33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Lebih Aman dan Jangkauan Luas

Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM-PROSTITUSI online dirasa lebih aman dan efektif menggaet konsumen. Selain itu, lewat dunia maya, jati diri si penjaja syahwat lebih terjaga. Hal ini dibenarkan oleh Sosiolog Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Hermawan Pancasiwi.

Ia menyebut maraknya penggunaan media sosial untuk prostitusi dikarenakan media sosial dirasa lebih aman. Para penjaja tidak akan menghadapi petugas yang melakukan razia. Berbeda jika mereka mangkal di lokalisasi, diskotik, tempat karaoke, maupun tempat hiburan malam lainnya.

“Selain itu, media sosial jangkauannya sangat luas. Media sosial juga fasilitatif dengan kemudahan-kemudahan yang diberikannya,” jelasnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Selain terbebas dari razia, lewat media sosial mereka juga mampu meminimalisasi sejumlah risiko kejahatan. Karena lewat media sosial, mereka lebih leluasa memilih pelanggan. “Ini relatif lebih aman daripada menjajakan secara face to face,” ujarnya.

Baca:

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan mereka akan tergelincir dan salah pilih. Bisa jadi pula, mereka akan mengalami penipuan oleh calon pelanggan, meski kecil kemungkinannya.  “Kalau online belum bisa tatap wajah, baru bisa setelah jumpa darat. Di situ bisa jadi terkecoh. Tapi, relatif lebih kecil daripada transaksi tatap muka langsung,” jelasnya.

Meski media sosial identik dengan kalangan anak muda, Hermawan menjelaskan, bukan berarti pemanfaatan media sosial untuk transaksi prostitusi hanya dilakukan oleh kalangan anak muda saja. Ada pula, mereka yang menggunakan media sosial dari kalangan orang tua.

“Karena transaksi semacam ini tidak perlu kecanggihan. Anak milenial lebih mudah menggunakannya. Tapi jangan salah, orang tua hanya perlu belajar sedikit untuk menggunakan ini dengan tujuan sama,” katanya.

Maraknya perempuan bookingan online berusia anak SMA hingga kuliah ini, menurut Hermawan, biasanya mereka adalah anak muda dengan pergaulan sudah kebablasan. Mereka sudah melakukan hubungan badan sejak masih duduk di bangku sekolah.

Dengan keadaan yang demikian, ditambah pemikiran bahwa tidak ada bagian tubuh yang hilang ketika melakukan hubungan badan, mereka berpikiran untuk sekalian menjajakan tubuh.

“Tapi, tidak semuanya ada keinginan ke arah sana. Itu tadi beberapa alasan mereka yang sudah kebablasan untuk menuju ke sana. Dan mereka difasilitasi media sosial,” paparnya.

Untuk pencegahan, Hermawan berpendapat Kominfo menjadi kuncinya dengan melakukan pemblokiran akun dan situs prostitusi. Selain itu, diperlukan peran sekolah melalui pendidikan formal serta pendidikan informal baik dari masyarakat hingga level paling dasar, yakni keluarga. “Peran mereka penting untuk mencegah prostitusi via media sosial. Terutama oleh kalangan anak muda,” katanya. (sga/aro/krs)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

BUMD  Beri Tali Asih 500 Anak Panti

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bersama Forkompimda dan Baznas memberikan tali asih untuk anak panti asuhan di wilayah Kabupaten Demak. Tercatat ada...

Satpol Razia Rokok tanpa Cukai

WONOSOBO—Kesadaran para pedagang untuk tidak lagi menjual rokok tanpa cukai di Wonosobo, sudah cukup baik. Kepala Seksi Bimbingan dan Penyuluhan, Bidang Penegakkan Perda Satpol...

BRT Dituntut Perbaiki Layanan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Rencana kenaikan gaji sopir Bus Rapid Transit (BRT) diharapkan diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan. Selama ini tidak sedikit warga Semarang yang...

Pesonna Hotel Perluas Pasar

RADARSEMARANG.COM - JAJARAN manajemen Pesonna Hotel Tugu –Yogyakarta yang dipimpim Director of Sales & Marketing, Paula Manik dan Public Relations Manager, Shela Novitasari berofoto...

P3 l Halal Bihalal

RADARSEMARANG.COM - Dengan tema "hadirkan ketulusan di indahnya Fitri" P3 l (persatuan perusahaan periklanan) Jateng mengadakan acara Halal Bihalal bertempat di hotel Gets Semarang...

Mengembangkan Kesadaran Karir Siswa SMK

RADARSEMARANG.COM - KESADARAN karir, atau apa yang diketahui tentang dunia kerja dan jenis-jenis pekerjaan yang mungkin ingin mereka lakukan, adalah dasar untuk eksplorasi karir....