Madin, Penguat Prestasi Belajar Siswa Madrasah Tsanawiyah

spot_img

RADARSEMARANG.COM – PENDIDIKAN diperlukan manusia agar secara fungsional manusia diharapkan mampu memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional untuk menjalani kehidupan yang bertanggungjawab baik secara pribadi, sosial maupun profesional. Pendidikan dalam tataran implementatif merupakan hajat hidup setiap manusia, karena hakekatnya manusia adalah makhluk yang dinamis, tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan manusia senantiasa membutuhkan bekal yang memadai. Dan bekal tersebut  esensinya adalah pendidikan.

Madrasah Diniyah (Madin) adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan pada jalur luar sekolah  merupakan lembaga pendidikan yang terfokus pada pendidikan agama. Para siswa diajari mulai dari mengenal huruf arab, hukum-hukum Islam (syariat/fikih), ilmu tauhid, ilmu akhlak, belajar Alquran dengan tajwid, tarikh (sejarah), nahwu, shorof dan sebagainmya. Selain sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan agama, ternyata keberadaan Madrasah Diniyah juga mempunyai peran yang sangat signifikan dalam memperdalam pendidikan agama Islam yang ada pada madrasah formal, khususnya bagi para siswa yang mengenyam pendidikan di Madrasah Tsanawiyah formal umum.

Saat ini, dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, memiliki tugas yang tidak ringan. Dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini, pendidikan adalah masalah yang sangat penting terlebih lagi dalam lajunya pembangunan nasional yang dituntut adanya generasi yang lebih maju, disamping mempersiapkan peserta didik untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan tehnologi (Iptek), diharapkan juga mampu meningkatkan keimanan ketakwaan (imtaq) terhadap Tuhan Yang Maha Esa, peningkatan keimanan dan ketakwaan dilakukan untuk mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa sekarang ini.

Keberadaan Madin masih sangat diperlukan, karena pendidikan agama yang diperoleh di sekolah umum kurang memadai jumlah jam pelajaran. Sementara itu kebutuhan akan pembinaan kehidupan beragama dan akhlakul karimah bagi siswa sangat tinggi. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan merosotnya moral yang melanda kalangan pelajar dan generasi muda akhir-akhir ini. Para orangtua resah, para pemuka masyarakat gelisah. Mereka mencari solusi atau cara untuk menanggulanginya.

Baca juga:   Dengan Prasangka dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA

Abdurrahman Mas’ud mengatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya sekadar pelengkap (komplemen), melainkan disamping telah mengmabil peranan yang cukup berarti dalam mencerdaskan bangsa, meningkatkan taraf kehidupannya, mendinamisasi roda pembangunan dari bawah, juga merupakan subkultur yang ikut memberikan corak secara aktif-partisipatif serta tidak bisa dipisahkan dari subkultur nasional. Madrasah dan lembaga-lembaga pendidikan swasta lainnya berusaha mereduksi masalah lama pendidikan nasional.

Menurut Dimyati Mahmud, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa mencakup faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, yang terdiri atas N.Ach (Need for Achievement) yaitu kebutuhan atau dorongan atau motif untuk berprestasi. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar si pelajar. Hal ini dapat berupa sarana dan prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah. Dari Mc Clelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi.

Berdasarkan pernyataan Dimyati Mahmud di atas Madrasah Diniyah dapat dianggap sebagai salah satu faktor eksternal sangat kuat, yang dapat mempengaruhi prestasi siswa di Madrasah Tsanawiyah formal, khususnya dalam mata pelajaran Alquran Hadits.

Ditinjau dari sisi materi (bahan ajar) mata pelajaran Quran Hadits tingkat Madrasah Tsanawiyah, sebagian materinya adalah juga materi yang sama yang diajarkan di Madrasah Diniyah.  Misalnya materi ajar Quran Hadits kelas VII mencakup materi tentang  Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah yang dalam penjabarannya melalui isi pokok kandungan QS Al Fatihah, An Naas, Al Falaq dan Al Ikhlas. Juga  ilmu tajwid tentang hukum bacaan Qalqalah. Di kelas VIII ada materi tajwid tentang mad iwadl, mad layyin, mad aridl lissukun dan materi isi kandungan QS Al Quraisy, Al Insyirah, Al Maa’uun dan Al Kautsar. Di kelas IX ada materitajwid  mad silah, mad badal, mad tamkin, mad lazim dan QS Al Qariah serta QS az Zalzalah. Dengan demikian siswa Madrasah Tsanawiyah yang di sore hari juga belajar di madrasah diniyah akan memiliki pengetahuan yang lebih mendalam dan lebih baik prestasinya dalam mata pelajaran Qur’an Hadits dibandingkan dengan siswa yang tidak belajar di madin.

Baca juga:   Seni Mengelola Kelas di Sekolah Dasar

Oleh karena itu, keduanya harus  sama-sama diperhatikan keberadaannya agar tujuan pendidikan tercapai yaitu terwujudnya generasi muda yang berakhlakul karimah. Bagi orang tua, hendaknya  bisa mengarahkan dan memasukkan putera-puterinya di pendidikan madin pada sore hari untuk menunjang pembelajaran agama di pendidikan formal pagi hari. Jadi, di satu sisi pendidikan formal dapat diselesaikan dengan baik, dan di sisi lain pendidikan agama yang ditunjang melalui pendidikan madin baik secara akademik maupun secara sikap melalui pembiasaan-pembiasaan dan keteladanan para ustadz-ustdadzah madin di sore hari akan menambah penguatan pendidikan karakter dan akhlakul karimah. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah mereka akan terhindar dari pergaulan bebas, narkoba, tawuran dan pengaruh negatif lainnya yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang kurang baik. Semakin baik lingkungan belajar siswa, maka semakin baik pula prestasi siswa. (kpig1/aro)

Guru MTS Nurusalam Tersono Batang

Author

Populer

Lainnya