36 Tahun Radio Suara Surabaya Mengudara

  • Bagikan

Suara Surabaya (SS) tidak hanya menjadi media yang memberikan informasi dan hiburan. Radio dengan frekuensi lokal 100 FM itu sudah menjadi komunitas. Ratusan ribu citizen journalist ikut berpartisipasi dalam perjalanan udara mereka yang genap memasuki 36 tahun kemarin (11/6).

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

EMPAT unit monitor terpampang di ruang kaca berukuran 2 x 4 meter. Letaknya di lantai 2 gedung utama SS Jalan Wonokitri Besar No 40 C. Tiga perempuan sibuk dengan keyboard, mouse, dan mikrofon. Di ruangan seberang, ada seorang lelaki dengan headphone yang fokus menyiarkan berita.

Itu merupakan ruang gate keeper SS. Ruangan itu termasuk yang paling sibuk. Ribuan telepon maupun pesan singkat yang masuk difilter di ”bilik” tersebut setiap hari. Setelah itu, informasi diseleksi sebelum disiarkan.

Wisnanti, supervisor gate keeper SS, tampak berdialog dengan Iman Dwi Hartanto di ruang seberang. Dua penyiar senior itu tengah melaporkan kondisi lalu lintas di sejumlah titik di wilayah Surabaya sambil berdialog Menurut Wisnanti, gate keeper merupakan tempat para pendengar SS menumpahkan emosi. Baik marah, sedih, maupun gembira. ”Jadi, tidak langsung disiarkan ke udara. Kami filter dulu di sini (ruang gate keeper, Red),” jelasnya saat ditemui di sela perayaan ultah SS kemarin (11/6).

Perempuan kelahiran 1970 itu menyebut SS ingin menjadi solusi atas masalah pendengar. Dia mencontohkan kasus hilangnya mobil KIA Picanto di parkiran Plaza Surabaya pada Sabtu lalu yang berhasil digagalkan berkat kerja sama pendengar, polisi, dan tim gate keeper.Ibu dua anak itu menyebut banyak cerita dari pendengar SS di ruang gate keeper yang tidak diudarakan. Wisnanti mengatakan sudah kenyang dengan omelan pendengar terkait masalah lalu lintas maupun kondisi jalan. ”Sudah biasa jadi sasaran marah pendengar,” katanya.

Tugas personel gate keeper meredam emosi pendengar yang meledak-ledak. Setelah reda, keluhan para pendengar bisa diteruskan ke ruang penyiaran untuk disiarkan ke udara. ”Ada tekniknya. Jadi harus bisa mengarahkan para pendengar agar dapat menyampaikan keluhan maupun informasi di lapangan dengan tenang,” paparnya.

  • Bagikan