Oki Rengga Winata mengasah bakat membanyolnya semasa masih berstatus pemain di PSMS dan Kalteng Putra. Di show tunggal yang akan dijalaninya tahun depan, dia sudah menyiapkan materi tentang mafia bola.

FARID S. MAULANA, Jakarta

GIANLUIGI Buffon sudah mengingatkan, “Jangan mau jadi kiper.” Tapi, Oki Rengga Winata rupanya tak mau mendengarkan. Mungkin karena penjaga gawang dari Italia itu bukan idolanya.

Jadi, Oki tetap saja memilih menjadi kiper. Tentu saja risiko ditanggung sendiri. Apalagi cuma kiper pilihan ketiga. Cadangannya cadangan.

“Aku kalau main harus nunggu kiper pertama cedera. Itu juga masih ada kiper kedua,” kata mantan kiper PSMS Medan tersebut. “Nah, kalau kiper kedua juga cedera, baru…kiper pertama main lagi karena sudah sembuh cedera.”

Begitulah Oki memindah pengalaman bertahun-tahunnya di lapangan hijau ke dunianya yang baru: panggung stand-up comedy.

Suka duka, manis pahit, yang dirasakannya menjadi materi andalan untuk mengocok perut orang.

Lebih persisnya: lebih banyak duka dan pahitnya. Kiper itu, pilihan pertama pun, kata Buffon, penjaga gawang legendaris Italia tersebut, sudah tak ubahnya badut. Kostumnya beda, main pakai tangan bukan kaki, dan hanya bisa kebobolan, tanpa pernah membobol.

Apalagi cuma kiper ketiga. Dalam panggung yang lain, Oki pernah bertanya kepada penonton, “Ada yang pernah lihat aku main di PSMS?” Penonton serentak menjawab tidak. “Jawaban yang tepat sekali,” lanjut Oki yang juga pernah membela Kalteng Putra, “karena aku ini kiper cadangan.”

Tapi, perpaduan keduanya, sebagai kiper cadangan dan bakat melawak, yang kini justru melambungkan namanya. Pada 2017 dia masuk 20 besar di kompetisi stand-up comedy yang dihelat salah satu televisi. Setahun kemudian, pemuda kelahiran Padang Langkat, Sumatera Utara, 28 tahun lalu itu menjadi runner-up ajang serupa yang dihelat stasiun televisi lainnya.

Pengidola mantan kiper AC Milan asal Brasil Nelson Dida tersebut mulai mengasah bakatnya sebagai komika di Medan. “Saya belajar sama beberapa komika yang berhasil seperti Lolok, Babe Cabita, dan Jeger. Itu pun saya masih main di PSMS Medan lho,” ungkapnya ketika ditemui Jawa Pos di Jakarta pertengahan April lalu.

Kecintaannya pada stand-up comedy tersebut terus terbawa saat pindah ke Kalteng Putra pada 2016. Di Palangka Raya, markas Kalteng Putra, Oki juga sempat bergabung dengan komunitas lawak tunggal itu. Juga dengan masih berstatus sebagai personel klub berjuluk Laskar Isen Mulang tersebut.

Puncaknya terjadi pada 2017. Saat itu tim yang dibelanya, Pro Duta FC, memutuskan mundur sebelum kompetisi berakhir. Oki pun nganggur. Akhirnya dia memutuskan ikut audisi ajang pencarian bakat di televisi tadi.

Dari situ, tekad untuk banting setir jadi komika muncul. Keberhasilannya menjadi runner-up di ajang pencarian bakat setahun kemudian membuka keran rezeki lebar-lebar. Undangan mentas dari satu panggung ke panggung lainnya berdatangan. Yang membuatnya memutuskan untuk bermukim di Jakarta sementara.

Meski demikian, tawaran untuk main bola lagi masih saja ada. Maklum, usianya masih 28 tahun. Tergolong muda untuk seorang penjaga gawang. Buffon, misalnya, di usia 41 tahun masih menjadi kiper utama di Paris Saint-Germain musim lalu.

Tapi, Oki menolak semua tawaran merumput lagi itu. Dia ingin fokus pada karir barunya. “Satu kali manggung saja sama seperti sebulan jadi pemain bola, hahaha.”

Agung Prasetyo, mantan rekan setim Oki di PSMS, mengenang, kiper berambut plontos tersebut memang dari dulu punya bakat mengocok perut rekan-rekannya. “Dulu kalau kumpul tidak ada Oki sepi. Kalau ada dia jadi ramai, lucu orangnya,” ujar Agung yang kini membela Semen Padang.

Sebenarnya karir Oki di sepak bola tidak buruk-buruk amat. Penderitaannya sebagai kiper cadangan hanya dialami di dua klub. Yang pertama di awal karir bersama PSBL Langsa. Itu juga hanya delapan pertandingan. “Umur saya masih muda saat itu. Lulus dari PPL Sumut, saya masuk PSBL,” kenangnya.

Yang kedua semasa di PSMS. Oki kalah bersaing dengan Markus Horison, mantan kiper nomor satu tim nasional. Kini, kalau kerinduannya pada lapangan hijau datang, Oki melampiaskan bersama Komando FC, klub “cari keringat” di Jakarta yang isinya komedian, musisi, dan mantan atlet. “Ada Taufik Hidayat (legenda bulu tangkis nasional, Red). Masih sering main, ya nularin hasrat saja,” jelasnya.

Karirnya sebagai komika tentu bukannya tanpa aral. Materinya tentang kiper cadangan, juga suasana di bangku cadangan, tak hanya mengundang tawa. Tapi juga kritik dari mantan rekan-rekannya di lapangan hijau.

Apalagi, beberapa waktu lalu Oki sempat mengaku pernah jadi pelaku pengaturan skor. Meski hanya bercanda, hal tersebut membuatnya mendapat banyak ancaman.

Salah satu videonya bersama komika lainnya terpaksa dihapus dari YouTube. Sebab, setelah video itu beredar, dia diterpa teror. “Tapi, juga banyak yang dukung. Terutama yang juga kiper ketiga ya. Mereka merasa ada yang mewakili perasaannya untuk ngomong di masyarakat,” jelasnya lantas tersenyum.

Saat ini, selain sedang sibuk manggung, Oki mendapat kesempatan main film layar lebar. Dia menyimpan keinginan pula untuk menghelat show tunggal. Mengikuti jejak komika sukses lainnya seperti Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, hingga Ernest Prakasa.

Rencananya, tahun depan show tunggalnya itu digelar. Materi andalannya kelak tetap tentang pengalamannya sebagai kiper cadangan. Juga, bahan yang “sangat panas”: mafia bola. Tentu dengan segala risiko yang akan dia hadapi. Oki ingin membuka mata masyarakat bahwa mafia bola benar-benar ada di sepak bola Indonesia. Dengan cara humor. Dengan hal-hal yang menyenangkan.

“Saat ini sepak bola Indonesia sudah berkembang lebih baik. Saya akan tetap berperan di dalamnya dengan cara yang berbeda,” tegasnya.

Sebab, Oki sudah tak berharap bisa kembali merumput secara profesional. Pernah suatu saat hasrat untuk main bola lagi itu begitu tinggi. Oki pun akhirnya mengontak beberapa kenalan pelatih.

Apa jawab mereka? “Pelatih-pelatih itu ngomong, nanti kamu malah melawak di lapangan, hahaha,” ungkapnya.