33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Padukan Jawa-Tionghoa, 5 Model Tutup Pasar Seni

Must Read

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sebanyak 5 model berparas rupawan lengkap dengan baju batik bernuansa budaya Tionghoa ini memanjakan puluhan fotografer dari Kota Semarang dan sekitarnya. Kehadiran mereka memeriahkan acara penutupan Pasar Seni 2018 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang mengusung tema Ethnic Urban Photo Hunt, Minggu (2/9) kemarin.

Para model di sebar di 5 titik spot berbeda agar para fotografer dapat menyalurkan kreativitasnya menghasilkan jepretan yang sesuai konsep Ethnic Urban. Komite Fotografi Dekase (Dewan Kesenian Semarang), Markus Bambang menyampaikan event tersebut atas kerjasama dengan komunitas Mata Semarang Photography Club sebagai penyelenggara event Photo Hunting.

“Dekase juga mendapatkan dana dari APBD. Makanya, kami ingin kegiatan ini bisa dinikmati oleh semua pihak, tidak hanya pelaku kreatif di bidang seni rupa, namun juga di bidang fotografi khususnya genre modeling,” kata Markus pada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, tema hunting foto ini memang memadukan budaya lokal Indonesia dengan budaya Tionghoa melalui batik dengan fashion style dari Tionghoa. “Di acara foto hunting ini para fotografer dibebaskan menuangkan imajinasinya dalam karya fotografi dengan model-model yang sudah di-make-up oleh Aldion Soeprijono, sehingga memiliki karakteristik dan orisinilitas budaya Jawa dan Tionghoa,” jelas Markus.

Sementara itu, Divisi Make Up dan Wardrobe, Aldion Soeprijono sengaja menampilkan nuansa budaya lokal yang diakulturasikan dengan budaya modern etnic Tionghoa. “Para model memakai batik Lasem, Pekalongan, Solo, dan Jogja yang dipadukan dengan unsur-unsur budaya Tionghoa seperti pemilihan warna dan modifikasi fashion agar lebih terlihat modern,” ucap Aldion. (cr2/ida)

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This