33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Duka Keluarga Korban dan Warga di Lokasi Kebakaran

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Teriakan histeris dan isak tangis tak terbendung. Tak ada yang sanggup menerima dengan cepat kenyataan bahwa keluarga menjadi korban tewas secara tragis.

DIVA SUWANDA-TEDDY AKBARI, Langkat

KEHILANGAN istri dan putri pertama sekaligus membuat hati Sofian remuk. Tak pernah dia bayangkan sepanjang hidup akan menghadap polisi untuk mengidentifikasi jenazah orang-orang terkasihnya itu. Wajahnya kuyu.

“Istri dan anak saya jadi korban. Tadi (kemarin, Red) lapor ke petugas ciri-ciri mereka,” kata pria 36 tahun itu di Posko Antemortem Tim DVI Polda Sumut RS Bhayangkara, Jalan Wahid Hasyim, Medan, kepada Sumut Pos.

Sofian bercerita, istrinya, Yuli Fitriani, 35, bekerja kurang lebih empat tahun di pabrik korek api gas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pasar 4, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Langkat, tersebut. Yuli tewas. Begitu pula putri mereka, Sifa Oktaviana, 10, yang hari itu ikut ibunya bekerja. Sofian mengatakan, para pekerja yang didominasi perempuan tersebut memang sering membawa anak masing-masing. “Tapi, seharusnya anak saya dijaga sama neneknya. Kebetulan saja hari ini (kemarin, Red) neneknya ada acara,” tutur Sofian, yang rumahnya tak jauh dari pabrik.

Sofian menyebutkan, saat ditemukan, seluruh korban bertumpuk di balik pintu depan pabrik yang dipasangi teralis besi. Jasad istri, anaknya, dan sejumlah korban lain berpelukan. “Nggak kebayang bagaimana takutnya mereka kala itu. Tidak tahu mau ke mana. Pintu dikunci, jendela terkunci,” tutur Sofian.

Mungkin, papar Sofian, para korban itu hendak keluar lewat pintu depan. Namun, mereka tak kuat mendobrak. Dia sangat me­nyesali kenapa pemilik pabrik tak mem­buat akses alternatif untuk jaga-jaga ketika ada hal buruk. “Seharusnya anak dan istri saya masih bisa selamat,” ucap dia, pelan.

Saat ini dia belum bisa membawa jenazah istri dan anaknya. Petugas masih melakukan identifikasi jenazah yang mayoritas sudah tak bisa dikenali lagi secara fisik. “Yang saya inginkan sekarang hanyalah bisa segera memakamkan mereka,” ujar Sofian.

Warga melihat kondisi rumah yang ludes terbakar. Rumah itu digunakan sebagai pabrik korek api Macis. (Teddy Akbari/Sumut Pos)

Keluarga korban kebakaran lainnya, Sainten, 53, tak kalah terpukul. Dia kehilangan putri­nya, Yunita Sari, 30, dan dua cucu sekaligus. Keduanya putri Yunita, yakni Vinkza Parisyah, 10, dan Runisa Syakila, 2. Hatinya sesak saat melihat mereka meninggal dengan kondisi mengenaskan. Gosong terpanggang. Yunita merupakan anak pertama Sainten. Dia punya tiga adik. “Anak saya empat. Ini adik-adiknya semua ikut,” ungkap Sainten.

Berdasar keterangan Sainten, anaknya bekerja di pabrik itu mulai enam tahun lalu. Tidak ada firasat buruk. “Kami awalnya dikabari bahwa Yunita cuma kecelakaan sama anak-anaknya. Ternyata, kabar lain yang kami dapat,” ungkapnya, sedih.

Namun, menurut Sainten, ada yang tak biasa sebelum ketiganya meninggal. Vinkza sempat mengunggah foto-foto dirinya bersama ibu dan adiknya ke Facebook. “Sempat tadi sebelum kejadian si Vinkza foto-foto sama adiknya dan mamaknya bertiga. Itu pagi-pagi. Seperti pertanda kenang-kenangan,” ungkap Sainten.

Meski berat hati, pihaknya mengikhlaskan kehilangan itu. Namun, yang dia sayangkan, pemilik pabrik mengunci pintu depan. “Ini setidaknya jadi pembelajaran. Jangan lagi ada kejadian begini. Seharusnya pengusaha juga memperhatikan keselamatan pekerja­nya,” tutur Sainten.

