Totalitas Faris Wibisino Melestarikan Wayang Beber

  • Bagikan

Luar biasa kecintaan Faris Wibisino pada wayang beber. Mengikuti zaman, dia membuat tema dan tokoh kekinian untuk wayang yang pada awalnya digunakan sebagai sarana pemberontakan masyarakat bawah itu. Faris mengubur mimpi menjadi seniman di Bali. Dari desa kelahirannya dia melakukan banyak hal.

Virdita Rizki Ratriani, Wonogiri

WAYANG bukan hal asing bagi Faris Wibisono. Sejak kecil telinganya akrab dengan suara gamelan yang dimainkan di rumah. Buyut dan kakeknya adalah dalang wayang kulit. Sedangkan neneknya seorang sinden.

Faris kecil biasa mendengarkan kisah wayang dari buyutnya.

Membuatnya jadi sangat menyukai seni tradisional tersebut. Namun, ketika dia TK, buyutnya meninggal. “Tidak ada lagi panutan saya. Mbah kakung juga dalang, tetapi beda karakter sama mbah buyut,” jelasnya saat ditemui di Balai Pesunggingan Wonogiri yang didirikannya.

Saat krisis moneter pada 1998, keluarganya menjual perangkat gamelan. Faris tak lagi mendengarkan lantunan musik itu. Dia juga jarang menyimak cerita wayang. Tetapi, hobinya menggambar sketsa dan tokoh wayang yang dilakoni sejak SD tetap dilakukan.

Lulus SMK (sekolah menengah kejuruan), pemuda 27 tahun kelahiran Wonogiri tersebut melanjutkan kuliah di Jurusan Kriya Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di sanalah terjadi episode awal kecintaannya terhadap wayang beber. “Saya melihat bagusnya mural di tembok ISI,” ujarnya.

Bagi Faris, wayang beber memiliki pesona tersendiri. Topik mengenai wayang beber pun diangkatnya sebagai tugas akhir kekaryaan. Dalam penggarapan, dia menemukan sejumlah tantangan mencari rujukan. Banyak yang dia baca, tapi tak ada yang komplet. Belum ada yang menjelaskan secara utuh wayang yang berkembang sejak masa pra-Islam di Indonesia itu.

Wayang beber memang langka. Wayang tradisi dengan cerita Panji dan disungging menggunakan kertas daluang tersebut kini hanya tersisa di dua tempat. Yakni di Desa Karang Talun, Kelurahan Kedompol, Pacitan, Jatim; dan di Desa Gelaran, Kelurahan Bejiharjo, Gunungkidul, Jogjakarta.

Dari segi media, menurut Faris, wayang beber merupakan wayang tertua di Indonesia. Penamaan wayang beber berasal dari cara memainkannya. Pertunjukan dilakukan dengan membeber atau membentangkan gambar wayang yang disungging di atas kertas daluang. Setelah itu lakon diuraikan melalui gambar yang tertera pada kertas atau layar tersebut.

  • Bagikan