BTP

  • Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Hati saya terombang ambing. Kadang pro Ahok. Kadang pro Vero. Kadang bela Ahok. Kadang bela ulama. Kadang senang Ahok. Kadang jengkel Ahok. Kadang percaya garis tangan. Kadang apalah itu garis tangan.

Saat lagi pro Ahok saya kesal pada Vero. Saat pro Vero saya sangat terharu pada sikapnya: yang tidak bicara apa pun tentang omongan, fitnah, hinaan padanya. Demi nama baik mantan suaminya.

Tapi tiba-tiba Ahok hilang. Atau menghilang.
Ada yang bilang Ahok menenangkan diri. Setelah badai menimpanya dari segala arah.

Ada yang bilang Ahok lagi asyik dengan mainan barunya.
Saya sudah terlanjur tidak percaya dua versi itu.

Tapi saya suka satu hal. Dari begitu banyak lalu-lintas medsos. Yang seperti banjir. Datang tanpa saya undang.
Sebetulnya saya suka dua hal. Tapi biarlah yang saya tulis yang satu ini dulu.

Soal BTP.

Sebagai pengganti panggilan Ahok.

Ide mengganti panggilan itu sebenarnya cerdas sekali. Secara ilmu komunikasi. Kalau Ahok memang masih menginginkan dunia politik.

Sebagai bukti bahwa Ahok bukanlah orang yang kaku. Yang hanya maunya sendiri.
Ia orang yang bisa berubah. Bahkan mau nama panggilannya pun diganti.

Tidak ada penjelasan konsultan politik mana yang mengusulkan itu. Atau bahkan ia sendiri yang menghendakinya.

“Saya tidak mau lagi dipanggil Ahok,” katanya. “Panggil saya BTP,” tambahnya.

Ahok telah berubah. Menjadi begitu luwesnya. Orang yang mau mengganti nama adalah orang yang paling fleksibel.

Secara ilmu komunikasi Ahok tentu berharap dua hasil. Setidaknya, konsultannya berharap begitu. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah berubah. Bukan Ahok yang dulu. Yang keras. Yang kaku. Yang ucapannya selalu tajam.

Ia orang yang bisa berubah. Dan mau berubah.

Hasil lain yang diharapnya: Ahok ingin bahwa ia adalah ‘Indonesia’. Bukan ‘Hokkian ren’. Atau ‘Kwangtung ren’. Atau ‘Nanfang ren’.

BTP adalah Basuki Tjahaya Purnama. Bukan Zhong Wan Xue (钟万学).

  • Bagikan