TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG
TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – Kresna Bayu, mantan atlet judo yang kini beralih profesi menjadi politisi pernah mengharumkan nama Indonesia di ajang SEA Games 2009 dan 2011. Bayu juga pernah tampil 3 kali di ajang Olimpiade.

TIGA Olimpiade yang pernah diikuti Kresna Bayu adalah Olimpiade di Atlanta pada 1996, Sidney (2000), dan Athena pada 2006. Sedangkan saat berlaga di SEA Games 2009 dan 2011, Kresna Bayu meraih medali emas.

Pria asal Tengaran Kabupaten Semarang ini, pensiun sebagai pejudo, usai berlaga di PON (Pekan Olahraga Nasional) Riau, 2012. Pensiun dari judo, bukan berarti malas berolahraga. Kresna Bayu tetap rajin berolahraga. Itu tampak dari fisiknya yang tegap dan berotot. Awal ketertarikannya berjudo, terinspirasi dari orang tua dan kakeknya yang juga atlet Judo. Ia bermaksud meneruskan apa yag sudah dilakukan keduanya.

Kresna menyampaikan, prestasi terbaiknya, ketika ia menjuarai kejuaraan judo tingkat Asia pada 2009. Di ajang itu, ia mengalahkan pejudo asal India. “Saya rasa, kalau hanya SEA Games maupun PON, tidak banyak pengalaman yang berkesan, karena memang level saya ada di tingkat dunia, khususnya Asia. Kala itu, saya bangga bisa mengalahkan lawan-lawan kuat dari Korea, Jepang, dan menumbangkan India di final yang membuat saya keluar sebagai juara,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kresna juga menceritakan pengalamannya berlaga di Olimpiade. Baginya, tolak ukur yang sebenarnya adalah di kejuaraan tersebut. Sebab, semua atlet memiliki level yang hampir merata. Hal itu yang membuatnya belum mampu meraih prestasi apapun di ajang Olimpiade. “Kalau hanya di Asia Tenggara, saya kira atlet judo asal Indonesia yang paling diunggulkan. Tapi kalau sudah bicara di level Asia dan dunia, banyak lawan tangguh yang sulit dikalahkan. Kalau di Eropa contoh saja ada Jerman dan Perancis.”

Ditanya alasannya terjun di dunia politik, Kresna Bayu mengaku tidak punya ambisi khusus dalam berpolitik. Tujuan yang hendak ia capai agar ia bisa turut andil mengubah isi UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang SKN (Standar Keolahragaan Indonesia). “Saya dan mantan atlet judo lain, seperti Joe Taslim maupun kakaknya Peter Taslim, rutin bertemu meski tidak sering. Kami selalu membicarakan bagaimana caranya agar dapat memberikan masukan pada pemerintah untuk merivisi UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang SKN,” kata Kresna yang maju sebagai caleg di Jawa Barat.

Ada apa dengan UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang SKN? Menurut Kresna Bayu, UU tersebut hingga saat ini belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan atlet. UU yang dimaksud juga tidak mampu memberikan hak-hak atlet secara maksimal.

“UU yang ada saat ini belum jelas secara utuh. Karena belum ada regulasi terkait yarat usia atlet diikutsertakan dalam kejuaraan nasional maupun internasional. Contoh lain, pemberian bonus atlet yang belum jelas. Pengelolaannya apakah dari pemda atau pemerintah pusat, juga belum dirumuskan.” Ia menganggap pemerintah hanya fokus pada cabang olahraga sepak bola dan badminton saja. Padahal, di Indonesia, ada banyak cabang olahraga yang butuh perhatian lebih. Ia menyebut mulai dari program pembinaan yang belum terkelola dengan baik, hingga anggaran yang digelontorkan masih terlalu kecil.

“Bagaimana atlet bisa maju, jika anggaran yang dikeluarkan untuk olahraga hanya 0,8 persen dari seluruh anggaran yang ada. Normalnya anggaran untuk olahraga berada di angka 1-2 persen.” Ditanya apakah anak-anak akan mengikuti jejak sebagai pejudo seperti sang ayah, Kresna Bayu menyerahkan semua keputusan pada sang anak. Yang pasti, Kresna Bayu tetap meminta anak-anaknya untuk rutin berolahraga agar tubuh menjadi sehat dan bugar. (triawanda.tirta.aditya/isk)