Sejak terbentuk 23 tahun lalu, band asal Bali Navicula konsisten membawakan lagu bertema sosial dan lingkungan. Mereka tak merasa perlu mengganti aliran karena terbawa tren. Sang vokalis menerapkan kecintaannya pada lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

DIMAS NUR APRIYANTO, Denpasar

NYOMAN Sirah dengan sigap menerima mik yang disodorkan Gede Robi Supriyanto yang ada di atas panggung Level 21 Mall, Denpasar, Bali. Bait-bait lagu Metamorfosa Kata dilantunkannya dengan fasih. Robi sebagai pemilik lagu tersenyum melihat Sirah. “Saya penggemar Navicula. Suara Bli Robi selalu menjadi obat rindu tentang Bali dan kedamaian,” ungkap Sirah.

Selama 1,5 jam itu Robi membawakan 12 lagu. Selain disibukkan dengan tampil solo, Robi masih aktif manggung bersama Navicula. Band yang didirikan pada 1996 tersebut sudah menjadi bagian hidupnya.

Warna dasar musik Navicula adalah rock. Selain Robi, grup tersebut digawangi Dadang (gitar), Krishna (bas), dan Palel (drum). Kekuatan mereka ada pada lagu-lagu yang dibuat. Sarat dengan pesan lingkungan dan sosial. Liriknya puitis, mudah membuat yang mendengar tergugah. “Navicula dibentuk saat saya dan teman-teman masih SMA,” cerita Robi ketika ditemui di kediamannya di Jalan Nyuh Kuningan, Ubud, Bali.

Ayah satu anak itu tak pernah menyangka bahwa band yang namanya diambil dari sejenis ganggang emas bersel satu tersebut menjadi seperti sekarang. Lagu-lagunya dikenal, terutama bagi pencinta lingkungan.

Di awal karir, belum ada panggung besar yang menampung Navicula. Mereka baru menerima undangan tampil di bale banjar adat. Robi lupa berapa rupiah yang dikantongi saat itu. Materi bukan prioritas Navicula. “Yang penting bisa tampil dulu,” tutur Robi.

Dua tahun setelah terbentuk, mereka meluncurkan album pertama berjudul Self Portrait. Empat tahun berikutnya, Navicula merilis album kedua bertajuk K.U.T.A. Navicula tumbuh di kondisi lingkungan Bali yang beragam, memberi mereka pengaruh pada pembuatan lagu.

Robi begitu mencintai musik. Dalam situs resmi bandnya, Robi menyebut musik sebagai agamanya. Di dalamnya ada filosofi, etika, dan ritual. “Waktu dan uang kami habis di musik. Agamamu adalah di mana uang dan waktumu lebih banyak kaugunakan,” katanya.

Di Navicula, musik rock dipadukan dengan warna musik etnik, folk, psychedelic, punk, alternatif, funk, dan blues. Sejak awal, kata Robi, Navicula berkomitmen membuat lagu yang berbeda. Tidak sekadar menghibur atau menyentuh emosi pendengar. Ada misi yang lebih besar. Lagu mereka memiliki pesan aktivisme dan semangat tentang damai, cinta, dan kebebasan. Hal tersebut mengakar dan menjadi racun yang menyebar ke darah para personel. Tak ada penawarnya.

Menurut Robi, setiap generasi memiliki cerita. Isu yang kuat dalam 30 tahun terakhir adalah lingkungan. Navicula memutuskan bermain dalam tema tersebut. “Orang gampang belanja, tingkat konsumerisme tinggi. Kebijakan-kebijakan anggaran kita berbanding terbalik. Harusnya ekonomi melestarikan lingkungan. Yang terjadi malah ekonomi merusak lingkungan,” paparnya.

Robi sendiri sangat mencintai lingkungan. Hal itu diwujudkannya sehari-hari. Dia selalu menyaring air abu ibadah dengan penyaring air sederhana (waste water garden) supaya tidak mencemari sungai atau selokan depan rumah. Robi juga mengolah sampah organik di rumahnya menjadi kompos. Dia juga sebisa-bisanya tak menggunakan bungkus plastik serta meminimalkan penggunaan detergen hingga kosmetik yang mengandung kimia. Termasuk juga tak mau memakai sabun scrub karena mengandung plastik microbeads.

