LANCAR : Sosialisasi dan Simulasi e-Court diselenggarakan AJB yang dikordinatori Sutan M Rofyan di ruang Amarta Ballroom, Hotel Grand Candi, Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LANCAR : Sosialisasi dan Simulasi e-Court diselenggarakan AJB yang dikordinatori Sutan M Rofyan di ruang Amarta Ballroom, Hotel Grand Candi, Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sekitar 500 advokat dan hakim di Jawa Tengah bersatu dalam Sosialisasi dan Simulasi e-Court, yang diselenggarakan delapan organisasi advokat yang tergabung dalam Advokat Jateng Bersatu (AJB) bekerjasama dengan Pengadilan Tinggi (PT) Jateng di ruang Amarta Ballroom, Hotel Grand Candi, Semarang, Selasa (7/8).

Sejumlah organisasi adalah Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang di tiga kubu mulai kepemimpinan Reza Kurniawan, Theodorus Yosep Parera dan Broto Hastono. Kemudian Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jateng pimpinan John Richard Latuihamallo, Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) pimpinan Rangkei Margana, Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Semarang pimpinan Khairul Anwar, Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) Jateng dan Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) pimpinan Muharsuko Wirono.

Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Jateng, Nommy GT Siahaan memastikan sistem e-Court tersebut dari segi keamanan terjamin, karena para pihak memiliki password sendiri yang tidak bisa diketahui orang lain. Hingga saat ini, jumlah advokat yang terdaftar di PT Jateng ada 2914 advokat, sedangkan advokat yang sudah mendaftar e-Court sebanyak 385 orang.

“Advokat yang sudah terverifikasi ada 326 dari 8 organisasi yang bergabung dalam AJB. Jateng dituntut melaksanakan sistem ini pada September, baik saat di Pengadilan Negeri (PN) Semarang dan PN Surakarta,” kata Nommy GT Siahaan, di sela-sela acara.

Menurutnya, melalui e-Court dilaksanakan sistem pengadilan via online dengan tahapan sampai replik dan duplik untuk perkara perdata. Namun putusan dan pembuktian tetap di pengadilan. “Sekarang pengadilan sangat jauh berkembang serta revolusioner. Namun saat ini masih kasus perdata, bisa dilihat dulu proses perdata bisa satu tahun, kemudian setelah ada edaran MA (Mahkamah Agung) dipersingkat menjadi 6 bulan. Melalui sistem ini, barangkali menjadi 2 bulan,  jadi serba cepat,” jelasnya.

Koordinator AJB, Sutan M Rofian mengaku, organisasi advokat yang bernaung di AJB mendukung kebijakan MA tersebut. Sudah terbukti, 8 organisasi advokat yang menghadiri sosialisasi tersebut sangat luar biasa dan membeludak dari batas peserta.

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Auditor Hukum Indonesia (DPW ASAHI) Provinsi Jateng, e-Court sangat dibutuhkan dalam dunia peradilan, nantinya para advokat bisa melakukan verifikasi langsung.

“Ini sarana efektif, sehingga tidak perlu menunggu sampai lama. Apalagi perkara perdata ada mediasi, dilanjut jawab-jinawan dengan e-Court. Kami siap mensosialisasikan ke daerah-daerah agar melaksanakannya,” kata Rofian yang juga Sekretaris Ikadin Jateng ini.

Ketua Panitia Sosialisasi dan Simulasi e-Court AJB, John Richard Latuihamallo mengaku, masih belum memahami e-Court tersebut. Namun demikian pihaknya mendukung, karena itu kebijakan baik. Ia menilai, dengan e-Court seni berperkara akan tergerus, karena jadi malas keluar pengadilan, mengingat semuanya serba internet. “Perkembangan akan disesuaikan dengan hukum acara. Anggota kami di KAI sudah banyak yang melakukan pendaftaran,” kata Ketua KAI Jateng, didampingi salah satu deklarator AJB, Theodorus Yosep Parera. (jks/ida)