33 C
Semarang
Kamis, 24 September 2020

Sengaja Pilih 3 Lagu yang Paling Sulit

Karangturi Choir, Juarai Singapore International Choral Festival 2018

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – Sebanyak 34 siswa SD Karangturi, Semarang, belum lama ini, membawa harum nama Indonesia, karena menjuarai lomba paduan suara tingkat dunia di Singapura. Tepatnya, pada ajang Singapore International Choral Festival (SICF) Children Category Al usia 12 tahun ke bawah.

PETRUS Wahyu, 47 tahun, wajahnya tampak berseri-seri. Senyum manis selalu tersungging di bibir, ketika menceritakan perjuangan anak didiknya yang tergabung dalam Karangturi Choir saat mengikuti lomba paduan suara di Singapura, Juli lalu.

Tak sia-sia, kerja keras anak-anak SD Karangturi, saat berlatih paduan suara. Predikat tertinggi sebagai jawara, berhasil dibawa pulang ke Tanah Air. “Kurang lebih 7 bulan, kami lakukan persiapan cukup matang untuk menghadapi 18 tim lain, yang datang dari berbagai negara seperti Korea, Tiongkok, dan India,” kata Petrus saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini. Tiap tim beranggotakan 35 orang. Dari Indonesia, selain SD Karangturi Semarang, satu lagi dari Manado.

Petrus merupakan pelatih vokal yang cukup profesional. Ia sudah menggeluti bidang ini selama 30 tahun. Sejak 2015, Petrus bergabung ke Yayasan Karangturi. Ia melatih paduan suara mulai jenjang TK, SD, hingga SMA.

Sebelum mengikuti lomba, ucap Petrus, intensitas latihan ditingkatkan. Setiap hari, selama kurang lebih tiga jam, anggota tim berlatih. “Ya latihan berbagai macam teknik vocal,” ucapnya. Tidak ada lagu khusus yang dinyanyikan saat latihan. “Karena kami lebih menekankan teknik vokalnya, daripada lagu-lagunya.” Artinya, sambung Petrus, sesulit apapun lagu, jika dinyanyikan dengan teknik yang baik, maka hasilnya akan baik.

Pada ajang lomba paduan suara di Singapura, Karangturi Choir binaan Petrus membawakan tiga lagu. Yakni: Bring Me My Shadow, Sanctus, dan Exultate Justi In Domino. Petrus sengaja memilih 3 lagu itu karena tingkat kesulitannya cukup tinggi. Sebagai pelatih, Petrus berprinsip, “Jika ingin menang ya menang sekalian, jika ingin gagal ya gagal sekalian. Jadi jangan setengah-setengah.”

Yang menarik, tiga lagu tersebut, bukan ia yang mengarensemen. “Istilahnya, kami membeli lagu itu dari penciptanya. Kita tidak bisa membawakannya secara sepihak, karena kita juga harus mendapatkan izin resmi untuk membawakan lagu yang akan digunakan saat lomba.”

Lomba paduan suara kelas dunia, penilaiannya mengacu tiga kategori. Yaitu: intonasi, coral sound, dan performa. Sedangkan jurinya berasal dari sejumlah negara. Di antaranya: Singapura, Taiwan, Swedia, Ceko, dan Filipina. Kata Petrus, saat timnya tampil, juri sangat terkesan pada performa Karangturi Choir.

Lembar evaluasi juri mencatat bahwa peserta dari SD Karangturi mampu menguasai semua teknik dan aransemen lagu yang sebelumnya sudah dikirimkan kepada juri. “Anak-anak juga dinilai mampu menyanyikan lagu dengan sangat tenang dan bagus. Karena siswanya masih kecil, dengan dipecah tiga sampai empat suara, mereka tidak ada yang fals. Ini tentu perpaduan komposisi yang sangat bagus.”

Bagaimana dengan kostum tim? Pihak sekolah mempercayakan pada Komisi Paduan Suara Karangturi (KOMPAK). Komisi ini beranggotakan orangtua siswa yang anaknya mengikuti paduan suara maupun yang tidak megikuti, namun peduli dengan paduan suara. KOMPAK beranggotakan orang tua jenjang TK hingga SMA.

Terkait desain kostum, guru dan KOMPAK mengonsultasikan langsung dengan pelatih. “Jika dirasa kurang cocok, ya mereka akan mengganti desainnya.” Tidak hanya mempersiapkan kostum, KOMPAK juga mempersiapkan kebutuhan siswa. Mulai paspor, tiket, hingga tempat tinggal. Selama lima hari di Singapura, beberapa peserta ditemani orangtuanya dan enam guru pendamping. ‘’Kami tinggal di sebuah hostel, yang jaraknya 15 menit dari lokasi perlombaan.

Vanessa Mellie, 8, salah satu anggota tim paduan suara SD Karangturi mengaku senang bisa mengikuti ajang tersebut. Hal senada disampaikan oleh Maesya Alya Satira, 10. Keduanya mengaku bangga bisa mewakili SD Karangturi pada kejuaraan paduan suara tingkat dunia. Meski tidak ditemani orang tua, Alya mengaku tidak sedih. “Sudah terbiasa mandiri, ayah dan ibu hanya mengantar sampai sekolah saja saat kami berangkat.”

Petrus menyampaikan, kemenangan di Singapura didedikasikan untuk anak-anak yang mengikuti lomba. “Bagi saya, kemenangan ini akan sangat berkesan bagi mereka sebagai kenangan di masa kecilnya, karena setiap orang akan mengingat jejak baik yang mereka tinggalkan untuk sekolahnya.” (qurrotul. Ainiyah/lutfia.khoirunnisa/isk)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

‘Hantu’ Ikut Bagikan Takjil

MAGELANG –Siswa SMK Citra Medika Kota Magelang punya cara unik mengisi kegiatan saat Ramadan di sekolah. Mereka membagi-bagikan takjil kepada warga sekitar dengan pakaian...

Serukan Persatuan lewat Gebukan Drum

SUKOHARJO – Dengan menggelar kegiatan sederhana, anggota komunitas perkusi tenor (KPT) Big Family Drum Sukoharjo menyerukan agar generasi muda ikut menjaga persatuan dan kesatuan...

Jangan Munculkan Kader Karbitan

TEMANGGUNG - Menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018, pimpinan partai politik (parpol) di Temanggung diminta lebih jeli dalam menampilkan sosok atau tokoh yang diusung....

Peringati Earth Hour, Bersepeda di Kota Lama

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Ada yang  berbeda ketika pelaksanaan Earth Hour di Aston Semarang Hotel & Convention Center. Selain mematikan penerangan dan menggantinya dengan lilin...

Klaim Bebas Glonggongan, Bina Para Jagal Sapi

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang mengklaim Kota Magelang alam dari daging sapi glonggongan. Kepala Disperpa Kota Magelang Sri Retno...

Petungkriyono Berbenah Sambut Pemudik

KAJEN-Menyambut liburan hari raya Idul Ftri 1438 H, pengelola objek wisata alam Petungkriyono berbenah. Di antaranya, melakukan perbaikan jalan yang rusak, memperbanyak rambu penunjuk...