Duka juga dirasakan oleh Faisal Riza. Istrinya, Marlina, turut tewas dalam kebakaran itu. Faisal menceritakan, dirinya hendak menunaikan salat Jumat ketika tetangga ramai berujar pabrik terbakar. Rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari pabrik di dalam gang tersebut. “Saya lari, hendak menyelamatkan istri, tapi sudah telat. Ketika sampai, pabrik sudah terbakar habis,” papar dia.

Faisal menuturkan, memang sudah biasa pintu pabrik dikunci dari depan oleh petugas keamanan saat karyawan bekerja. Akses satu-satunya adalah pintu belakang. Diduga, api berasal dari bagian belakang bangunan itu. “Mau tak mau, hanya bisa keluar dari pintu depan,” papar Faisal.

Dia juga menuturkan, pemilik bangunan itu adalah seorang perempuan lansia yang biasa dipanggil Ros. Rumah tersebut disewakan oleh Ros kepada pengusaha yang akhirnya membuka pabrik tersebut.

Hampir semua keluarga korban yang datang ke tempat kejadian perkara (TKP) tak kuasa menahan air mata. Sebagian ber­teriak histeris. Satu di antaranya Irma. Pe­rempuan 40 tahun tersebut terus menangis. Sepupunya, Fitri, menjadi korban bersama anaknya, Sifa, yang merupakan murid kelas IV SD. Irma mengenali mereka dari cincin yang dipakai Sifa. “Tadi, pulang sekolah, Sifa datang dengan membawa minuman untuk ibunya. Mereka meninggal berpelukan di sudut (ruangan, Red) itu,” kata Irma dalam isaknya.

Suryadi, warga sekitar, menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi saat jam makan siang. Dia mengaku mendengar suara ledakan hingga lebih dari tiga kali. Suryadi menyebutkan, pabrik korek tersebut sudah lama beroperasi. “Sudah ada hampir sepuluh tahun. Saya tinggal di samping pabrik itu,” terang dia.

Salah satu keluarga menunjukkan foto semasa hidup korban kebakaran rumah yang dijadikan pabrik korek api Macis. (Teddy Akbari/Sumut Pos)

Salim, warga setempat, mengatakan berusaha memadamkan si jago merah bersama warga lain. Namun, apa daya, api langsung membesar dan menghanguskan seisi rumah itu. “Sebelum pemadam tiba di lokasi, kami bantu padamkan api. Kejadian tidak hitungan menit, tapi hitungan detik,” terang dia.

Salim bersama tetangganya, Andi dan Dana, mendengar teriakan korban. Para korban menjerit minta tolong. “Jeritan jelas terdengar. Jalan keluar hanya dari pintu belakang. Tapi, sumber ledakan dan api di belakang. Mereka tak bisa keluar. Kami pasrah. Bagaimana lagi,” kata dia.

Api yang cepat membesar menjadi pengha­lang warga untuk membantu mendobrak pintu yang terkunci itu. Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran mematikan tersebut.

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bisnis Kreatif

RADARSEMARANG.COM - YUNI Devi Lestari masih berstatus mahasiswi. Namun ia sudah menekuni bisnis kreatif berupa pembuatan buket bunga dan scrap frame. Berawal dari kesukaan...

Minta Gubernur Cabut Izin Pabrik Semen Pati

SEMARANG- Puluhan massa yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menggelar demonstrasi di depan kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Selasa (5/12)....

Tambah Dua Pemain

SEMARANG – PSIS saat ini telah resmi mendapatkan 24 pemain kontrak dan enam pemain magang yang akan bertarung di ajang Liga 2 yang akan...

IAIN Salatiga Kukuhkan Guru Besar Baru

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Prof. Dr. Phil. Asfa Widiyanto, M.Ag. M.A. dikukuhkan menjadi guru besar bidang Ilmu Pemikiran Islam IAIN Salatiga dalam sidang senat. Atas...

Penelitian dan Pengabdian Kampus dalam Masyarakat : Co-Creation For Society

RADARSEMARANG.COM - Kekuatan co-creation sudah lama dikemukakan oleh Prahalad dan Ramaswamy (2004) dalam Journal of Interactive Marketing. Peran co-creation experience menjadi sumber penerapan penciptaan...

Dulu Terkumuh, Kini Kota Terbersih 

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Kabupaten Pekalongan dalam dua tahun terakhir, telah mengalami banyak perubahan di segala bidang. Termasuk menjadi salah satu kota terbersih di Indonesia pada...