33 C
Semarang
Senin, 13 Juli 2020

Cinta Pertama Berkah Bu Nyai

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Oleh: Dahlan Iskan

Ia akan tetap jadi sopir taksi. Biar pun istrinya jadi dokter. Sebentar lagi. ”Sekarang istri saya lagi pradik pak,” kata Ahmad Maftuh Hidayat. Bangga sekali ia dengan istrinya. Calon dokter.

Saya terlibat pembicaraan gayeng dengan Maftuh. Sopir taksi Blue Bird yang mengantar saya pulang itu.

Ia orang Magetan. Sekampung. Ia lulusan pondok pesantren. Sama dengan saya.

Hanya ia jauh lebih ganteng.  Saya akui saya kalah telak.

Itu pula yang membuat hati Faradiba ‘kalah’. Saat pertama berjumpa. Lalu, kini, jadi isterinya.

Waktu itu Faradiba ingin kuliah. Mendaftar di dua universitas. Negeri dan swasta. Unair dan UWK. Universitas Airlangga dan Universitas Wijaya Kusuma. Dua-duanya di Surabaya.

Hari itu Faradiba mendaftar di fakultas kedokteran hewan UWK. Akan mendaftar lagi ke fakultas kedokteran hewan Unair.

Faradiba pesan taksi. Kontak ke Blue Bird. Dalam sekejap taksi pun tiba. Sang  sopir terkesima. ”Cantik sekali…,” katanya dalam hati.

Maftuh mengaku jatuh cinta. Saat itu juga. Belum pernah hatinya bergejolak seperti itu.

Ia ajak penumpangnya bicara. Dengan penuh sopannya.
Nyambung. Mau diajak bicara.

Saat tiba di lampu merah di Jalan Kedung Doro simpangan ke Kedungsari. ”Saya beranikan minta nomor HP-nya,” ujar Maftuh.

Eh! Diberi. Lega. “Kenapa Anda berani minta nomor HP penumpang?,” tanya saya.

”Saya tidak tahan. Dia cantik sekali,” jawabnya. ”Dia juga baik. Mau melayani pembicaraan saya,” tambahnya.

Belum pernah Maftuh minta nomor HP ke penumpangnya. Ya baru sekali itu. “Kenapa Faradiba mau memberikan nomor HP-nya? Kepada seorang sopir taksi?” tanya saya.

”Saya pernah tanyakan itu. Ketika dia sudah jadi istri saya,” jawabnya.

”Apa jawaban Faradiba?” tanya saya lagi.

”Katanya…. saya ganteng sekali…,” jawab Maftuh.

”Dan katanya… saya baik,” tambahnya.

Sumpah. Ia memang ganteng. Dengan kumis dan jambang yang tipis.

Waktu itu Maftuh berumur 23 tahun. Faradila 21 tahun. Lalu kontak-kontakan. Pacaran. Calon mertua tidak mempersoalkan status pekerjaan calon menantunya. Lebih melihat kepribadiannya.

Tahun itu juga mereka kawin. Tahun berikutnya punya anak.
Sambil Faradiba terus kuliah.
Tidak jadi di kedokteran hewan. Juga tidak jadi di Unair. Meski sudah terlanjur kuliah satu semester.

Pindah ke kedokteran umum. Pindah ke UWK. “Saya yang minta dia untuk ke kedokteran. Masa depan bisa lebih baik. Untuk memperbaiki nasib keluarga,” ujar Maftuh.

Ia tahu. Masuk kedokteran itu mahal sekali. Bagi seorang sopir taksi. Apalagi kedokteran swasta. “Saya akan habis-habisan membiayainya. Kalau perlu biar waktu saya habis di jalan,” katanya.

Untung, katanya, saat itu belum ada taksi online. Masih lebih mudah cari penumpang. ”Sekarang sudah sulit cari uang yang cukup untuk biaya kuliah di kedokteran,” katanya.

”Kenapa bukan Anda saja yang kuliah di kedokteran,” tanya saya.

”Faradila lebih pinter dari saya,” katanya. ”Saya merasa tidak kuat kalau harus kuliah lagi,” tambahnya.

Maftuh hanya pulang 10 hari sekali. Waktunya benar-benar untuk cari penumpang.

