33 C
Semarang
Kamis, 2 Juli 2020

Di Balik Kemewahan Itu

Another

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru...

Oleh: Dahlan Iskan

Saya merasa beruntung. Pulang dari makan bersama mahasiswa Lebanon itu. Sopir Ubernya keren. Cerdas. Kritis.

Rupanya ia begitu jengkel dengan keadaan ekonomi negara. Sangat tidak suka pemerintahnya.

Ia juga Sunni. Tapi sangat tidak suka perdana menterinya: Saad Hariri.

“Tapi kan ia terpilih lagi. Meski perolehan kursi partainya merosot drastis” kata saya.

“Uang, uang, uang,” katanya.

Saad Hariri memang didukung orang-orang kaya. Ia sendiri masih sangat kaya. Meski tidak sekaya bapaknya. Harta bapaknya sudah dibagi pula ke adik-adiknya. Yang tidak ada satu pun yang mau terjun ke politik.

Malam itu saya dilewatkan jalan tepi pantai. “Lihat itu,” katanya. Sambil menunjuk gedung tinggi yang belum jadi.

Bukan bangunannya yang menarik. Tapi spanduk besar yang di beber di dinding gedung itu. Dengan tulisan: STOP Solidare.

Kata ‘stop’ berupa lambang merah. Seperti yang biasa dipasang di jalan wajib berhenti.
‘Solidare’ adalah badan usaha gabungan: swasta dan pemerintah. Perusahaan real estate yang besar sekali. Seperti awal Pembangunan Jaya di Jakarta dulu.

Yang membentuk Solidare adalah Rafic Hariri, perdana menteri saat itu. Ayah Saad Hariri. Perdana menteri saat ini.

Tugas perusahaan itu satu: memodernisasi pusat kota Beirut. Bangunan-bangunan lama dihancurkan. Seluas 20 ha. Ditata ulang. Kebetulan bangunan di situ yang hancur. Kena bom bertubi-tubi. Dalam perang yang lalu.

Kawasan itulah yang sekarang jadi Souk Beirut. Dengan mall dan pertokoannya. Hotel-hotel. Bioskop. Galeri seni. Blok-blok baru.

Belum lagi modernisasi itu terwujud Rafic Hariri tewas. Dibom. Di dekat kantornya. Tewas pula 28 anak buahnya. Atau lebih.

Jenazahnya dimakamkan di sebelah masjid Hariri. Bersama korban lainnya. Masjid baru yang besar sekali.

Saya pernah ke masjid itu. Untuk salat zuhur. Dari teras masjid terlihat laut. Dan kapal-kapal pesiarnya.

Di teras masjid tergantung banyak abaya hitam. Atau mirip abaya. Yang ada penutup kepalanya. Seperti jas hujan.

Turis asing boleh masuk ke masjid itu. Asal mengenakan abaya tersebut. Melihat keindahan dalamnya.

Habis salat saya heran: kok ada empat wanita berabaya hitam ngobrol sambil berdiri. Di dalam masjid. Saya hampiri. Ternyata mereka wanita Italia. Turis.

Di pintu keluar pun ketemu: banyak wanita yang ingin masuk. Seperti agak ragu-ragu. Saya ajak bicara mereka. Ternyata dari Perancis. Saya bantu tunjukkan bagaimana prosedur masuk masjid itu. Harus melapisi pakaian turis mereka dengan abaya. Yang tergantung di dinding itu. Lalu copot sepatu. “Ada tempat sepatu yang rapi di dalam masjid,” kata saya.

Sebagian wanita itu tidak jadi masuk. “Kalau harus pakai itu saya tidak mau,” katanya. “Saya duduk di sini saja sambil tunggu teman-teman saya” tambahnya.

Saya jadi teringat Masjid Akbar Surabaya. Begitu banyak orang asing yang terkagum arsitekturnya. Suatu kali tamu-tamu dari Tiongkok saya tawari ke masjid Akbar. Melihat dalamnya. Sebagian mereka wanita.

Ternyata tamu-tamu saya itu ditolak. Mungkin karena ada yang hanya pakai rok. Atau karena mereka tidak beragama.

Fasilitas abaya di masjid Hariri Beirut itu jalan keluarnya.

Bukan hanya masjid yang untuk mengenang Rafic Hariri. Ada juga patungnya. Dibangun di suatu taman. Dekat pantai. Persis di depan gedung yang belum jadi itu. Yang ada spanduk besarnya itu.

Keesokan harinya saya ke taman itu. Ingin memotret patung itu. Dengan latar belakang gedung berspanduk STOP itu.

“Aktivis menetang berdirinya gedung itu,” ujar sopir Uber saya. “Itu lambang kerakusan Solidare,” tambahnya.

Pantai, kata mereka, adalah tanah publik. Tidak boleh dikuasai oleh perusahaan seperti itu.
Ternyata ada juga cerita pribadi. Di balik ketidaksukaannya pada Hariri. “Ayah saya dulu rumahnya di pusat kota ini. Digusur Solidare,” katanya. “Sampai sekarang ganti ruginya belum beres.”

Sebenarnya saham keluarga Hariri tidak besar di Solidare. Hanya sekitar 6 persen. Dalam akta pendirian memang ditegaskan: tidak boleh ada yang punya saham di atas 6 persen. Saham Solidare diperdagangan di pasar modal.

Di balik kemewahan memang sering tersimpan kegelisahan, kecemberutan, rasa ketidakadilan dan kemarahan.

Tapi hidup harus terus berjalan.

Pun Lebanon sendiri. Sebagai negara.

Padahal semua tetangga Lebanon telah bikin repot. Tetangga terdekatnya. Yang di Utara. Di Timur. Maupun yang di Selatan. Hanya satu tetangganya yang baik. Yang di Barat itu: laut.(dahlan iskan)

Berita sebelumyaSarah’s Bag Itu
Berita berikutnyaKonya

Latest News

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

Tiga Bersamaan

Tiga orang hebat ini punya ide yang mirip-mirip. Hafidz Ary Nurhadi di Bandung, dr Andani Eka Putra di Padang dan Fima Inabuy di Kupang,...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Budi Kaget Orang Telanjang Jatuh Dari Atap

SEMARANG - Warga Kelurahan Kembangarum, Manyaran, Semarang Barat digegerkan dengan seorang pemuda telanjang di dalam rumah warga. Pemuda tanpa identitas tersebut diduga mabuk dan...

Cari 54 Atlet Baru

SEMARANG – Sebanyak 16 cabang olahraga yang ada di program Pemusatan Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Jateng akan menggelar seleksi penerimaan siswa atlet...

Pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter bagi Siswa

PENDIDIKAN memang tak lepas dari makna dan definisi. Dalam dunia pendidikan, banyak sekali istilah-istilah yang dipakai dan memerlukan pembahasan mengenai hal definisi atau pengertiannya....

Tour Leader jadi Tersangka

TEMANGGUNG—Kasus dugaan penyelewengan dana perusahaan di Unit Tour and Travel PD Bhumi Phala (pengelola wisata Pikatan Water Park) bertambah satu orang. Terbaru, Kejaksaan Negeri...

Dapur Bersih dan Kering Jadi Impian

SEMARANG – Dapur kini tidak sekedar sebagai ruang untuk memasak. Sebaliknya di era teknologi modern, dapur justru menjadi ruang komunikasi bagi ibu-ibu, sehingga banyak...

Siapkan Tari Kolosal 400 Orang

MAGELANG – Prosesi budaya Grebek Gethuk akan mebali digelar pada Minggu (16/4) mendatang di Alun-alun Kota Magelang. Acara ini merupakan puncak peringatan Hari Jadi...