Di Tobucil & Klabs, buku-buku bertemu dengan pernik hobi kerajinan, kelas menulis, dan diskusi filsafat. Memilih untuk tetap jadi kecil, tanpa sokongan perusahaan besar dan donatur.

AGAS PUTRA HARTANTO, Bandung

TAK ada Meg Ryan dan Tom Hanks di sana. Juga, sisi-sisi glamor kawasan elite ala Manhattan.

Yang ada di bangunan lawas di Jalan Panaitan 18, Kebon Pisang, Bandung, itu adalah kehangatan sebuah toko buku. Kecil memang, tapi tenang dan bersahabat.

Seperti The Shop Around The Corner, toko buku kecil di film You’ve Got Mail yang dikelola Kathleen Kelly. Tempat yang, mengutip Kelly yang diperankan Ryan, “tak perlu menawarkan diskon dan latte hanya karena mayoritas pekerjanya tak pernah membaca buku.”

“Yang kami tawarkan di sini sebenarnya literasi beyond books,” ucap Tarlen Handayani, pendiri Tobucil & Klabs, nama toko buku dengan hanya dua ruang berukuran sekitar 7 x 5 meter sebagai tempat berjualan buku itu.

Tobucil, akronim dari toko buku kecil, memang bukan sekadar tempat berjualan buku. Ada juga pernak-pernik hobi kerajinan. Serta wadah berkumpulnya komunitas kreatif di ibu kota Jawa Barat itu.

Sesuai namanya, klabs, yang berarti kegiatan obrolan santai, tempat tersebut menjadi tempat workshop dan menggelar berbagai kelas. Mulai kelas menulis, public speaking, diskusi filsafat, hingga merajut.

Sejak mendirikannya pada 2 Mei 2001, Tarlen memang mengusung misi untuk meningkatkan literasi dan membentuk kemandirian. Menurut Tarlen, literasi tidak melulu soal membaca buku, literatur, maupun kajian. Tapi, lebih pada menyadari potensi diri untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki.

Dan, di usianya yang sudah 18 tahun sekarang ini, idealisme itu tetap dijaga. Tobucil bertahan tanpa dukungan perusahaan besar maupun donatur yang mengucurkan dana. Meski jaringan toko buku besar seperti milik Joe Fox yang diperankan Tom Hanks dalam You’ve Got Mail terus menggurita.

Sebagian koleksi buku dan hasil kerajinan yang dijual di toko buku tersebut.
(AGAS PUTRA HARTANTO/JAWA POS)

Tobucil menggaji karyawan dengan berjualan buku, alat tulis, kerajinan, serta pernak-pernik karya komunitas yang dititipkan ke toko. Penyewaan tempat untuk workshop juga menjadi pemasukan. Meski sedikit. Sebab, uang bayaran tersebut 80 persen untuk pengajar, sedangkan hanya 20 persen yang masuk ke kantong Tobucil. Sekadar biaya administrasi pinjam tempat.

“Jadi, guru yang mengajar di sini juga mendapat kompensasi. Ya, pembagiannya adil aja,” terang Tarlen pada awal April lalu.

Tarlen sosok yang sangat mencintai buku. Alumnus ilmu komunikasi jurnalistik Universitas Islam Bandung itu sampai mengambil kursus intensif belajar menjilid buku hingga ke luar negeri. Itu berawal dari pengalamannya di Amerika Serikat tahun 2008.

Saat itu Tarlen mendapat beasiswa pertukaran kebudayaan dari Asian Cultural Council. Selama empat bulan dia menetap di New York. Salah satu kelas yang diajarkan adalah menjilid buku.

Sepulang ke Indonesia, Tarlen terus mencoba bereksperimen dan mengasah keterampilannya itu. Hingga pada 2018, dia bertolak ke Kanada untuk kembali mendalami penjilidan buku. “Di Amerika itu ilmu dasar. Nah, mastering-nya di Kanada,” jelasnya.

Dari awal dibentuk, Tobucil digunakan sebagai tempat untuk bisa merawat keberagaman. Terbuka untuk siapa pun. Siapa saja yang punya niat menghargai toleransi bisa berkegiatan di sana. “Seumpama ada klien yang ingin menggunakan tempat kami, bicarakan aja materinya. Kira-kira cocok apa nggak,” katanya.

Ya, meski terbuka untuk siapa saja, demi komitmen menjaga idealisme, Tarlen harus selektif. Ada tiga hal yang dihindari dan tidak bisa dilakukan di tokonya. Yakni, kegiatan multilevel marketing, politik praktis, dan kampanye keagamaan.

Andiani Cincy, seorang warga Bandung, mengaku lebih mengenal Tobucil sebagai toko pernak-pernik hobi kerajinan yang menyediakan bahan rajut. Saat ditemui Jawa Pos pada suatu sore di awal April lalu itu, dia tampak asyik mengamati bahan rajut.

Banyak pilihan memang. Benang warnawarni, jarum, dan bahan rajut lainnya tersusun rapi dalam beberapa rak yang disusun bertingkat di depan kasir. “Paling oke sih di sini. Ada juga toko lain, tapi nggak bagus bahannya,” katanya.

Deretan bukunya pun demikian. Sangat beragam. Di antaranya, sosial, politik, sastra, dan budaya. Sebagian koleksinya sulit dicari, baik di toko buku fisik maupun daring. Salah satu yang dibeli Jawa Pos adalah Memberi Suara pada yang Bisu, buku karya Dede Oetomo terbitan 2001 yang tak gampang dicari saat ini.

Kesetiaan meniti jalan idealisme itu tentu mendatangkan berbagai konsekuensi. Tapi, toh Tobucil tetap hidup sampai sekarang. Tetap didatangi mereka yang mencintai buku, menggemari rajutan, atau menyukai diskusi yang menjunjung toleransi.

Barang dagangan laku, baik yang datang langsung maupun melalui pesanan. Tobucil juga tidak akan membuka cabang di Bandung atau kota mana pun di tanah air.

Dengan penuh kesadaran, Tobucil & Klabs memilih untuk tetap kecil seperti ini. Tarlen ingin mengirim pesan kepada semua orang bahwa selama konsisten dan istiqamah menjalani kebaikan, walaupun kecil, tetap akan ada dampaknya.

Sebab, bagi dia, kesuksesan sebuah usaha tidak selalu harus diukur dari besar kecilnya. “Siapa yang mengharuskan (memakai ukuran kesuksesan besar kecil, Red) itu? Tidak ada. Kecuali tuntutan orang lain,” katanya.

Sebab, yang menjadi tujuannya adalah merawat ruang keberagaman itu. “Kami ingin membuktikan bahwa kemandirian, sekecil apa pun itu, bisa dilakukan. Bisa mempunyai dampak jika dilakukan terusmenerus,” katanya.

Dalam You’ve Got Mail, The Shop Around the Corner memang akhirnya harus sampai ke garis finis. Tapi, Tarlen yakin Tobucil akan terus hidup. Dia sudah membuktikannya selama 18 tahun ini. Tanpa harus menawarkan diskon dan latte.