Pemkot Ajak Siswa Lihat Bantuan untuk Korban Gempa di Lombok Timur

  • Bagikan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini punya cara tersendiri untuk meningkatkan empati siswa-siswi di Surabaya. Dia mengajak mereka melihat dan menyerahkan bantuan secara langsung kepada korban gempa di Lombok Timur.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, LOMBOK TIMUR

SAAT sepuluh siswa itu turun dari bus, mereka langsung disambut hangat oleh puluhan siswa SDN Obel-Obel 1, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Di halaman sekolah yang baru selesai dibangun ulang dari bantuan warga Surabaya itu, mereka diberi selendang songket.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sudah berada di atas panggung memanggil sepuluh siswa tersebut. Ada lima siswa SDN, yakni Aulia Izza Nailur Rohim, Siti Syahira Hasnainy Putri, Salsabila Anggivia Putri, Abrisam Aidan Wikaskoyo, dan Ghazi Nevan Rasyidan.

Lima lainnya siswa SMPN, yakni Safina Talitha Laksmi Bintarti, Fransisca Julianne Putri Listya Ayu, Aisah Taufiqi Hidah, Herdanto Tri Bagus Sukma Hadi, dan Guntur Satya Perkasa. Mereka diminta untuk naik ke panggung menemani Risma. Beberapa alat olahraga seperti raket, bola voli, bola futsal, dan bola basket pun diserahkan kepada siswa SDN Obel-Obel 1 Bukan langsung dari tangan Risma. Melainkan, lima siswa SD dan lima siswa SMP itulah yang menyerahkannya kepada siswa-siswi SDN Obel-Obel 1. Mereka bersalaman, berkenalan, dan berpelukan. Seolah saudara sendiri. Meski, mereka baru beberapa saat bertemu untuk kali pertama.

”Seneng karena dapat pelajaran. Kita tak boleh sombong karena banyak yang belum tentu sebahagia kita,” ujar Ghazi Nevan Rasyidan yang bersekolah di SDN Manukan Kulon II. Dia ikut bermain bersama siswa SDN Obel-Obel 1. Di antaranya, mendribel bola basket.

Risma mengatakan sengaja mengajak sepuluh siswa-siswi jauh-jauh dari Surabaya itu untuk hadir langsung memberikan bantuan. Sebab, para siswa di Surabaya tersebut turut menyumbang untuk pembangunan gedung SDN Obel-Obel 1 yang sudah jadi dan bercat cokelat muda itu.

”Ada yang urunan Rp 2.000, tapi pecahan Rp 500-an. Ada yang Rp 5.000, tapi pecahan Rp 1.000-an. Artinya, anak-anak menyisihkan dari uang saku mereka untuk membantu,” ungkap Risma setelah serah terima di SDN tersebut. ”Kami ajak anak-anak ke sini untuk melatih mereka peduli pada penderitaan orang lain,” imbuh Risma.

  • Bagikan