Noken agar piawai mendongeng. Supaya bisa meneruskan apa yang sudah mereka lakukan.

Iin tak ingat betul kapan dirinya mengambil kopi tiom. Yang dia ingat, pada 2018 dirinya dan sang suami turun ke Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya. Saat berangkat, rombongan dua mobil itu sudah diwanti-wanti agar tidak terlambat pulang. Maksimal pukul 16.00 harus turun gunung menuju Wamena.

Namun, ternyata mereka baru menyelesaikan kegiatan pukul 16.00 dan bisa meninggalkan lokasi 30 menit setelah itu. Mereka terlambat, salah satunya, karena menunggu kopi tiom. Perempuan 42 tahun tersebut duduk di mobil pertama bersama suaminya serta beberapa polisi pengawal. Sopirnya merupakan warga sipil. ”Kami semua menggunakan rompi antipeluru,” tutur Iin saat ditemui di kediamannya di Bandar Lampung.

Di tengah perjalanan, ada segerombolan orang yang menghentikan mobil. Menurut informasi yang diperoleh Iin, mereka merupakan partisan Organisasi Papua Merdeka (OPM). ”Yang menghentikan mobil memang tidak bersenjata. Namun, di sisi-sisi bukit pasti ada yang bersenjata. Siap-siap kalau ada perlawanan,” ujar sarjana pertanian Universitas Lampung yang juga sempat mengenyam pendidikan psikologi di Universitas Muhammadiyah Lampung tapi tak sampai lulus itu.

Ivan dan Iin ingat wejangan polisi sebelum menuju Distrik Tiom. Jika ada penyerangan tapi mobil masih berjalan, harus merunduk. Tapi, kalau mobil sudah berhenti, yang mesti dilakukan adalah segera keluar dan bersembunyi di parit. ”Kalau penembaknya mendekat, ya berdoa saja,” tutur Ivan, disambung tawa.

Tiba saatnya rombongan Iin melintas. Sopir sudah hafal. Semua orang diminta untuk menunduk. Mobil Fortuner yang mereka tumpangi dipacu kencang. Tidak peduli apakah nanti ada korban yang tertabrak. Yang terpenting adalah segera melewati jembatan sepanjang 20 meter itu.

Situasi tegang bukan hanya karena kebut-kebutan. Tapi juga karena semua polisi di dalam mobil itu sudah mengokang senjata. Iin dan Ivan mengaku tak mampu berpikir banyak. Pasrah saja melewati rencana Tuhan. ”Mungkin karena yang di bukit belum siap menembak, jadi kami aman,” ucap dia.

Rombongan melaju kencang hingga sinyal ponsel muncul. Entah seberapa jauh yang mereka tempuh. Begitu sinyal ada, ternyata Ivan mendapat missed call berkali-kali dari salah seorang petinggi polisi di Jayapura. Ivan menelepon balik. Petinggi polisi itu hendak mengabarkan bahwa ada penyerangan di tempat mereka lewat dan ada korban. Kabar yang terlambat karena mereka sudah melewati jalan tersebut. Namun, yang terpenting, seluruh rombongan selamat.

Asap di gelas yang berisi kopi tiom masih mengepul. Cerita dari keduanya tak berhenti. Perjalanan dongeng di Papua tersebut dimulai 15 Juli tahun lalu. Komunitas Dongeng Dakocan yang bermarkas di Lampung berangkat ke Papua. Tawaran dari Polri itu mereka terima karena memang misi mereka adalah membagi sukacita kepada seluruh anak di penjuru negeri.

Sasaran utamanya adalah anak-anak yang tinggal di wilayah konflik. Anak-anak itu rentan mengalami trauma. Mendongeng dan bermain dianggap sebagai salah satu cara trauma healing. Cerita yang dibawakan adalah yang menyenangkan dan bertema cinta tanah air. Di antaranya, kisah Si Rambut Satu dan Si Rambut Dua, Kakek dan Nenek, juga Empat Sahabat. Tiga cerita tersebut memiliki nilai baik. Tentang keragaman, kasih sayang, kebangsaan, rasa cinta tanah air, kerja sama, sikap saling menghormati, kejujuran, dan kedamaian.

Selain mendengarkan dongeng, anak-anak diajak menyanyi dan menggambar. ”Lagu-lagu kebangsaan seperti Garuda Pancasila dan Berkibarlah Benderaku,” tutur Ivan.

Selain mendongeng, Ivan dan Iin diminta untuk melatih teknik mendongeng. Di Papua, mereka meminta polisi yang pandai bicara dan suka anak-anak. Dua modal tersebut membuat polisi yang terpilih gampang dilatih. ”Latihannya 3–4 jam saja,” ucapnya.

Materi dalam pelatihan itu, antara lain, teknik komunikasi dengan anak-anak, aspek teknik dongeng, dan afirmasi pesan. ”Rencananya, menerbitkan kumpulan cerita anak yang ditulis polisi-polisi itu,” lanjut Ivan.

Komunitas Dongeng Dakocan sudah 16 tahun berkiprah. Perjalanan ke Papua bukan kali pertama bagi Ivan dan Iin. Selain ke wilayah konflik, mereka kerap datang pascabencana. Pengalaman pertama mereka adalah mendongeng untuk anak-anak korban gempa dan tsunami besar di Aceh pada 2004. ”Lebih mudah melakukan trauma healing kepada anak korban bencana ketimbang di daerah konflik. Mereka tidak memiliki dendam kepada siapa pun,” ungkap pria 50 tahun itu.

Kiprah keduanya dalam mendongeng sudah diakui. Komunitas itu pernah melatih lebih dari 8.000 guru dan orang tua di Lampung, Jakarta, dan Bali pada kurun 2007–2018. ”Ini komunitas nirlaba,” ucapnya.

Saat mendongeng, biasanya Iin berperan sebagai penutur. Sementara itu, Ivan memegang alat musik seperti gitar. Ilmu psikologi yang diperoleh Iin membantunya dalam menyampaikan pesan. Ketika ditanya hal yang membuat mereka senang mendongeng, keduanya sepakat bahwa kebahagiaan pada diri anak-anak harus ditularkan. Kebahagiaan bukan hanya milik anak-anak yang hidupnya relatif stabil.

Hampir tiga jam Iin dan Ivan bercerita. Gelas yang berisi kopi tiom sudah tak hangat. Airnya juga sudah tinggal sedikit sehingga terlihat ampas kopi yang digiling kasar. Kopi tiom memang belum sepopuler kopi gayo atau kopi toraja. Namun, kopi tiom mampu menunjukkan kelasnya. Dia memiliki keunikan sendiri. Seperti bocah-bocah di Papua.

Latest news

Related news