Di Balik Layar Rekapitulasi Hasil Pemilu yang Kuras Tenaga-Pikiran (1)

  • Bagikan

Nyemil kuaci dan mengonsumsi suplemen adalah sebagian cara para personel Bawaslu menjaga konsentrasi dan stamina. Keluarga sudah paham, janji dengan sang bapak pasti tentatif: sewaktu-waktu berubah.

Bayu Putra, Jakarta

RUANG rapat pleno utama Komisi Pemilihan Umum (KPU) begitu sibuk. Rekapitulasi pemilu untuk wilayah luar negeri tengah dilangsungkan. Semua pihak sudah menempati meja masing-masing.

Termasuk Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan. Sebagai pengawas, dia harus memastikan tidak ada aturan yang dilanggar saat pelaksanaan rapat pleno terbuka pada Sabtu (4/5) dua pekan lalu itu.

Di tengah perdebatan mengenai penggunaan hak pilih dan kelelahan yang mulai menghampiri, konsentrasi peserta rapat mulai agak kendur. Saat itulah staf Bawaslu menyodorkan sebungkus camilan kepada Abhan. Camilan tersebut berbeda dengan kue yang sejak awal disajikan KPU. Itu adalah senjata andalan Bawaslu di kala rapat: kuaci.

Rekapitulasi hasil pemilu tingkat nasional yang berjalan sejak 4 Mei lalu memang sangat menguras tenaga dan pikiran para anggota Bawaslu dan KPU. Rapat-rapat maraton yang membutuhkan stamina prima dan konsentrasi tinggi harus mereka jalani.

Untuk itu, berbagai cara pun ditempuh personel dua lembaga tersebut agar tetap bisa menjalankan tugas, seberapa lelahnya pun. Sepanjang jalannya rapat pleno pada Sabtu dua pekan lalu, misalnya, Abhan tidak berhenti membuka dan mengunyah kuaci.

Begitu pula anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin yang duduk di sebelahnya. Sembari menyimak jalannya rapat pleno, keduanya tidak henti mengunyah jajanan yang cukup populer di kalangan siswa sekolah dasar dan menengah itu. “(Kunci) untuk menghilangkan rasa kantuk itu ya kuaci ini,” ungkap Abhan saat ditemui di KPU, Jakarta, kemarin dini hari (21/5).

Kebiasaan itu pun berlanjut pada rapat pleno di hari-hari berikutnya. Saat masuk bulan Ramadan, kuaci tetap tersedia. Camilan tersebut disediakan untuk sesi pleno malam yang berlangsung setelah salat Tarawih. Saat itulah jam-jam rawan menurunnya konsentrasi.

Ide awal camilan kuaci tersebut datang dari jajaran Bawaslu provinsi. Mereka selalu makan kuaci ketika rapat, khususnya yang potensial berlangsung lama. Cara itu diterapkan saat rapat pleno rekapitulasi. “Mulut tetap beraktivitas, tangan beraktivitas, tetap konsentrasi, karena makan kuaci itu,” lanjutnya.

  • Bagikan