33 C
Semarang
Senin, 21 September 2020

Wardah Tahan Goda

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Oleh: Dahlan Iskan

Masuknya anak-anak muda ke  Wardah seperti bara yang disiram bensin.

Baranya sudah menganga. Siap menyala. Begitu ditumpahi bensin tahulah hasilnya.

Bu Nurhayati bukan tipe orang tua lama: yang tidak mudah percaya pada anaknya. Yang menganggap anak dewasanya pun masih anak-anak. Yang perlu terus disusuinya.

Bu Nurhayati sebaliknya. Sedoktrin dengan saya.
Percaya pada anak muda. Toh anaknya sendiri.

Di tangan anak-anak muda itulah Wardah berubah.
Desain produknya diganti. Lebih modern. Lebih masa kini.
Penampilan modelnya diganti. Artis yang cantik. Saat itu. Berhijab tapi trendy.
Rasanya Wardah lah yang memulai: justru memilih model yang berhijab.

Tulisan Arab ‘wardah’ nya dihapus.

Tahun 2009 adalah tahun melejitnya Wardah.
Saat ekonomi masih sulit. Dampak krisis moneter setahun sebelumnya.
Wardah justru tumbuh pesat.
Sejak itu pertumbuhannya tidak bisa dikendalikan.
“Kami sering tumbuh di atas 100 persen,” ujar bu Nurhayati. “Beberapa kali tumbuh 400 persen,” katanya.

Bagaimana tahun ini?
Ketika banyak pengusaha mengatakan ekonomi lagi lesu? “Wardah masih tumbuh 40 persen,” ujar Bu Nurhayati.

Semua itu tentu menarik perhatian. Termasuk perhatian para pengusaha kosmetik. Pun pemain kosmetik multi-nation al.

Banyak sekali perusahaan asing yang mendekati Wardah. Ingin mengakuisisinya.
Begitulah perusahaan multinasional. Ingin terus berkembang. Dengan cepat. Agar harga saham mereka naik dan naik. Di pasar modal.

Bu Nurhayati tidak mau melepas usahanya. Tidak mau seperti Wella. Tempat kerjanya dulu. Yang akhirnya dibeli asing. Dan nama Wella tenggelam. Atau ditenggelamkan.

Padahal, kalau mau kaya raya, jalan pintasnya sudah tersedia.

Tapi bu Nurhayati ingat 11.000 karyawannya. Yang sudah dia anggap sebagai keluarga.
Tapi begitulah perusahaan multi-nasional. Selalu mengincar siapa saja. Di seluruh dunia.

Apalagi mereka yang posisi pasarnya lagi terancam. Oleh produk domestik. Seperti Wardah.

Pertama: mereka berusaha menyainginya. Dengan segala cara.

Kedua: membelinya. Mengambil alihnya. Kalau langkah pertama itu gagal.

Ketiga: membunuhnya. Kalau perlu – – pinjam syair lagu– dengan cintanya.

Wardah ingin hidup dan berkembang sendiri. Ingin jadi tuan di rumah sendiri.
Kini sudah banyak item yang Wardah nomor satunya. Mengalahkan produk luar negeri. Yang membuat merk-merk asing kian grogi.

Tapi bu Nurhayati realistis. Sebesar-besar Wardah masih tetap kecil. Dibanding mereka. Dibanding pasar kosmetik keseluruhannya.”Kalau pun kami sudah yang terbesar tapi masih di bidang kosmetik dekoratif. Yang hanya  10 persen dari pasar kosmetik secara keseluruhan,” katanya.

Wardah pun ingin meluaskan ke ‘yang keseluruhan’ itu. Agar tidak hanya di bidang kosmetik dekoratif.

Wardah ingin mencicipi juga pasar besar itu. Yang nilai  keseluruhannya mencapai Rp 60 triliun itu. “Kami mulai memproduksi sampo,” ujar bu Nurhayati. “Ternyata memang tidak mudah. Masuk ke pasar mereka.” katanya.

Di medan perang yang lebih besar kini Wardah tahu: lebih sulit. Sambil terus berharap ini:  pertolongan Tuhan yang lebih banyak. (Dahlan Iskan / Habis)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Gelar Kontes Modifikasi Motor

MUNGKID—Rangkaian Milad Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang masih terus berlangsung. Akhir pekan lalu, misalnya, berlangsung ajang Moto Modification Contest (MMC) 2017 Jateng-DIY. Kegiatan tersebut digelar oleh...

Gali Potensi Desa

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Magelang diminta ikut menggali dan mendorong potensi di desa-desa untuk dijadikan objek wisata yang menarik. Tujuannya untuk memperluas kawasan wisata. Permintaan itu...

SS Diminta Perhatikan Pesantren dan Madrasah

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Cagub Jateng Sudirman Said (SS) kemarin siang berkunjung dan bersilaturahmi dengan jajaran pengurus PCNU Demak dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Demak....

Harus Ada Upaya Konkret Untuk GTT/PTT

SEMARANG - Wakil Ketua DPRD Jateng, Ahmadi mengajak seluruh elemen masyarakat terlibat dalam meningkatkan pendidikan di Jateng. Sebab, dengan meningkatkan kualtias pendidikan maka akan...

Siapkan Dua Lokasi Bandara Perintis

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Pemerintah Kabupaten Batang  menyiapkan dua lokasi untuk rencana Pembangunan bandar udara (bandara) perintis. Program pembangunan bandara perintis tersebut dilakukan untuk mendukung program...

PKS Resmi Usung Sudirman Said

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya resmi mengusung Sudirman Said sebagai calon gubernur pada Pilkada Jateng 2018. Pengumuman rekomendasi PKS kepada Pak...