Sejak 2012, Saiful Mujib Ma’ruf ingin memberikan sentuhan berbeda dalam lukisan-lukisannya. Caranya menggunakan teknologi seperti RFID passive & active, NFC, snapcode, barcode, dan QR code dalam karyanya. Ada yang ditanam dengan rapi, ditempelkan, atau bahkan dilukis ulang.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

SEKILAS, lukisan itu mirip lukisan barong Bali biasa. Ketika diperhatikan lebih teliti, ada beberapa QR code yang dilukis pada untaian kain hitam-putih di sisi kepala barong. Beberapa QR code tersebut bisa mengantarkan penikmat lukisan ke beragam informasi tentang Indonesia.

Lukisan berjudul Nuswantara itu tidak ada di Indonesia. Kini lukisan tersebut dipajang di galeri seni Konsulat Jenderal Indonesia di Houston, Amerika Serikat. Lukisan itu bisa dibilang paling sulit bagi Saiful. Masalahnya, banyak sekali data yang berusaha disisipkan dalam lukisan. “Lukisannya memang barong biasa, tapi banyak sekali code yang harus ditanam,” ucap pria asal Surabaya tersebut.

Setiap QR code yang ditampilkan menyimpan informasi yang berbeda. Caranya mudah saja. Cukup arahkan kamera dan aplikasi pembaca QR code di telepon genggam ke QR code pada lukisan Informasi yang dimaksud bisa muncul secara otomatis. “Ada video tari remo, ada juga daftar lokasi wisata yang terkenal di Indonesia, bahkan lagu Indonesia Raya,” ujar ayah empat anak tersebut.

Itu hanya salah satu lukisan Saiful. Tidak hanya menggunakan QR code, Saiful juga menggunakan RFID, NFC, dan barcode. Semuanya punya karakter berbeda sehingga membuat Saiful bisa berkreasi sesuka hati. Misalnya, barcode menyimpan data yang lebih simpel, yaitu hanya 20 karakter. Bentuknya yang terdiri atas garis batangan yang berdempetan punya tingkat kerumitan lebih rendah daripada QR code.

Saiful mengaplikasikannya pada sebuah lukisan berjudul My D Code. Jika barcode di-scan, laman pencarian nama Saiful Mujib Ma’ruf di Google akan muncul dalam sekejap. “Jadi, orang bisa tahu informasi apa pun tentang saya atau artikel-artikel tentang saya,” papar pria kelahiran Jombang tersebut.

Untuk menanamkan informasi dalam QR code, snapcode, dan barcode, Saiful perlu melukis ulang kode-kode tersebut dalam lukisan. Pertama-tama, Saiful harus tahu sumber informasi apa yang akan ditampilkan saat kode terbaca. Sumber informasi tersebut kemudian didaftarkan secara online agar mendapatkan QR code atau barcode.

Baru kemudian kode tersebut diperbesar hingga bisa dilukis. “Makanya lukisan yang pakai teknologi ini pasti ukurannya besar. Mau kecil-kecil kan sulit sekali,” tutur pria yang menekuni dunia lukis sejak 1987 itu. Jika salah penempatan garis hitam dan putih, kode pasti tak akan terbaca. Alias usaha penanaman kode akan sia-sia.

Berbeda halnya dengan RFID dan NFC. Keduanya bisa ditanam di dalam lukisan atau sekadar ditempelkan di balik lukisan. Tak perlu kode kasatmata yang dipindahkan ke dalam lukisan akrilik. Informasi yang dimuat lebih banyak dan bisa diubah-ubah setiap waktu. Namun, tidak semua ponsel bisa digunakan untuk membaca kode tersebut. Hanya ponsel yang sudah dilengkapi fitur tertentu yang bisa. “Kalau NFC, ponselnya ditempelkan. Kalau RFID aktif, bisa dari jarak 7 meter sudah terbaca. RFID pasif, lebih pendek jaraknya,” paparnya.

Saiful mulai melirik kolaborasi dengan teknologi pada 2012. Saat itu, dia sedang berada di Prancis untuk berpameran. “Lalu, ada yang menyentil saya kalau hanya buat realis, itu sudah ada ratusan tahun lalu. Biar berbeda, pelukis Indonesia harus apa sih?” kenangnya. Apalagi, dia membawa visi berkarya dari Nuswantara untuk Dunia. Dia tidak ingin seniman hanya berkarya untuk menjual lukisan, tapi juga muncul sebagai pembeda dari Indonesia untuk dunia.

Menurut dia, realis bukan ciri khas Indonesia. Saiful juga berusaha menilik karya-karya seni asli Indonesia. Misalnya, batik. Motif batik tak tersusun dari bentuk realis, tetapi simbol-simbol yang punya makna besar. Di situlah tercetus ide untuk ”menanamkan” kode dalam karyanya.

Kode tersebut tetap harus tersampaikan dengan baik kepada penikmat lukisannya. Melihat ponsel yang merajalela, teknologi bisa jadi solusi. Apalagi, dia biasa mengutak-atik gadget sejak paro akhir 1980-an. “Karena usaha percetakan, reparasi mesin tik juga. Jadi, belajar utak-atik di situ sampai beli komputer sendiri,” imbuhnya saat ditemui Kamis (16/5).