Robi menganggap alam telah memberikan segalanya. Tidak sepatutnya dirusak dengan penggunaan sampah plastik yang umur penggunaannya biasanya sangat singkat. Sedotan misalnya. Kurang lebih tiga menit saja lifetime-nya. Padahal, begitu sedotan dibuang, alam harus menanggung sampah itu hingga ratusan tahun sebelum hancur. “Di Indonesia, 40 persen limbah plastik lari ke laut. Lalu, 500 juta kantong plastik per hari dihasilkan masyarakat kita. Siapa lagi kalau bukan kita bersama yang menyelamatkan lingkungan?” tuturnya.

Berkat konsistensinya membawakan isu lingkungan selama 23 tahun ini, Navicula sampai dikenal sebagai The Green Grunge Gentlemen. Isu lingkungan menjadi hal vital bagi grup yang pernah tergabung dalam major label Sony-BMG sebelum akhirnya memutuskan untuk bermain di jalur indie lagi itu. Di antara lagu mereka adalah Ibu yang bercerita tentang pemanasan global dan kerusakan lingkungan. Lalu ada Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti. Lagu tersebut berkultur Hari Raya Nyepi di Bali yang berani mem-pause kehidupan selama 24 jam.

Navicula merasa tak perlu berubah haluan hanya karena tren. Mereka tidak takut ditinggalkan penggemar. Dan itu terbukti. Sampai saat ini mereka sudah punya pasar sendiri. “Kami bikin karya yang timeless. Produk timeless itu justru asyik,” ucapnya.

Proyek terbaru yang sedang dibikin Robi adalah film dokumenter berjudul Pulau Plastik. Navicula ikut ambil bagian. Yang menjadi penulis skrip adalah Lakota Moira, istri Robi. Diakui Robi, peran Lakota sangat besar dalam hidupnya. “Aku orangnya terlampau liar soal ide. Nah, Lakota seperti meredam. Memberi saran, ini ide aku kurang bisa dilakukan, harusnya begini dan begitu,” ungkap Robi.

Pada 2007-2012, Lakota membantu Robi mengurus Navicula. Saking asyiknya menikmati kesibukan itu, mereka sempat lupa dengan rencana memiliki momongan. Hingga akhirnya Lakota mundur dari urusan manajerial band.

Kesibukan lain Navicula saat ini ialah merilis single dari album keempat mereka, Alkemis, di platform music player online. Tahapannya masih mengurus izin pada Sony-BMG karena album itu dibuat di bawah label tersebut. Robi menyebutkan bahwa spirit Navicula lebih cocok di label indie.

Kisah demi kisah bersama Navicula melekat dalam hati Robi. Salah satu yang paling dikenangnya adalah rekaman di Hollywood pada 2012. Saat itu ada lima lagu yang diproduksi untuk album ketujuh bertajuk Love Bomb CD-2.

Rekaman di Hollywood menjadi catatan emas Navicula. Kesempatan itu diperoleh setelah Navicula dinyatakan lolos seleksi Rode Rocks Band Competition. Navicula berhasil membuat keok 499 band yang mendaftar. Total ada 500 band yang men­daftar. Penyelenggara hanya mengambil satu band sebagai pemenang dan mendapat hak rekaman di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, tersebut.

Musisi sekaligus anggota Komite Musik Jakarta Aksan Sjuman mengatakan, era bermusik dari para pelaku musik akan dibentuk dari kondisi pasar. Isu lingkungan menjadi salah satu hal yang sedang dilirik pelaku musik.

Personel band Potret itu menjelaskan, setiap kreator pasti memikirkan apa yang sedang terjadi. Kemudian menyampaikan dalam lirik lagu. “Sekarang hype-nya mungkin sedang tentang alam. Karena tidak hanya tentang cinta,” katanya. (*/c9/ayi)