Saya Melawan Takut dengan Doa, Bercanda, dan Bersyukur

  • Bagikan

Setahun berselang, Ahmad Nurhadi yang kaki kirinya hancur dan matanya terkena serpihan bom terus bersemangat memulihkan kondisi. Sedangkan keluarga Bayu, sang kawan yang jadi korban meninggal, terus merawat kenangan tentang mendiang lewat studio fotonya.

DENI M.-GALIH A.P., Surabaya

KAKI kirinya yang hancur harus dioperasi enam kali. Penglihatannya juga terganggu.

Tapi, Ipda Ahmad Nurhadi ikhlas menerima semua itu.

Salah seorang korban tragedi bom Surabaya persis setahun lalu tersebut tetap bersyukur. Dia masih bisa menghabiskan hari-hari bersama sang istri, Nunung Ivana, dan si buah hati, Aqiella Nadia Safwa.

“Saya melawan takut dengan doa, bercanda dengan keluarga, dan banyak bersyukur,” kata dia kepada Jawa Pos yang mengunjungi kediamannya Sabtu lalu (11/5).

Nurhadi menjadi korban bom saat berjaga di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Kaki kirinya hancur sedalam 12 cm. Percikan mesiu bom mengenai kedua matanya.

Hari itu bom menyalak di tiga gereja di Surabaya. Dengan pelaku berasal dari satu keluarga. Keesokan harinya, satu keluarga lain dengan mengendarai dua sepeda motor meledakkan diri di pos penjagaan Mapolrestabes Surabaya.

Ditambah bom yang meledak tanpa sengaja di Sidoarjo karena kecerobohan si perakit, total 25 orang tewas dan 57 lainnya terluka di hari-hari terkelam dalam sejarah Surabaya itu.

Namun, setahun berlalu, berfondasi tekad “Suroboyo gak wedi” (Surabaya tidak takut), ibu kota Jawa Timur itu pulih dari luka. Kembali ke karakternya selama ini sebagai kota yang ramah, terbuka, dan toleran.

Tak ada dendam yang tersisa. Dan, Nurhadi adalah personifikasi yang tepat untuk itu. Dia memang tak akan pernah lupa pada hari kelabu tersebut. Tapi, itu lebih sebagai pengingat.

Terutama untuk mengingat Aloysius Bayu Rendra Wardhana, jemaat gereja yang kehilangan nyawa di hari itu. “Foto ini diambil 30 menit sebelum ke­jadian,” katanya sembari memperlihatkan foto di ponselnya dengan bantuan sang istri.

Dia mengenal baik Bayu dan para jemaat gereja lain. “Saya berteman akrab dengan orang-orang gereja. Karena memang cukup lama ngepam penjagaan di sana,” imbuh dia.

  • Bagikan