26 C
Semarang
Minggu, 6 Juni 2021

Belajar jadi Promotor Tinju

Chris John, Sang Naga yang Belum Kehilangan Nafasnya

RADARSEMARANG.COM – Meski sudah menggantungkan sarung tinjunya, Chris John, pria asal Banjarnegara yang kini menetap di Kota Semarang, akan selalu diingat sebagai petinju asal Jawa Tengah yang mampu menjadi jawara tinju dunia kelas bulu WBA.

KAWASAN Jalan Krakatau Nomor VI tampak lengang ketika Jawa Pos Radar Semarang hendak menyambangi rumah Chris John, pemegang titel jawara tinju dunia selama satu dekade. Si empunya rumah, dengan ramah, menyapa koran ini ketika berada tepat di depan rumah berlantai 2, dengan dominasi warna putih gading dan ungu.

Siang itu, Chris baru selesai berolahraga. Kata Chris, pensiun sebagai petinju, bukan berarti lepas dari tanggung jawab menjaga kebugaran fisik. Sebaliknya, ia semakin rutin berolahraga. Sesekali, ia memukul samsak pemberian pelatihnya, Craig Christian.

“Lantai dua ini khusus untuk berlatih. Ada mini gym-nya. Sesekali juga pukul-pukul samsak. Tapi, sekarang ini lagi senang bersepeda. Tadi baru pulang sepedaan 24 KM. Biar variasi saja latihannya,” kata Chris, tertawa.

Bernama lengkap Yohanes Christian John, pria kelahiran Banjarnegara 38 tahun silam ini, mengaku telah menempati rumah di Semarang sejak 1995 silam. Tepatnya, setahun sebelum peralihan tingkatan tinju dari amatir ke profesional. Chris kecil dilatih oleh sang ayah, Johan Tjahjadi. Meski dilatih oleh ayah kandung, bukan berarti Chris mendapat perlakuan istimewa. “Justru sangat disiplin. Kalau telat pasti dihukum. Paling tidak, push up. Tetapi semua itu kan hasilnya nyata,” kata Chris, Sabtu (11/8) pekan lalu.

Chris bercerita, ia mengenal tinju sejak berusia 5 tahun. Lika-liku perjalanan Chris dalam dunia tinju amatir, dikenang sebagai perjalanan hidup penuh perjuangan. Keikutsertaannya dalam berbagai kejuaraan, mengukirkan sejumlah prestasi. Hingga pada 1996, salah satu pelatih tinju kenamaan, Sutan Rambing, melihat bakat Chris. “Nah, pada 1998, saya sudah beralih ke tinju profesional. Kemenangan pertama saya waktu itu bertanding enam ronde melawan Firman Kanda,” kenangnya.

Chris pun semakin dikenal publik. Hingga pada 1999, ia mengukuhkan diri sebagai juara tinju nasional, mengalahkan Muhammad Alfaridzi. Bagi Chris, pertarungan tersebut merupakan debut yang tidak bisa dilupakan. Ketika itu, Chris harus menahan sakit akibat cidera patah hidung. “Cidera yang paling membekas ya patah hidung. Saya lupa sampai berapa ronde. Yang saya ingat saat itu, hanya berjuang. Harus menang, sudah tidak terasa sakit saat itu,” ucap ayah dua anak ini.

Tercatat, selama karier bertinju profesionalnya, Chris menang dalam 48 pertandingan, dari total 52 pertandingan. Bahkan, 22 di antaranya menang KO. Catatan imbang dalam bertandingnya hanya tiga kali. Satu-satunya kekalahan dialami Chris John pada 2013, kala melawan Simpiwe Vetyeka, petinju asal Afrika Selatan.

“Bagi saya, itu sudah cukup. Saya menyadari bahwa usia tidak bisa dibohongi. Sangat sulit di usia 35 tahun saat itu, mempertahankan fisik yang baik. Sehingga saya putuskan untuk pensiun dan memberi jalan untuk atlet Indonesia yang lain,” tuturnya.

Pembawaan mantan juara dunia ini amat santai. Dengan lugas, Chris menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan koran ini. Chris tak sungkan menceritakan momen secara detail, meski diselipi humor. “Bagi saya, momen pertandingan paling berkesan saat menjadi juara dunia. Saya berkesempatan tampil di depan publik sendiri dan menang, itu mimpi jadi kenyataan,” sambungnya.

Selain bertinju, Chris merupakan atlet wushu. Ia tak memungkiri, gaya bertinjunya, terpengaruhi wushu. Kata Chris, menjadi atlet wushu merupakan sampingan di sela-sela kesibukannya bertinju. Toh, sejumlah prestasi ia raih sebagai atlet wushu. “Jadi, di sasana tempat saya berlatih, ada wushu juga. Tetapi yang kategori fight, bukan keindahan. Coba-coba latihan, ternyata saya juga bisa bersaing. Salah satu prestasinya SEA Games 1997, dapat emas.”

Saat ini, Chris menyibukkan diri di rumah dengan keluarga. Sekali waktu, ia ikut dalam kegiatan sosial, seperti perkumpulan RT atau dunia politik. Seperti diketahui, Chris memutuskan terjun ke dunia politik, dengan membawa misi pemuda dan olahraga, sesuai bidang yang digelutinya.

“Saya rasa, tidak bisa hanya sebagai mantan atlet. Terjun ke dunia politik ini, juga dengan misi saya, pembinaan terhadap pemuda dan olahraga. Khususnya tinju, karena saat ini tinju Indonesia mati suri,” ucap petinju berjuluk The Dragon ini.

Chris mengaku, selain aktif di berbagai kegiatan, ia juga fokus dalam kepromotoran. Menurut Chris, mati surinya tinju di Indonesia lantaran sulitnya promotor membuat even tinju. Chris menengok ke belakang. Di eranya, petinju memiliki panggung yang rutin disediakan sejumlah stasiun televisi. “Saya masih belajar jadi promotor, masih harus menggandeng banyak sponsor lagi untuk bisa menghidupkan.”

Sepinya even, lanjut Chris, jadi faktor utama lesunya dunia tinju di Indonesia. Saat ini, para petinju hanya terus berlatih. Namun, tidak ada ajang yang bisa digunakan mereka untuk unjuk gigi. Ini menjadi kemunduran. Tidak hanya untuk atletnya. Tapi juga pelatihnya.

“Saya belum terpikir punya sasana, demikian juga melatih. Bagi saya, yang sekarang ini sudah banyak dan hanya perlu diberikan ruang untuk berkembang. Tetapi kan memang tinju ini bukan seperti badminton atau sepak bola yang sedemikian rupa support-nya,” ujar Chris.

Semangat yang dibawa Chris, tidak lepas dari sosok pelatihnya setelah almarhum Sutan Rambing, yaitu pelatih asal Australia: Craig Christian. Chris mengaku, pelatihnya memberikan pesan yang hingga kini terus diingatnya. Yakni, Chris harus berguna bagi dunia tinju di Indonesia. (afiati.tsalitsati/isk)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news