Perjuangan Congrock 17 Melestarikan Musik Keroncong

  • Bagikan

Mempertahankan tradisi sekaligus berkreasi di saat yang bersamaan bukanlah hal mudah. Tantangan-tantangan besar pernah dihadapi grup Congrock 17 demi melestarikan musik keroncong.

Shabrina Paramacitra, Semarang

MARCO Marnadi teringat akan konser bertajuk “Ayo Kumpul, Nyanyi, Njoget Bareng” pada 24 April lalu. Konser yang diadakannya bersama grup Congrock 17 di Semarang tersebut berjalan sukses.

Itu bukan sekadar konser biasa. Ada misi khusus. Sebab, konser tersebut sengaja diadakan untuk menyatukan pendukung pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden 01 dan 02. Para pendukung kedua paslon dari semua partai hadir dalam konser tersebut. Mereka membaur. Bersama-sama menikmati alunan musik. “Konser itu diadakan untuk mencegah perpecahan,” kata Marco.

Pada awal Juli nanti, Congrock dijadwalkan manggung lagi. Tapi dalam tujuan event berbeda. “Kali ini mengundang musisi keroncong nasional, Malaysia, dan Amerika Serikat,” ungkap Marco yang juga salah seorang vokalis Congrock 17 kemarin (13/5).

Congrock 17 memang bukan grup keroncong biasa. Aneka aliran bisa mereka bawakan dalam balutan keroncong. Akhir Maret lalu Jawa Pos berkesempatan menyaksikan grup itu manggung dalam sebuah pesta pernikahan. Lagu Can’t Help Falling in Love begitu enak dibawakan. Lagu yang dipopulerkan Elvis Presley tersebut sebenarnya cenderung bergenre pop. Namun, nuansa keroncong begitu kental membalut lagu itu. “Sekarang kita ganti lagu yang lebih nge-beat ya,” kata Pipit Dila, vokalis grup tersebut, kepada para tamu yang hadir di MAC Ballroom Semarang akhir Maret lalu.

Sekejap kemudian, Dila dan para personel Congrock 17 beralih membawakan lagu lain, Ticket to Ride. Lagu The Beatles itu kembali dibawakan dengan irama keroncong.

Ya, begitulah karakter Congrock 17. Konsisten membawakan lagu apa saja dalam balutan musik keroncong. Uniknya, musik yang dibawakan tak sebatas keroncong pakem. Keroncong-rock, keroncong-pop, keroncong-dangdut, keroncong-jazz, semua aliran musik seakan bisa dilahap. Hanya, benang merah musik keroncong tak pernah lepas. “Aku memang dasarnya penyanyi all genre. Jadi, aku bawakan lagu-lagu dengan iringan musik keroncong, tapi dengan style aku sendiri,” jelas Dila saat istirahat di sela-sela acara. Dia bergantian tampil bersama tiga vokalis lainnya.

  • Bagikan