33 C
Semarang
Kamis, 28 Mei 2020

Ke Tambora Lewat Pulau Moyo

Another

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur...

Oleh: Dahlan Iskan

Saya baru saja sarapan soto kambing di Sumbawa Besar. Saya memang suka kangen soto Sumbawa ini. Terutama kepala kambingnya. Disajikan utuh. Di atas piring. Asyik makannya: telinga, mata, lidah, pipi dan semua bagian yang ada di kepala itu.

Lalu saya pun pusing: bagaimana bisa cepat sampai di Tambora. Dengan jalan darat perlu lima jam. Harus memutari teluk. Kalau naik pesawat harus turun di Bima. Bima-Tambora lima jam juga. Pesawatnya pun tidak ada.

Saya putuskan ini: carter speed boat. Memotong teluk itu. Lautnya toh tenang. Terlindung di balik pulau Moyo. Yang membujur memanjang di mulut teluk.

Speed boat menyusuri pantai pulau Moyo: tempat rocker dunia Mick Jagger berlibur. Tempat Lady Di menenangkan hati. Kapan itu.

Kami pun melaju di atas laut. Hanya 1,5 jam. Sudah bisa tiba di Tambora.

Saya kaget: kok di Tambora ada dermaga yang begitu besarnya. Begitu kokohnya. Sudah mirip pelabuhan besar. Tapi tidak ada kapal yang sandar di situ.

Ternyata itu pelabuhan lama. Bekas milik PT Fener. Rakyat masih menyebutnya pelabuhan Fener.

Perusahaan itu sudah lama check-out dari Tambora. Sudah puluhan tahun. Setelah menebangi habis kayu-kayu di Tambora. Diangkut melalui pelabuhan itu.

Saya bayangkan betapa banyak kayu yang dibabat dari Tambora. Sampai untuk mengangkutnya diperlukan pelabuhan begitu besarnya. Begitu permanennya.

Pelabuhan itu sudah lama mati. Tapi bisa jadi daya tarik: bagi yang mau investasi di sini. Tidak perlu membangun pelabuhan lagi. Yang sangat mahal itu.

Di Tambora, untuk membangun pelabuhan sekelas itu tidak mudah. Juga tidak murah. Bisa habis Rp 100 miliar sendiri.

Tentu pelabuhan Fener sangat berguna. Bagi investor baru. Seperti pabrik gula ini. Yang baru dibangun ini. Di dekat Tambora ini.

Pabrik gula di Tambora? Yang gersang itu? Yang nun jauh itu? Oh…setelah ke sana saya paham. Pabrik gula ini tidak hanya menggiling tebu. Tapi juga memasak gula impor. Raw sugar. Menjadi gula kristal.

Pelabuhan Fener itu pun bisa diandalkan. Untuk kedatangan raw sugar impor. Atau pengiriman gula kristal yang dihasilkan pabrik.

Semula saya kagum dengan investor pabrik gula di Tambora ini: Samora Group. Yang selama ini kita kenal sebagai importir raksasa raw sugar. Kok begitu idealisnya. Mau membangun pabrik gula di wilayah yang begitu gersangnya.

Ternyata itu tadi. Pabrik itu juga untuk menggiling raw sugar impor. Ya… sudah. Baik juga.

Siapa tahu. Sambil mengolah raw sugar bisa membina petani tebu lokal. Yang selama ini hanya tahu menanam jagung. Atau menanam pohon mente.

Saya mampir ke pabrik gula itu. Aroma gulanya harum. Aroma dari proses pengolahannya. Pabrik ini bersih. Tidak ada ceceran tebu. Bahkan lagi tidak ada tebu yang dikirim ke pabrik itu. Yang berkapasitas 5.000 TCD itu.

Saya masih bisa belajar satu hal baik dari pabrik ini: sistem kerjasamanya dengan petani.
”Kami menggunakan sistem beli putus,” ujar Joko Handoyo, pimpinan pabrik ini. Yang memang ahli gula. Yang sepanjang hidupnya menggeluti pabrik gula. Mulai dari Kebon Agung malang, Tasik Madu Jogja, Medan, Pati, Blora dan sekarang Tambora.

Di Tambora ini Joko tidak mau ruwet. Menerapkan sistem baru: beli putus. Artinya: pabrik beli tebu saja. Seberapa banyak petani kirim tebu bisa langsung dibayar. Berdasar harga yang sudah ditetapkan.

Itu untuk menggantikan sistem lama di Jawa: petani kirim tebu, pabrik menggilingnya, pabrik mengolahnya jadi gula, baru petani bisa menjual gulanya.

Sistem lama itu ruwet. Sering menimbulkan masalah. Petani tidak tahu: tebu sekian ton yang dikirimnya itu bisa menjadi berapa ton gula. Pasrah saja ke pabrik. Lalu muncul saling curiga.

Ada persoalan rendemen. Ada persoalan efisiensi pabrik. Kalau pabriknya tidak efisien petani ikut menanggung akibatnya.

Petani sering mencurigai pabrik: memainkan prosentasi rendemen.
Dengan sistem baru di Tambora ini tidak ada peluang untuk saling curiga. Simple dan beres.

Tapi belum tentu pabrik gula di Jawa bisa meniru Tambora. Ini persoalan cash flow besar. Pabrik gula harus siap dengan uang besar.

Belum tentu pabrik gula di Jawa punya uang seperti di Tambora.

Dengan sistem beli putus di Tambora itu petani tebu tidak akan ribut. Kegagalan manajemen di pabrik urusan pabrik sendiri.

Bukan berarti petani tebu Tambora tidak pusing.

Persoalannya: di Tambora ini tanah begitu kering. Belum ada pemikiran sistem pengairan baru. Saya lihat ini: tanaman tebu di situ begitu kurus batangnya. Begitu kerontang daunnya.

Perkiraan saya: satu hektar hanya menghasilkan 30 ton. Bandingkan dengan lokasi yang lebih berat di Sumba timur: bisa 90 ton. Dengan teknologi pengairan barunya.

Tambora: yang debu letusan gunungnya pernah menggelapkan langit sampai New York.
Tambora: kini mulai menanam tebu. Apa adanya.(dahlan iskan)

Latest News

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

More Articles Like This

Must Read

Sopir Grab Car Tewas Digorok

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pekerjaan rumah jajaran Polrestabes Semarang mengungkap pelaku pembunuhan kembali bertambah. Kali ini, seorang sopir taksi online Grab Car, Deny Setiawan, warga Margorejo Timur...

Ajak 30 Anak Panti Asuhan Bergembira

SEMARANG - Senyum gembira terlihat dari 30 anak yatim piatu, siang kemarin. Ya, mereka mendapatkan hadiah Lebaran berupa baju baru dari Hotel Ciputra Semarang...

Wujudkan Rumah Kos yang Ramah dan Aman

UNDANG - Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan hak kepada setiap orang untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan...

Beda Varian Teh, Beda Hidangan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Racikan teh belakangan terus berkembang. Aneka variannya menjadikan ritual minum teh semakin nikmat bila dicecap bersama sajian tepat. Coffee & Tea Specialist,...

Bekali Mekanik Servis Motor Trail

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tingginya animo masyarakat terhadap kendaraan off road milik Honda yakni CRF150L membuat Astra Motor Jateng selaku Main Dealer motor Honda di...

Hujan Deras, 1 Tewas

MUNGKID— Hujan deras yang mengguyur wilayah Pakis, Kabupaten Magelang pada Sabtu (11/11) lalu, memakan korban jiwa. Nurwadi, 28, warga Dusun Ketundan, Desa Ketundan, Kecamatan...