33 C
Semarang
Rabu, 3 Juni 2020

Naik Bus

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Oleh: Dahlan Iskan

Saya putuskan naik bus saja. Dari Konya ke Afyon. Lima jam. Menempuh jalan perbukitan. Pegunungan. Masuk ke pedalaman.

Saya sudah biasa naik bus antar kota. Pun di Amerika: Greyhound. Atau Megabus. Saya ingin tahu yang di Turki ini. Mumpung tidak diuber waktu. Bagaimana sistem bus antarkota di pedalamannya.

Terminal busnya besar dan bersih. Sistemnya masih gabungan: tradisional dan digital.
Penjualan karcisnya masih manual. Masih dilayani manusia. Banyak konter di terminal itu. Penjual karcisnya menggunakan seragam. Sesuai dengan nama perusahaan busnya.

Tenang. Tidak ada nada rebutan penumpang. Silakan saja membandingkan sendiri. Dari satu konter ke lainnya. Mana bus yang lebih baik. Harga yang lebih murah. Jam pemberangkatan yang lebih awal.

Tapi jenis busnya standar. Tidak perlu pilih-pilih. Standar Eropa. Harganya juga sudah standar. Untuk empat jam itu sekitar Rp 120 ribu.

Ruang tunggunya besar. Milik bersama. Apa pun busnya di situ menunggunya. Nyaman. Dilengkapi pemanas udara. Di luar masih penuh salju. Yang turun kemarin.
Di ruang itu ada papan digital. Memberitahukan: bus jurusan mana, berangkat jam berapa, di tempat pemberangkatan nomor berapa.

Penumpang tidak perlu berlama mendekat ke tempat pemberangkatan. Dinginnya bukan main. Tunggu saja di dalam. Sambil belanja. Atau minum-minum di cafe. Lihatlah foto terminal bus di Afyon itu.

Di Amerika terminal busnya kalah. Atau sengaja dikalahkan. Di kota sekecil Afyon terminal busnya nebeng di McDonald. Kalau mau pipis ikut toiletnya McD. Atau tunggu saja di dalam bus.

Di Amerika angkutan bus terasa low class sekali. Di kota besar sekali pun. Di Turki tidak begitu. Terminal bus terasa untuk kelas menengah. Seperti tidak ada kelas bawah di Turki.

Busnya juga bagus-bagus. Seperti standar bus antar kota di Eropa. Jauh lebih bagus dari Greyhoundnya Amerika. Greyhound itu terasa sekali untuk kelas sangat bawah di Amerika. Yang penumpangnya umumnya kulit hitam.

Ribuan kilometer saya mengalaminya. Tidak lebih 5 orang kulit putih yang naik bus.
Beda sekali di Turki.

Di terminal bus Konya, misalnya, ruang toiletnya sangat sangat besar. Lapang. Longgar. Bersih. Saya hitung wastafelnya saja 20 buah. Anda bisa pipis di lima urinoir sekaligus. Tanpa mengganggu orang. Demikian juga untuk yang wanita.

Di kota Afyon terminalnya lebih baru. Cafenya sangat besar. Meja-meja ya ditata seperti di restoran di hotel. Demikian juga tempat penjualan oleh-olehnya. Di Afyon toiletnya tidak gratis. Satu Lira. Sekitar Rp 2.500. Tapi bersihnya seperti hotel bintang empat. Diberi tisu basah pula. Kalau mau, tangan kita bisa diusapi parfum. Saya tidak mau.

Sepanjang perjalanan itu saya tidak tidur. Dari Konya ke Afyon. Empat jam. Atau dari Afyon ke Antalya. Enam jam. Ingin terus memperhatikan lingkungan.

Afyon itu kota di pegunungan. Ketinggiannya sekitar 700 meter. Beberapa bagian kota mencapai 1000 meter. Saya keliling ke perumahan-perumahannya. Ingin memperbandingkan perumahan dari satu kota ke lainnya. Saya ingin sistem perumahan di Turki jadi model.

Di Turki jaringan bus antar kota lebih dominan. Dibanding kereta api. Ini karena jalan antar kotanya istimewa. Mirip jalan tol di kita. Mulus sekali. Dua jalur. Tidak padat.

Jalur Konya-Antalya misalnya. Tidak ada layanan kereta. Konya-Izmir yang begitu penting hanya ada satu kereta. Berangkat petang. Tiba pagi.

Jalur kereta yang populer hanya Istanbul-Ankara. Empat jam. Atau Ankara-Konya. Dua jam.

Untuk dua jalur itu saya pilih kereta. Terasa seperti di jalur Madrid-Barcelona dulu. Kereta Turki memang bikinan Spanyol. Kecepatannya 250/jam. Menurut saya kecepatan seperti itu cukup untuk di Jawa. Surabaya-Jakarta 4 jam. Orang sudah sangat suka. Asal bisa segera.
Saya masih ingin ke Turki lagi. Ke pedalamannya yang di timur jauh: Adana. Yang dekat dengan Syiria. Yang dekat dengan Iran.

Turki tidak menutupi fakta: penduduknya 98 persen Islam. Tapi ideologinya sekuler. Sistem ekonominya neolib. Mal-mal ya besar. Tapi kesenjangan kaya-miskinnya tidak terlihat di mata. Tidak ada kaki lima. Tidak ada perkampungan kumuh yang mencolok mata. Tidak ada becak. Atau ojek.

Saya masih terus bertanya: bagaimana Islam, demokrasi, neolib, pemerataan bisa berjalan bersama.(dahlan iskan)

Berita sebelumyaDaniel di Balik Byton
Berita berikutnyaPetir Jagung

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Pejabat Pemkab Dilatih Kelola Saham

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sekitar 30 Pejabat Pemerintah Kabupaten Pekalongan, yang terdiri dari Sekretaris Daerah, Kepala Bappeda, Para Asisten Sekda dan beberapa Kepala Organisasi Pemerintah...

Polisi Sasar Sekolah, Pasar dan Ojek

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Untuk menekan jumlah pelanggaran dan menyadarkan tertib berlalu lintas dalam Operasi Keselamatan Candi tahun 2018 yang berlangsung sejak 5-25 Maret mendatang,...

Waspadai 4 Bencana Terbanyak

DEMAK-Pemkab Demak selalu siaga dalam mewaspadai 4 macam bencana yang kerap melanda wilayah Demak. Yaitu, banjir, orang tenggelam, kebakaran dan puting beliung. Hal ini...

Sigit Didoakan Dapat Rekom

PURWOREJO–Untuk mengenalkan diri dan menyampaikan visi misinya, bakal calon wakil gubernur Jawa Tengah, Sigit Widyonindito, berkunjung ke kantor DPC PDIP Kabupaten Purworejo, Selasa (3/10)...

Polres Periksa Penyebar Hoax Tawuran Suporter

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Polres Kendal memanggil pemilik akun Facebook yang menyebarkan ujaran kebencian dan berita bohong pada saat terjadi kericuhan antara Suporter Persik Kendal...

Ganggu Pelayanan E-KTP

ANTISIPASI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat melakukan tinjauan di RSUD KRMT Wongsonegoro terkait ancaman virus WannaCry, kemarin. (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang) UNGARAN -...