32 C
Semarang
Sabtu, 19 Juni 2021

Lebih Besar dari Gedongsongo

Candi Duduhan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Candi Duduhan di Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang dinilai sebagai salah satu temuan istimewa. Struktur kompleks candi yang terdiri atas 1 candi utama dan 3 candi perwara menunjukkan Candi Duduhan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Prambanan, pada abad 9 masehi.

Ketua Tim Ekskavasi Candi Duduhan, Agustijanto Indradjaja menyatakan bahwa Candi Duduhan menjadi tambahan data penting tentang hipotesa penyebaran agama dan kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa Tengah melalui pantai utara Jawa. “Bangunan candi utama di Duduhan ini lebih besar dari candi-candi di (kompleks) Gedongsongo,” tutur arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) ini, Sabtu (4/8).

Candi utama di Duduhan berukuran 9,3 x 9,3 meter. Sementara candi utama di Gedongsongo, kata Agus, ukuran panjang salah satu sisinya hanya sekitar 7 meter. Berdasarkan buku “Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I” yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1996, candi terbesar di Gedongsongo adalah Candi Gedong I dengan ukuran 6,64 x 6,58 meter. Sementara candi perwara di Duduhan memiliki ukuran 5,4 x 5,4 meter.

Pada hari terakhir ekskavasi kemarin, tim telah menemukan rongga dengan dinding batu putih di candi utama yang biasa disebut sumuran. Meski penggalian sudah sekitar 1 meter, tapi dasar sumuran belum ditemukan. Sumuran ini merupakan bagian paling penting dari bangunan candi utama. “Biasanya di atas sumuran ini ada (arca) Syiwa atau Lingga Yoni,” jelas Agus.

Adanya altar pemujaan yang sudah dipindahkan warga ke taman tak jauh dari lokasi Candi Duduhan, kata Agus, menguatkan perkiraan usia candi. “Altar pemujaan seperti itu, biasanya ada di candi yang dibangun sesudah tahun 850.”

Arkeolog dari Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO), Veronique Degroot menjelaskan, Candi Duduhan berasal pada masa Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Tengah akhir. Pada ekskavasi tahap kedua ini, memang ada temuan-temuan baru, tapi belum seluruh area candi berhasil dibuka. Ekskavasi baru sekitar 25 persen dari perkiraan seluruh kompleks candi. “Kami belum menemukan pagar yang mengelilingi candi,” jelasnya.

Rencananya, Minggu (5/8) ini, lokasi ekskavasi akan ditutup kembali. Agus menjelaskan, rencana ekskavasi lanjutan tahap 3 akan dilaksanakan sekitar November tahun ini. “Kami akan menyesuaikan jadwal dulu. Tapi akan ada ekskavasi lanjutan karena belum semua diteliti,” jelasnya.

Selain di Duduhan, tim juga akan meneliti situs-situs candi yang berada di Mijen dan sekitarnya. Pada April lalu, ekskavasi dilakukan di Candi Trisobo, Desa Trisobo, Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Mereka juga telah melihat lokasi temuan batuan Candi Tempel di bekas peternaan ayam Dusun Tempel, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Yoni di wilayah RT 02 RW 03 Kelurahan Cangkiran Kecamatan Mijen juga menarik perhatian Agus dan Vero. Sebab ukurannya yang besar, luasan bidang atas berukuran 105 cm x 105 cm dengan tinggi 110 cm. “Biasanya kalau yoninya berukuran besar seperti itu, ada candinya yang besar juga. Saya harus melihat yoni itu,” kata Agus. (ton/ida)

Latest news

Related news