33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

Dinyatakan Tempat Bakar Gamping, Ternyata Bangunan Candi

Situs Bersejarah Terselamatkan karena Tulisan Karya Ilmiah Pelajar

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM – Belum banyak yang tahu bahwa di Dukuh Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo terdapat benda bersejarah bernilai tinggi. Berbentuk candi dengan bentuk sudah tidak sempurna.

DYAH AYU FIRDARINI, Sukoharjo

WAJAR jika candi tersebut tidak terlalu dikenal. Sebab sebelumnya kondisinya tidak terurus. Letaknya di pekarangan rumah warga dipenuhi semak belukar. Namun, pemkab melalui dinas pendidikan dan kebudayaan Sukoharjo mulai bergerak dengan mendaftarkan candi itu sebagai benda cagar budaya (BCB) pada 2017.

Beberapa kali penelitian dilakukan pada candi yang diberi nama Candi Sirih tersebut. Sayangnya, hasil penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa tumpukan batu tersebut hanya berupa bekas tobong alias tempat pembakaran gamping atau batu kapur. Ini membuat warga setempat kurang peduli dengan situs tersebut karena dianggap tidak bernilai.

Hasil penelitian berbeda diungkap tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Mereka menyatakan bahwa situs yang mengalami kerusakan itu merupakan candi. Dari situ, perhatian mulai mengalir ke Candi Sirih. Bentuknya sebagai candi semakin terlihat setelah dilakukan pembersihan. Tapi sayang, kondisi candi sudah rusak parah. Sebagian besar dinding dari susunan batu telah roboh. Hanya menyisakan dinding sisi selatan.

Situs tersebut menempati lahan seluas 10×10 meter persegi. Mencegah kerusakan lebih parah, pemkab memasang pagar kawat berduri. Lalu, kenapa dinamakan Candi Sirih? Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo Agus mengatakan, nama Sirih diperoleh dari kata sesirih yang artinya bersemedi.

Dahulu banyak warga dari luar daerah yang bersemedi di Candi Sirih. Dilihat dari bentuk dan material batu, lanjut Agus, candi tersebut mirip dengan tempat sembahyang bagi umat Buddha.

Tidak kalah menariknya, keberadaan Candi Sirih bisa sampai ke telinga pejabat pemkab bermula dari lomba karya tulis ilmiah tingkat SD, SMP, dan SMA yang digelar dinas pendidikan dan kebudayaan. Salah seorang peserta menuliskan kondisi memprihatinkan situs tersebut.

Tim pemkab kemudian mengecek ke lokasi dan Candi Sirih diyakini dapat dikriteriakan sebagai BCB sesuai Undang–Undang Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya. Langkah selanjutnya, pemkab mengirim surat ke BPCB Jawa Tengah agar dilakukan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian awal, BPCB Jawa Tengah memastikan bahwa bangunan tersebut merupakan candi. Kepastian itu bisa terlihat dari konstruksi candi dari patahan-patahan batu. BPCB juga mengimbau warga setempat ikut menjaga dan merawat candi agar kerusakannya tidak semakin parah.

Imbauan tersebut juga diimbangi sosialisasi dari dinas pendidikan dan kebudayaan Sukoharjo berlanjut dengan studi kelayakan oleh BPCB. Hasil studi kelayakan tersebut untuk memberikan masukan kepada pemkab guna memutuskan langkah selanjutnya. Di antaranya menerbitkan surat keputusan (SK) Bupati Sukoharjo untuk menetapkan Candi Sirih sebagai BCB.

“Benda cagar budaya harus ada SK Bupati, untuk candi Sirih sementara ini belum ada”, ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo Siti Laila. Namun, Candi Sirih sudah diregister sebagai cagar budaya kabupaten dan nasional.

“Jika sudah diregister berarti sama dengan sudah disahkan sementara sebagai cagar budaya. Namun lebih sah lagi harus terdapat SK Bupati,” imbuh Laila.

Sementara itu, mantan ketua RT 02 Dusun Kersan, Desa Karanganyar Sontorejo yang sering membersihkan Candi Sirih mengatakan, di belakang bangunan candi terdapat lubang yang dipercaya warga sekitar sebagai sumur. “Saya sukarela membersihkan candi ini,” ujarnya singkat. (*/wa)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Rekam Data E-KTP Sudah Bertambah 10 Ribu

UNGARAN–Pemkab Semarang melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Semarang hingga pertengahan Oktober, sudah melakukan rekam data E-KTP sebanyak 10 ribu orang. Setelah...

Gaet Pasar Anak Muda

SEMARANG – PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) kembali membidik pasar anak muda melalui produk terbarunya, Suzuki Baleno. Konsep hatchback serta beberapa fitur unggulan diusung...

Teknologi yang Manusiawi

RADARSEMARANG.COM - Perkembangan teknologi yang begitu dahsyat pada dekade terakhir ini telah dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di berbagai sektor. Di sektor hiburan, dapat...

Bukan Berbagi “Kue” Pembangunan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Masyarakat diminta memanfaatkaan masa Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Jateng yang dibuka pada Jumat (9/2) hari ini. Mereka diharapkan menyampaikan usulan sesuai...

MQK Tak Dapat Bantuan Dana

SEMARANG - Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat nasional kembali digelar di Jateng, 21-29 Oktober mendatang. Sayang, gelaran akbar yang dipusatkan di Pondok Pesantren Balekambang...

Islam dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

RADARSEMARANG.COM - TUJUAN kelima Pembangunan Berkelanjutan adalah keadilan gender. Sebagian di antara target dari tujuan kelima ini adalah menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,...