31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

PKL Dihasut Oknum Parpol

Relokasi PKL Sungai BKT Terganjal

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) masih terganjal relokasi 35 bangunan pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Kelurahan Bugangan, Semarang Timur. Ke-35 pemilik bangunan tersebut masih menolak diratakan. Praktis, target pembongkaran bangunan PKL di bantaran BKT selesai, meleset dari jadwal.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan, melesetnya target pembongkaran bangunan lantaran adanya sejumlah oknum yang menghasut para PKL dengan mengatasnamakan partai politik (parpol). Namun Fajar secara tegas menyebut bahwa proses relokasi adalah murni untuk mendukung normalisasi Sungai BKT.

“Kami menyayangkan ulah oknum tersebut, karena yang rugi nanti justru pedagangnya sendiri jika tidak mengambil jatah tempat relokasi. Padahal oknum tersebut tidak bisa memberikan tempat pengganti,” jelas Fajar kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (31/7).

Fajar mengungkapkan, alasan pihaknya tidak langsung membongkar seluruh bangunan PKL di tiga kelurahan, yakni Mlatiharjo, Bugangan dan Rejosari untuk menghindari terjadinya konflik sosial. Meski demikian, Fajar tetap memberikan kesempatan kepada para PKL untuk membongkar sendiri bangunannya.

“Kami pastikan PKL di tiga kelurahan ini akan dibongkar semua pada Agustus nanti. Karena sesuai target, semua selesai awal September,” tegasnya.

Kemarin, pembongkaran dilakukan terhadap 5 bangunan PKL di Bugangan, 5 PKL di Rejosari dan 25 PKL di Mlatiharjo.

PKL di Kelurahan Bugangan, Sugeng, mengaku masih enggan direlokasi ke Pasar Barito Baru di Penggaron. Sebab, tempat relokasi jauh dari tempat tinggalnya di Bugangan.

“Saya lebih suka di sini saja, selain dekat dengan rumah, tempat yang di Penggaron belum sepenuhnya jelas. Saya ngikut pedagang lain, kalau setuju (relokasi) ya mau tidak mau nantinya saya ikut pindah ke sana,” terang Sugeng.

Ia juga belum bisa memastikan apakah kios usahanya akan ikut dibongkar atau tidak. Karena di sudut lain, yakni lapak kios sepeda tak jauh dari tempatnya, belum ada penggusuran sama sekali. Di areanya, hanya beberapa kios saja yang sudah dibongkar, dan kemungkinan sudah setuju untuk direlokasi ke Pasar Barito Baru.

Kemarin, sederet kios di Jalan Barito, Bugangan, masih sibuk beraktivitas usaha masing-masing. Kios didominasi oleh pengusaha jasa las, penjualan drum dan galon bekas, serta onderdil kendaraan bekas. Sebelumnya, kawasan Barito ini sudah banyak dikenal sebagai pusat barang-barang bekas.

Di tempat relokasi Pasar Barito Baru, hanya segelintir pedagang yang membuka kiosnya untuk menyambung hidup. Salah satunya Wahyu, warga Genuk yang sempat memiliki usaha permanen di Bugangan.

Wahyu mengungkapkan, ia mendapat ganti rugi dari pemerintah berupa kios di Pasar Barito Baru secara cuma-cuma. Hanya saja ternyata tidak semua pedagang mau direlokasi. “Ternyata yang mau ikut (pindahan) hanya beberapa, jadi sampai sekarang masih sepi,” keluhnya.

Ia mengaku belum mendapat penghasilan yang bisa dibilang cukup setelah direlokasi. Di sekitar tempat Wahyu berjualan, setiap kios hanya berukuran sekitar 2×3 meter saja. Bangunan kios yang siap huni sudah berbentuk ruangan dengan sekat tembok dan rolling door. Ada sekitar lima puluh kios siap huni di bangunan kedua, yang bagian tengahnya masih kosong. Di bagian tengah, ada 26 lapak kosong yang nantinya jika difungsikan, satu lapaknya terbagi menjadi lima kios kecil. Di bangunan utama, terdapat kios-kios serupa dengan jumlah yang sama. Hanya saja berlantai 2 dan bagian atas juga seharusnya difungsikan untuk kios.

Di tempat relokasi Pasar Barito Baru, letaknya jauh dari keramaian dan jarang dilalui kendaraan. Berdampingan dengan Terminal Penggaron, jauh dari permukiman, dan sebagian pembangunan belum dirampungkan oleh pihak dinas terkait. Pembangunan yang sedang berlangsung adalah bangunan khusus yang diperuntukkan bagi pedagang dari Karangtempel berjumlah 80 kios, dan bangunan semi permanen yang sudah dipesan pedagang dari Bugangan yang menginginkan kios usahanya lebih luas. Mereka hanya disediakan tempat saja, jadi tetap harus mengeluarkan biaya sendiri untuk menyekat kiosnya.

Pemilik bengkel dan onderdil di Pasar Barito Baru, Wawan, mengeluhkan adanya peraturan motor dilarang naik ke lantai atas. Sedangkan untuk bidang usaha seperti miliknya diletakkan di bagian bangunan belakang dan tidak ada tempat untuk service motor pelanggannya. “Kalau saya harus naik-turun dari kios ke bawah ya capek sendiri nanti. Ini jalannya juga belum dipaving, kalau hujan pasti becek,” ujarnya.

Sejumlah pedagang juga belum mendapat kejelasan tentang bagaimana nasib kiosnya saat ini, karena belum ada pertemuan dengan pihak dinas lagi. “Sekarang ya kami cuma menempati, tanpa bayar retribusi, listriknya juga masih gratis. Belum tahu kalau misalnya nanti efektif difungsikan, entah kiosnya harus sewa atau apa, kami baru bisa nurut saja,” ungkap Wawan.

Sementara itu, mulai pekan depan, tepatnya pada minggu kedua Agustus, Dinas Perdagangan akan merelokasi PKL di Kelurahan Karangtempel, Semarang Timur di sepanjang bantaran Sungai BKT. Diharapkan, awal September mendatang, pembongkaran seluruh bangunan PKL dan hunian liar di sepanjang bantaran Sungai BKT selesai sesuai target.

“Minggu depan kami mulai sosialisasi, sehingga minggu kedua Agustus harapannya sudah mulai kami relokasi ke Pasar Barito Baru di Penggaron,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan Fajar Purwoto.

Dia menjelaskan, PKL dan hunian liar di Kelurahan Karangtempel giliran yang terakhir direlokasi seiring adanya normalisasi Sungai BKT. Sedikitnya ada 530 PKL yang nantinya direlokasi dan menempati kios sisi kanan Pasar Barito Baru.

Menurut Fajar, sebelumnya pihak Dinas Perdagangan menghitung ada 380 PKL. Namun setelah dilakukan pendataan ulang, ternyata jumlahnya mencapai 530 PKL. “Makanya kami butuh waktu dan akan lakukan sosialisasi lagi,” katanya. (tsa/mg10/mg13/aro)

Latest news

Related news