33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Mengunjungi Bungker Masa Perjuangan Kemerdekaan di Desa Jatiguwi

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Bangunan ini pernah menyelamatkan banyak pejuang Indonesia. Meski sudah berusia lebih dari 70 tahun, kondisinya masih terawat.

SIDIQ PRASETYO, Malang

DARI luar, bangunan yang berada di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, itu seperti rumah biasa. Begitu masuk, baru terlihat rumah yang berada di Jalan Ir Soekarno 31 tersebut sudah tua. Atap sengnya tampak berkarat.

Rumah dengan ukuran 14 meter x 90 meter itu dibangun dari batu bata yang ukurannya lebih besar daripada batu bata sekarang. Lantainya bukan keramik atau marmer. Melainkan dari batu bata juga. “Rumah ini dulu dibeli Mbah Tukijo dari lurah Jatiguwi pada 1930-an. Kata orang, rumah ini yang kali pertama mempunyai dinding tembok,” ungkap Winarno, 68, keponakan almarhum Mbah Tukijo.

Saat masuk dan meniti ruang-ruang dalam bangunan, hampir semuanya masih orisinal. Hanya ada sebuah kamar dengan sebuah ranjang. Hanya tempat itu yang mengalami renovasi karena pintunya dirasa terlalu pendek. Pintu tersebut dibongkar agar siapa yang masuk ke kamar tak terbentur kepalanya.

Hingga menjelang ujung rumah, sebuah kamar menarik perhatian. Berada di sebelah kanan dekat pintu, ada tangga yang membawa masuk ke ruangan bawah tanah. Anak tangga itu hanya selebar tubuh satu orang. “Tangga tersebut membawa ke tempat yang kata orang-orang namanya bungker. Dulu tempat sembunyi para pejuang Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang,” ungkap Win, sapaan karib Winarno.

Bungker itu, dari cerita yang diterimanya, sudah ada sebelum Jepang masuk ke Indonesia. Pada masa perjuangan, bungker tersebut tak pernah diketahui tentara Belanda maupun Jepang. Sebab, letaknya di bawah tempat tidur atau amben. “Jadi, kalau mau masuk, dulu harus melalui bawah amben. Tidak pernah ada yang tahu karena rapinya menyimpan posisi bungker,” jelas Win.

Bungker itu, terang lelaki yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur, tersebut, setinggi sekitar 8 meter. Dengan ujungnya menuju ke sumur. Pertimbangannya, para pejuang yang berada di dalam bungker bisa mengambil air untuk hidup.

Dulu, tambah Win, sumur tersebut juga tertutup pepohonan. Bungker itu sampai sekarang masih kukuh. Padahal, ungkap dia, dibangun tanpa memakai semen. “Campuran dari pasir, batu bata yang dihancurkan, serta air tebu. Tujuan memakai air tebu untuk merekatkan antar-batu bata,” ujar Win yang pulang ke Desa Jatiguwi karena merayakan Lebaran di kampung halaman.

Di atas bungker ada koran yang ditulis dalam bahasa Belanda. Koran tersebut dipakai untuk menutup atap. Bungker itu nyaris ditutup pihak keamanan. Sebab, tempat tersebut pernah diduga dipakai untuk menyembunyikan anggota partai terlarang. “Tapi, itu tak terbukti. Sehingga tak jadi ditutup,” ucap Win.

Saat berada di bangunan utama bungker, ditemukan beberapa kelelawar. Jumlahnya tak sebanyak dulu. “Saat saya masih kecil, kelelawarnya banyak. Saya sering menembaknya dan dapat banyak,” kenang Hemeep Rama Wijaya, 41, cicit Tukijo. Di masa kecilnya, dia bersama teman-temannya sering masuk dan bermain di dalam.

Meski punya nilai sejarah tinggi, pihak keluarga Tukijo tak berminat menjadikannya objek wisata. Mereka ingin bangunan tersebut tetap utuh seperti semula. Apalagi, belum ada kunjungan dari pemerintah daerah ke bungker itu. Hanya pernah sekali, saudara Hemeep yang datang serta memotret rumah dan bungker. Tapi, setelah itu tidak ada lagi kelanjutannya. “Seperti rumahnya, biarkan seperti ketika ditinggali Mbah Tukijo dulu,” tutur Sri Purnani, 61, cucu Tukijo yang juga ibu Hemeep.

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Ajak Istri Karyawan dan Pensiunan Bisnis Kreatif

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN - Ingin mengajak para pensiuan dan para istri karyawan lebih krearif, PT Telkom Indonesia Witel Pekalongan mengadakan sharing knowledge. Kegiatan ini, digelar...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Pekalongan Dalam Genggaman

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN - Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerjasama dengan Indonesia Indikator, mengembangkan aplikasi Kota Pekalongan Smart City (PSC) yang...

Pincang di Kandang Pendekar Cisadane

SEMARANG – PSIS akan melakoni matchday ketiga mereka di babak 16 besar Liga 2. Tim berjuluk Mahesa Jenar akan melakoni laga tandang versus Persita...

Jangan Munculkan Kader Karbitan

TEMANGGUNG - Menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018, pimpinan partai politik (parpol) di Temanggung diminta lebih jeli dalam menampilkan sosok atau tokoh yang diusung....

Warung Penang, Untuk Pecinta Masakan Melayu

BERAWAL dari kegemaran travelling dan memasak, Stanley Setiawan, memberanikan diri membuka restoran. Menawarkan sejumlah masakan khas Melayu, rumah makan di Jalan Singosari Raya 71...