Sarah’s Bag Itu

  • Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Sudah lama saya dengar: Beirut adalah Parisnya Timur Tengah. Dari 10 wanita 20 yang cantik. Dalam sejarah disebut negeri Syam – – beribukota di Damaskus. Yang Muhammad selalu berdagang sampai ke sana. Sebelum menjadi Nabi Muhammad SAW. Salah satu negeri tertua pula di dunia.

Hayo, apa lagi?

Tentu masih banyak. Pun sampai awal zaman Islam. Pusat agama-agama ada di Al Kuds. Orang Barat menyebutnya Jerusalem. Orang Islam pun dulunya menghadap ke Al Kuds. Ketika salat. Baru belakangan diperintahkan pindah hadap: ke Ka’bah di Makkah.

Lebanon adalah jalur menuju Al Kuds. Dari Parsi. Dari Bagdad. Dari Tiongkok. Dari Konya (pusat kekaisaran Seljuk). Yang melahirkan Maulana Rumi. Dengan puisi-puisi sufinya. Dari Istanbul. Dari Roma. Dari mana saja.
Beirut adalah serambinya Al Kuds.

Wajar.

Semua peradaban bertemu di serambi itu. Kemajuan ekonomi, hiburan, ilmu, semua ada di situ.
Saya ingat isteri.

Mau diberi oleh-oleh apa.

Rasanya sudah lima tahun. Tidak pernah mengkado ibunya anak-anak saya itu.
Kalau tidak istimewa saya memang tidak mau membeli oleh-oleh. Biarlah istri belanja sendiri.

Dia sudah pandai belanja: di Tanah Abang dan Pasar Santa. Kalau di Surabaya belanjanya selalu di Jembatan Merah. Atau Pasar Soponyono.

Terakhir, waktu di Paris. Saya beri dia kado. Gara-gara heran: kok di luar toko tas itu banyak orang antre panjang. Mengular. Di Hermes. Di SVL. Di Dior. Saya tersedot untuk antre. Tanpa sengaja. Beli dua: untuk istri. Saya masih ingat namanya: Nafsiah Sabri. Dan untuk anak wedok: Isna Iskan.

Keduanya kaget. Setengah mati. Seumur hidup baru kali itu memberi kado. (Kata ‘kado’ selalu dipakai orang Lebanon untuk menyebut oleh-oleh).

Itu lima tahun lalu.

Tidak pernah ada kado lagi.

Kini saya ke Paris lagi: di serambinya. Saya ingin istri saya kaget lagi. Kaget lima tahunan.
Saya tahu: begitu banyak desainer top dunia dari Beirut. Zuhair Murad. Elie Saab. George Hobeika. Abed Mahfoez. Tony Ward. George Chakra.

  • Bagikan