PARTISIPASI : Kepala Bappeda Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko memberikan plakat kepada narasumber Seminar Regional Pembangunan Sektor Strategies Berbasis Pengembangan Wilayah guna Mendukung Daya Saing Jawa Tengah, Rabu (25/7). (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
PARTISIPASI : Kepala Bappeda Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko memberikan plakat kepada narasumber Seminar Regional Pembangunan Sektor Strategies Berbasis Pengembangan Wilayah guna Mendukung Daya Saing Jawa Tengah, Rabu (25/7). (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Meskipun mengalami tren naik, pembangunan di Jawa Tengah masih menghadapi berbagai permasalahan. Mulai dari stagnasi pertumbuhan ekonomi, rendahnya IPM, tingginya kesenjangan antar wilayah serta beberapa isu lainnya masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu dicarikan formula tepat penyelesaiannya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Jateng Sujarwanto Dwiatmoko membeberkan, pembangunan di Jawa Tengah memang sudah berada pada capaian yang cukup baik. Meskipun demikian, hasil ini tidak lantas membuat Bappeda maupun pemerintah berpuas diri. ”Masih banyak PR mengatasi kemiskinan dan pengangguran mengurangi disparitas daerah,” ujarnya.

Demi mendapatkan solusi inovatif, Bappeda Jateng memfasilitasi para peneliti untuk menuangkan ide-ide mereka yang didapat dari hasil penelitian. Utamanya terkait tujuh isu strategis di Jawa Tengah, seperti kemiskinan, daya saing ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, kedaulatan pangan dan energi, infrastruktur dan pengembangan wilayah, pembangunan demokrasi dan tata kelola pemerintahan, dan ekonomi kreatif pariwisata.

”Ide para peneliti ini, nantinya akan diekstraksi. Kemudian dipilih ide inovatif untuk dijadikan sebagai rekomendasi dalam perumusan kebijakan yang lebih inovatif, kreatif, dan aplikatif pada pembangunan di Jawa Tengah,” ujar Jarwanto di sela acara Seminar Regional Pembangunan Sektor Strategies Berbasis Pengembangan Wilayah guna Mendukung Daya Saing Jawa Tengah, Rabu (25/7).

Pada seminar yang berlangsung di gedung Bappeda ini, ada sekitar 121 ide yang ditelurkan 116 peneliti dari Jawa Tengah dan 5 orang dari luar Jawa Tengah. Ide yang dirasa pas akan disisipkan dan mewarnai RPJMD 2019 yang saat ini masih dalam tahap pembahasan.

Sayangnya, dikatakan Jarwanto, kebanyakan peneliti masih berkutat pada fisik ekonomi berkaitan kemiskinan, daya saing, dan infrastruktur. Peneliti masih berorientasi pada hal-hal nyang bersifat teknis. “Belum banyak yang fokus pada mendesain perilaku, budaya, dan hal-hal sifat manusia,” ujarnya. (sga/zal)