32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Terinspirasi Soekarno dan BJ Habibie

RADARSEMARANG.COM – SETIDAKNYA ada dua nama besar yang sering disebut Arfian sepanjang menceritakan kisahnya. Yakni: Soekarno dan BJ Habibie. Arfian belajar banyak dari kepemimpinan dua sosok panutan bangsa tersebut. “Soekarno and Habibie is awesome. Anak-anak muda harus meneruskan estafet keberanian para pahlawan. Kalau kita selalu ragu untuk meraih kemenangan, ya ibaratnya Indonesia tidak akan merdeka kalau Bung Karno tidak berani memproklamasikan kemerdekaan.”

Kesungguhan itulah yang menjadi landasan semangat bagi Arfian dan Arie, untuk mengajak timnya mengikuti perlombaan kelas internasional. Bagi Arfian dan tim, ikut dalam lomba, bukan untuk unjuk kebolehan. Melainkan cara untuk menverifikasi apa kekurangan dari desain rancangan mereka.

“Intinya, ini bentuk pengabdian kami kepada masyarakat, kepada bangsa, dan bisa difungsikan di dunia ini. Kami berusaha sebaik mungkin, meski tidak bisa disebut sempurna. Kalau kita berlomba untuk kalah ya untuk apa? Jadi, kita hanya harus berjuang,” tegasnya.

Meski banyak mengerjakan pesanan dari luar negeri– seperti desain unit mobil BMW dan kareta LRT untuk Filipina–bukan berarti Arfian menutup mata untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia. Terhitung sejak 2013 lalu, ia dan tim sudah resmi kerja sama proyek dengan PT. Inka Indonesia. Total ada sekitar lima proyek.

Tidak hanya desain. D-Tech bersama dengan Fajar, juga membuat program aplikasi Nyanyur yang diresmikan pada 26 Maret 2017 lalu. Nyanyur adalah sebuah aplikasi layanan pesan-antar sayuran dari petani langsung kepada pelanggan.

Nyayur menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang tidak ingin ribet ke pasar untuk berbelanja dan bisa mendapat sayuran yang masih segar. Saat ini Nyayur sudah diunduh lebih 10 ribu pengguna Google Play Store. Juga mulai melayani pesanan besar untuk rumah sakit, hotel, dan restoran. “Kami ingin menolong generasi bangsa dari sudut lain, membeli komoditas petani dengan harga layak, sehingga petani sejahtera dan generasi muda bisa tertarik untuk menjadi petani. Bayangkan bagaimana jadinya kalau tidak ada petani suatu saat nanti, apa yang akan terjadi,” kata Fajar.

Modal membuat progam Nyayur berasal dari hadiah lomba yang diikuti oleh D-Tech. Menurut Fajar, baik D-Tech maupun Nyayur, belum terkenal di kalangan start-up investment. Sejauh ini, semua program dan proyek desain, menggunakan modal sendiri. Ini berbeda dengan produk lain yang mendaftar di badan investasi untuk mendapat tambahan modal. “Kami melihat persiapannya dulu, apakah sudah yakin untuk balik modal dan sebagainya, jadi tidak asal dapat investasi,” jelas Fajar, alumnus Master Degree Pukyong National University, Korea Selatan.

Melihat seberapa banyak karya yang sudah mendunia, baik Arfian sekaligus mewakili Arie dan Fajar, jsutru merasa apa yang sudah mereka kerjakan, bukanlah sebuah kesuksesan. Menurut mereka, masih banyak sekali masalah di dunia ini yang harus dicarikan jalan keluarnya.

“Belum waktunya kami panen. Dari segi kehidupan, kami memang sering diundang ke acara untuk berbagi ide dan pengalaman. Tapi sebenarnya kami hanya melakukan apa yang ingin kita berikan kepada orang lain,” ucap Fajar, mewakili Arfian yang pamit kepada Jawa Pos Radar Semarang, untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat ini, D-Tech tengah fokus mengembangkan produknya. Sedangkan Arie Kurniawan, sedang sibuk menggarap proyek mobil listrik dengan timnya yang lain. (humaida.fatwati/rizki.indah.anggraini/isk)

Latest news

Related news