Padahal rumahnya tidak jauh. Hanya di Gresik. Tetangga kota Surabaya. Tapi ia berpendapat biaya sedikit pun harus dihemat. Untuk biaya kuliah istrinya.

”Kenapa Anda merasa tidak kuat kuliah?” tanya saya.

”Sudah pernah saya coba,” katanya.

Waktu itu ia mencoba masuk pondok modern Gontor Ponorogo. Yang disiplinnya luar biasa. Terutama dalam mengontrol siswa berbahasa asing: Arab dan Inggris. “Saya angkat tangan,” katanya.

Maftuh percaya pada takdir. Juga percaya pada berkah kyai. Bagi santri yang taat, rendah hati dan punya rasa hormat. Bagi santri yang tawadhuk.

Maftuh seorang santri. Di pondok pesantren Tambak Beras, Jombang. Salah satu pondok ‘bintang sembilan’ di Indonesia.

Delapan tahun Maftuh sekolah di situ. Belajar agama. Belajar berkepribadian. Belajar rendah hati. Belajar kitab kuning –buku yang ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda-tanda baca.

Ia mengabdikan diri ke kyai di situ. Juga kepada bu Nyai –sebutan untuk istri Kyai.

Disuruh apa saja bersedia. Dengan ketulusan tiada tara. Hanya kata ‘ya’ yang ada. Hanya menundukkan mata yang bisa dilakukannya. Delapan tahun lamanya.

Ia percaya semua itu ada berkahnya. Berkah dari Kyai. Berkah dari Bu Nyai –yang sekarang menjadi wakil bupati.

Nyai Munzidah Wahab. Putri kyai besar Wahab Chasbullah. Lalu jadi bupati. Setelah bupatinya ditangkap KPK belum lama ini. Tanpa berkah kyai, katanya, ia tidak akan bertemu sang istri.

Pembicaraan terputus. Taksi tiba di rumah saya. Ia tidak mau dibayar. Kami eyel-eyelan. Akhirnya saya lemparkan uang ke dashboardnya.  Lalu lari masuk rumah.

Ia mengejar saya. Dengan mencopot baju Blue Birdnya. Untuk minta foto bersama. Untuk ditunjukkan ke Faradiba. Saya ganti minta nomor HP Faradiba. Untuk kirim WA kepadanya.

Benarkah karena ganteng?

”Tidak hanya karena ganteng. Saya ingat pembicaraan di taksi dulu itu menunjukkan ia sangat dewasa,” ujar Faradiba.

Itulah impian wanita. Ganteng. Baik. Dewasa. Bukan hanya harta.

Bukan hanya harta? (Dahlan Iskan)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Ambil Untung Sedikit, Yang Penting Pembeli Banyak

Jelang lebaran menjadi berkah tersendiri bagi pelaku bisnis kue lebaran. Tak tanggung-tanggung, keuntungan yang diraup cukup besar. Dua hari jualan, bahkan mampu menarik ratusan...

15 TPS Masuk Kategori Rawan I

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sebanyak 15 Tempat Pemungutan Suara (TPS) Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 di Kabupaten Pekalongan, masuk kategori rawan tingkat I. Hal itu diketahui, setelah...

Bank Century Lagi Hidup Mati

oleh Dahlan Iskan Kasus Bank Century hidup lagi. Mati lagi. Di luar negeri. Lebih tepatnya akan hidup-mati terus. Yang menghidupkan dan mematikannya itu media dari Hongkong:...

Pasar Johar Pindah, Bulu Direnovasi, Jualan Sepi

RADARSEMARANG.COM - Kolang-kaling, hampir tidak pernah absen setiap Ramadan datang. Hampir bisa dipastikan, bahan yang biasa menjadi pelengkap minuman ini selalu tersaji di meja...

AMURT Indonesia Kampanye Orang Tua Bacakan Buku Cerita Anak

Budaya baca di kalangan anak-anak boleh dibilang sangat rendah. Mereka lebih memilih bermain gadget ketimbang membaca buku cerita. Melihat fenomena itu, Ananda Marga Universal...

Libatkan Warga dalam Pembangunan

TUNTANG – Desa Karangtengah, Kecamatan Tuntang, selalu menggandeng warga dalam pembangunan desa. Mulai dari perencanaan hingga akhir, masyarakat selalu dilibatkan untuk mengambil keputusan bersama....