SOLAR ILEGAL: Direktur Polair Polda Jateng Kombes Pol Andreas Kusmaedi bersama Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triatmaja dan jajarannya menunjukkan barang bukti puluhan drum berisi solar yang akan diselundupkan dengan kapal kayu di Pelabuhan Tanjung Emas. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SOLAR ILEGAL: Direktur Polair Polda Jateng Kombes Pol Andreas Kusmaedi bersama Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triatmaja dan jajarannya menunjukkan barang bukti puluhan drum berisi solar yang akan diselundupkan dengan kapal kayu di Pelabuhan Tanjung Emas. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang dilakukan secara Ilegal oleh salah satu oknum polisi asal Purworejo terancam hukuman berat. Oknum polisi berpangkat Bripka dengan inisial T itu dipaksa berhadapan dengan rekan-rekanya sesama anggota kepolisian, karena telah menyelundupkan 10 ton solar dengan kapal kayu di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Direktur Polair Polda Jateng Kombes Pol Andreas Kusmaedi mengatakan, penangkapan Bripka T berawal dari temuan tim Patroli Polair Mabes Polri yang menangkap kapal sopek di area Pelabuhan Tanjung Emas yang mengangkut solar sebanyak 10 ton. BBM bersubsidi itu diletakkan di bagian dalam lambung kapal. Nahkoda kapal tidak mengantongi dokumen resmi yang bisa menjadi bukti niaga solar tersebut adalah legal.

“Selasa 24 Juli lalu, pukul 19.00, kapal Patroli Polair Mabes Polri menangkap perahu sopek yang mengangkut sekitar 10 ton BBM solar. Nahkoda bernama Mursalim kami tetapkan sebagai tersangka,” kata Andreas di Markas Ditpolair Polda Jateng, kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Rabu (1/8).

Nursalim menyampaikan, dirinya hanya bertugas menahkodai kapal tersebut. Namun kapal dan BBM milik Bripka T, salah satu oknum anggota Polri di Purworejo. Keterangan itu disampaikan oleh atasan yang berkaitan di Purworejo.

Nursalim juga mengatakan, mendapatkan solar ilegal tersebut dengan modus kencing. Solar diperoleh melalui kapal-kapal barang yang berlayar di sekitar perairan Laut Jawa. Selanjutnya puluhan drub berisi solar ilegal itu diangkut dengan kapal sopek. “Pelaku membeli solar dengan harga Rp 5.500 per liter. BBM-nya memang resmi, tapi jika sudah dijual ke pedagang gelap, itu namanya ilegal. Dia jual itu kan harus memiliki surat-surat resminya,” tambah Kombes Pol Andrea Kusmaedi.

Tadinya, BBM bersubsidi itu hendak dijual kembali ke nelayan yang memang membutuhkan. “Apabila solar ilegal seperti itu biasanya akan dijual lagi ke nelayan. Namun saat ini masih kami seldiki penjualannya ditujukan ke mana saja,” tambahnya.

Andreas juga belum mampu memastikan sejak kapan Bripka T melakukan bisnis solar ilegal itu. “Masih kami dalami lebih lanjut, karena Bripka T baru saja datang kemarin,” katanya.

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono menegaskan, tidak akan memberi keringanan terhadap pelanggaran salah satu anggotanya itu. “Akan kami berikan sanksi pidana apabila memang terbukti solar ilegal itu miliknya. Sanksi PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) dan juga sanksi disiplin dan kode etik. Kami akan analisa seperti apa putusan pidananya dari pengadilan,” kata Condro.

Bripka T dan Nursalim terancam pidana pasal 23 jo pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas. Pasal 23 mengenai masalah perizinan kegiatan izin usaha hilir minyak dan gas. Sedangkan pasal 55 menerangkan ancaman pidana 6 tahun dan denda Rp 60 miliar bagi siapa saja yang terbukti menyalahgunakan pengangkutan BBM bersubsidi. (cr2/mha/aro)