Dari Jakarta ke Surabaya dengan Bus Melintasi Tol Trans-Jawa

  • Bagikan

Bagian jalan tol yang masih cor semen dan minimnya penerangan di sejumlah titik harus jadi perhatian para calon pemudik yang akan melintasi tol dari Jakarta ke Surabaya.

Agas Putra hartanto, Jakarta

DI pinggir tol Bojong, Pekalongan, bus itu berhenti. Toni Budianto, si sopir, bergegas turun sembari membawa semacam bingkisan yang dibungkus tas plastik.

Lalu sedikit menuruni pagar pembatas tol. Sampai tak terlihat lagi. Namun, tak lama. Tak sampai 15 menit, Toni sudah naik lagi, kembali ke kursi pengemudi, dan perjalanan pun berlanjut.

”Istri diantar anak pertama saya nyegat di bawah tol. Ketemu sebentar ngasih uang THR (tunjangan hari raya),” katanya berjam-jam kemudian saat saya ajak berbincang ketika bus mulai masuk Surabaya.

Pada Senin lalu (27/5) dan Selasa siang kemarin itu, Toni bersama koleganya, Bambang Sugiarto, bergantian menyopiri Bus Lorena. Bus yang saya tumpangi bersama fotografer Imam Husein tersebut berangkat dari terminal bayangan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Dengan tujuan akhir Sumenep, di ujung timur Madura.

Bambang mengemudi dari Jakarta sampai Caruban, sedangkan Toni mulai Caruban hingga Sumenep. Dengan bus berpenumpang 40 orang itu, kami menempuh perjalanan melintasi tol trans-Jawa.

Sebenarnya bukan kali itu saja Toni dan Bambang melintasi tol dengan total panjang 840 kilometer tersebut. Sudah berkali-kali, sejak tol itu diresmikan. Tapi, di hari yang sama Senin lalu itu, kebetulan memang ada seremoni pemberangkatan bus trans-Jawa yang mengangkut pemudik oleh Kementerian Perhubungan.

***

Petugas ketika melakukan uji kelayakan bus yang akan digunakan untuk ankgutan mudik Lebaran 2019 di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Tiket bus kelas eksekutif itu dibanderol Rp 485 ribu. Dengan harga tersebut, penumpang mendapat dua kali makan, di Indramayu dan Caruban.

Lengkap dengan selimut dan bantal yang telah disediakan. Bahan kursi terbuat dari kain beludru berwarna ungu. Membuat kursi terasa empuk, nyaman, dan terkesan elegan.

Sayang, lorong penumpang tidak terlalu luas. Hanya cukup dilalui satu orang dengan membawa barang. Kabin bagian dalam bus juga sempit. Hanya mampu menampung tas berukuran kecil. Tak ayal, banyak pemudik yang meletakkan barang bawaan di bawah kursi mereka.

  • Bagikan