33 C
Semarang
Selasa, 22 September 2020

Akan Buka Lagi setiap Minggu Pagi

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – KOMUNITAS Generasi Pesona Indonesia (GenPI) membantah jika Pasar Semarangan Tinjomoyo disebut mangkrak. Pasar ini tidak buka sementara lantaran sedang dilakukan evaluasi dan pembenahan manajemen secara internal. Evaluasi ini menyusul sistem pembayaran secara nontuani yang diterapkan di Pasar Semarangan dinilai tidak maksimal.

Juragan Pasar Semarangan yang juga anggota GenPI, Mei Kristanti, menyebutkan, evaluasi ini dilakukan lantaran pihaknya menilai masyarakat Kota Semarang ternyata belum siap dalam penerapan pembayaran digital melalui Tap Cash Semarang Hebat. Ketidaksiapan masyarakat ini berdampak pada penurunan drastis pengunjung Pasar Semarangan.

“Setelah kita evaluasi, ternyata transaksi nontunai belum cocok bagi masyarakat Semarang. Lapaknya juga sedang kita evaluasi. Jadi, tidak benar kalau tutup,” tegas Mei saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (1/9).

Di sisi lain, Mei menyayangkan adanya pihak-pihak yang justru menyudutkan komunitasnya sebagai pengelola dan menyebut jika Pasar Semarangan ditutup. Pasalnya, evaluasi yang dilakukan pihaknya merupakan bagian dari peningkatan bagi Pasar Semarangan.

“Pasar Semarangan ini kan tujuannya untuk bisa meramaikan kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo, dan ini dari komunitas tidak menggunakan APBD Kota Semarang. Pasar Semarangan ini kan bentuk kepedulian kita ke Semarang juga,” terangnya.

Mei menjelaskan, terdapat sejumlah kendala yang telah dievaluasi oleh pihaknya usai berjalannya kegiatan di Pasar Semarangan. Terutama adalah kendala metode pembayaran yang belum bisa diterima masyarakat Kota Semarang. Namun pihaknya memastikan dalam waktu dekat akan segera memulai operasional Pasar Semarangan.

“Nanti tanggal 14 -16 September, operasionalnya berjalan lagi, dengan dua sistem pembayaran, yakni digital dan nontunai dalam bentuk uang pengganti,” jelas Mei.

Operasional Pasar Semarangan akan dimulai berbarengan dengan salah satu kegiatan yang juga digelar oleh pihak ketiga di Kawasan Tinjomoyo bertajuk Festival Land. Ke depannya Pasar Semarangan akan beroperasi setiap hari Minggu mulai pukul 06.00 hingga 10.00.

“Beberapa waktu lalu kan momennya juga masih lebaran, jadi kita gunakan untuk mematangkan evaluasi. Ke depan akan beroperasi setiap Minggu pagi, karena banyak juga yang datang kesana hari minggu,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Litani Satyawati, membenarkan jika saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan GenPI untuk mengevaluasi operasional Pasar Semarangan. Disebutkan, kendala cuaca, waktu dan metode pembayaran di pasar tersebut.

Lita menjelaskan, kendala cuaca dialami Pasar Semarangan saat memasuki musim penghujan. Hal itu lantaran pasar tersebut terletak di lahan terbuka Kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo. Kemudian, saat memasuki bulan Ramadan, hal itu berbenturan dengan jam operasional Pasar Semarangan di hari Sabtu yang buka mulai sore hingga malam hari.

“Jam operasional malam itu karena konsepnya ingin berbeda dari pasar tradisional lainnya, tetapi waktu itu musim hujan dan ketemu bulan puasa, jadi dari vendor yang mengisi lapak itu juga ada saja alasannya untuk tidak buka,” ungkap Lita didampingi Kepala Bidang Kelembagaan Disbudpar, Giarsito Sapto Putratmo, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, kendala yang dihadapi pengelola Pasar Semarangan juga terkait kurangnya komitmen dari pengisi lapak. Dalam perjalanannya, pemilik lapak tak jarang mengajukan izin dengan alasan tertentu, sehingga tidak membuka lapaknya. Kondisi ini terjadi secara kontinyu dan berdampak pada turunnya pengunjung.

Terkait dengan kendala metode pembayaran, Lita juga mengamini ketidaksiapan masyarakat Kota Semarang menggunakan pembayaran digital. Namun demikian, Lita meyakini pihak pengelola telah menjalankan evaluasi, dan akan segera menerapkan metode pembayaran yang lebih bisa diterima masyarakat.

“Nanti ada dua metode, kalau yang punya Tap Cash Semarang Hebat bisa tetap digunakan sebagai pembayaran digital, yang tidak punya nanti pembayarannya dengan uang pengganti. Hal itu juga untuk memudahkan penghitungan pendapatan per lapaknya,” jelasnya.

Kemudahan penghitungan ini nantinya juga akan bisa digunakan untuk modal evaluasi, sehingga pengelola atau juragan lebih tahu lapak mana saja yang sepi dan tidak laris. Kemudian, lapak tersebut akan dievaluasi apa yang menjadi penyebab kurangnya pembeli.

“Apakah karena makanannya yang kurang menunjukkan khas Semarang? Apakah dia menjual dagangannya terlalu mahal? Kita harapkan dari hasil evaluasi ini Pasar Semarangan akan lebih baik ke depannya. Terlebih lagi ke depan hanya buka Minggu, karena hasil survei banyak masyarakat yang ke sana,” katanya. (tsa/den/aro)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Menyelam Itu Asyik

SELAMA kuliah di Universitas Diponegoro (Undip), Zulfa Amalia dikenal sebagai aktivis lingkungan. Ia aktif di kelompok pencinta alam Wapeala Undip. Zulfa kerap ikut kampanye...

Australia Tingkatkan Peluang Investasi

SEMARANG – Australia berupaya meningkatkan kerjasama dengan Indonesia, khususnya di bidang perdagangan dan pendidikan. Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson dalam kunjungannya ke...

Terus Kembangkan Inovasi

KENDAL - SDN 3 Kertosari tak mau kalah dengan sekolah inti di Kecamatan Singorojo. Pasalnya sekolah ini menerapkan sistem pembelajaran inovatif. Buktinya sekolah ini...

Wali Kota Terus Monitoring Layanan BRT

SEMARANG –Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi terus memonitoring Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, terkait beberapa fakta dan keluhan di lapangan yakni keamanan hingga...

Debat Tingkatkan Keterampilan Berbicara

RADARSEMARANG.COM - BERDEBAT tidak selalu negatif, tetapi dapat menjadi kegiatan yang menarik bagi kalangan siswa dan mahasiswa. Dalam pembelajaran debat sendiri,  dapat membuat kita...

Pembebasan Lahan Tol Seksi III 99 Persen

UNGARAN–Pembebasan lahan tol seksi III di ruas Bawen-Salatiga telah mencapai 99 persen untuk bidang. Sedangkan seksi IV ruas Salatiga-Boyolali yang melewati wilayah Kabupaten Semararang,...