33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Monyet Tidar Jarah Dagangan Warga

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Keberadaan monyet-monyet di Gunung Tidar mulai meresahkan warga sekitar. Memasuki musim kemarau panjang ini, monyet turun ke rumah-rumah warga untuk menjarah makanan. Tidak hanya itu, spion mobil dan motor pun jadi sasaran, hingga merusak atap rumah warga.

Seorang warga yang juga membuka lapak jualan di sekitar area Gunung Tidar, Jumi mengeluhkan, tiap hari barang dagangan selalu dicuri primata tersebut. Mulai dari makanan ringan, hingga aneka minuman kemasan botol. Karena itu, ia harus ekstra menjaga warungnya, agar tidak mengalami kerugian yang lebih banyak.

“Yang diambil tidak hanya satu atau dua biji saja, tapi lima sekaligus. Dan monyet yang mengambil berkelompok, 5 sampai 6 ekor,” katanya, Kamis (30/8).

Pedagang lain, Wagiyah juga mengalami hal sama. Aneka sayuran yang ia jual kerap hilang dibawa kabur monyet naik ke gunung. Dalam sehari, kejadian ini setidaknya ia alami tiga hingga empat kali. “Mereka mengambil ketika lapar. Waktunya tidak pasti,” tuturnya.

Informasi yang dihimpun koran ini, warga menganggap monyet tersebut sebagai hama. Beberapa warga juga nekat menyimpan senapan angin untuk menghalau monyet masuk ke rumah. Tindakan ini dipilih karena monyet kerap melukai warga dengan cara mengigit dan menyerang ketika diusir.

Sementara itu, Kepala UPTD Kawasan Gunung Tidar, Widodo menjelaskan, pihaknya telah berupaya mencukupi kebutuhan makanan bagi populasi monyet yang kini jumlahnya mencapai 300-400 ekor itu. Sekitar 3 karung makanan tiap hari disediakan. Hal ini dilakukan agar monyet tidak mengganggu warga. Di sisi lain, karena kawasan Gunung Tidar ditumbuhi pohon pinus yang tidak cocok bagi habitat monyet. “Mereka butuh buah dan daun-daun muda yang segar,” tandasnya.

Pihaknya juga memiliki rencana relokasi. Namun, langkah ini dinilai tidak mudah. Sejauh ini, baru 10 ekor monyet yang berhasil direlokasi ke Kebun Binatang Gembira Loka. “Jujur relokasi ini tidak mudah. Beberapa tempat menolak karena sudah tersedianya primata dengan jenis sama. Ditambah, monyet berekor panjang ini kurang diminati, karena makannya banyak dan umurnya panjang,” urainya.

Saat ini, pihaknya sedang membangun komunikasi untuk bekerjasama dengan beberapa tempat konservasi. Seperti kawasan hutan lindung Merapi-Merbabu. Namun, langkah ini ditolak karena populasi di sana lebih banyak. Bahkan sampai menyerang daerah pertanian warga. “Rencana kita upayakan untuk relokasi ke Nusakambangan, karena di sana tidak ada penduduk. Sehingga tidak akan mengganggu, dan habitatnya pun sesuai,” ungkapnya. (mg26/mg22/put/ton)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Rumah Terakhir Maria

Oleh: Dahlan Iskan Dari dunia Jalaluddin Rumi saya ke dunia Maria. Dari Konya ke Ephesus. Kota Ephesus sendiri kini tinggal puing-puing kuno. Reruntuhannya terlihat di kanan...

Tiga Romo Doakan Pasien Kembali Sehat

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Ratusan pasien RS St Elisabeth Semarang dan keluarganya kemarin (11/2) dikumpulkan di ruang polis spesialis. Mereka didoakan agar cepat sembuh dan kembali berkumpul...

Deklarasikan Komitmen Menjaga Kebhinekaan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Komitmen menjaga kebhinekaan mulai digencarkan oleh generasi muda. Salah satunya organisasi masyarakat (ormas) Kita Satu (K1) Jawa Tengah yang mendeklarasikan semangat untuk...

Pekan Raya Akutansi Polines

RADARSEMARANG.COM - HIMPUNAN Mahasiswa Jurusan Akutansi Politeknik Negeri Semarang akan menyelenggarakan Pekan Raya Akutansi berjudul “Celebration Of Ancient’s Glorious Eve”. Puncak acara digelar 29...

Tiga Bupati Belum Tandatangani NPHD

SEMARANG – Tiga bupati belum menandatangani naskah perjanjian hibah daerah (NPHD), yakni Bupati Kudus, Bupati Magelang, dan Bupati Banyumas. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jateng...

Guru Perekat Kemajemukan

PERKEMBANGAN politik yang didramatisir melalui hiruk-pikuk sosial media tidak bisa dinafikan mempengaruhi pola berpikir dan cara pandang siswa terhadap rasa nasionalisme dan nilai-nilai persatuan...