UKSW dan IAIN, Sumbang Peningkatan Kualitas SDM

  • Bagikan
AKREDITASI: Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D., (baju putih) menerima sertifikat akreditasi A UKSW dari Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Audit Internal (LPMAI) UKSW Komala Inggarwati, S.E., M.M. (berbaju biru). (IST)
AKREDITASI: Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D., (baju putih) menerima sertifikat akreditasi A UKSW dari Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Audit Internal (LPMAI) UKSW Komala Inggarwati, S.E., M.M. (berbaju biru). (IST)

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Kota Salatiga memiliki dua perguruan tinggi yang besar dan dikenal. Keduanya adalah Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Di luar itu, ada sejumlah sekilah tinggi dan akademi yang juga eksis di bidang pendidikan.

Kontribusi perguruan tinggi bagi kota Salatiga memang cukup signifikan. Mulai dari jumlah mahasiswa yang mencapai belasan ribu, menjadikan perekonomian masyarakat meningkat. Dan tentunya, sumbangsih ilmu bagi pembangunan dan pengembangan hingga sumber daya manusianya, sangat besar.

IAIN Salatiga berupaya untuk menjadi lembaga pendidikan yang terbuka. Visi yang hendak diwujudkan adalah, “Tahun 2030 Menjadi Rujukan Studi Islam Indonesia bagi Terwujudnya Masyarakat Damai Bermartabat”. Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah dengan dibangunnya sarana pendidikan yang berpusat di kampus tiga, Jalan Lingkar Selatan, Sidorejo, Salatiga.

Saat ini, IAIN Salatiga memiliki lima fakultas yaitu, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Fakultas Dakwah (FD), Fakultas Syariah (FS), Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora (Fuadah), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan total 24 untuk S1 dan 3 untuk S1, serta satu program Khusus Kelas Internasional (KKI). IAIN Salatiga juga sudah terakreditasi B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT).

Program paska sarjana yang terakreditasi A mencakup S2 Pendidikan Agama Islam (PAI), S2 Ekonomi Syariah (ES), S2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), S2 Supervisi Pendidikan.

Sejak 2015, fasilitas gedung baru kampus tiga dinilai bisa menjadi pendongkrak kualitas baik dari segi fisik maupun nonfisik. Di kampus tiga ini, dua gedung ditempati mahasiswa FTIK dan FD. Untuk FEBI ditempatkan di kampus satu, sementara Fuadah dan FS menempati kampus dua di Jalan Nakula Sadewa, Bangarum, Salatiga.

Kepala Sub Bagian, Tutik Hasanah mengakui, ada peningkatan dalam jumlah penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2018, yakni sekitar 3.200 calon mahasiswa bersiap mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).

“Kami mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas yang signifikan. Selain itu, kami juga menjadi PTN paling murah dibanding PTN lainnya,” ujarnya. Lebih lanjut lagi, Tutik mengakui adanya peningkatan kualitas dari segi program studi, seperti Fakultas Dakwah yang tergolong baru namun sudah memiliki empat program studi.

Target 2019 nanti, IAIN Salatiga berencana membangun fasilitas dan sarana publik, seperti masjid, lapangan basket, lapangan sepakbola, serta sarana untuk masyarakat lainnya. “Untuk saat ini kami sudah memiliki lapangan futsal, lapangan voli, dan lapangan tenis meja,” jelas Tutik.

IAIN Salatiga mendapat predikat “Pilot Project Zona Integritas Tingkat Nasional” di mana segala sesuatunya terlaporkan secara rinci baik secara administratif maupun pelaksaannya di antara IAIN se-Indonesia. Salah satunya dinilai dari adanya satpam perempuan yang dinilai lebih luwes ketika menjamu tamu.

Sementara itu, mengusung konsep “We are the Creative Minority”, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) memiliki total 14 fakultas dan 55 program studi di tahun 2018. Konsep tersebut terinspirasi dari rektor pertama UKSW, O. Nothohamidjojo yang saat ini namanya menjadi salah satu nama jalan di Salatiga.

Dalam masa karir UKSW sejak 1956, ada tiga kampus terpisah seperti di kampus utama Jalan Diponegoro, Kampus Jalan Kartini, dan Kampus O. Nothohamidjoyo di Blotongan dengan total sekitar 13 ribu mahasiswa aktif. Tidak hanya itu, UKSW juga mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak awal pengabdiannya melayani masyarakat di bidang pendidikan.

Saat ini, jabatan rektor dipegang oleh Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D, dan UKSW memiliki 13 profesor. Selasa (17/7), UKSW memiliki satu profesor baru di bidang akuntansi dan menjadi satu-satunya profesor wanita, Dr. Intyas Utami, SE., M.Si., Ak., CA., CMA., QIA.

Terkait dengan kepekaan sosial, alumni dari program studi Desain Komunikasi Visual (DKV FTI) menciptakan board game bernama “The Tale of Pela Gandong”, Allez Tangidy. Papan permainan yang menyerupai cara kerja seperti monopoli yang mengutamakan pion dan kartu ini, memiliki makna tentang kebiasaan masyarakat Maluku, budaya persaudaraan dan representasi keseharian para mahasiswa dengan teman dari adat dan budaya lainnya.

Untuk ranah kebudayaan, UKSW memiliki kegiatan bernama Indonesia International Culture Festival (IICF) yang biasanya digelar mengitari jalanan Kota Salatiga. IIFC merupakan pesta perayaan keberagaman di UKSW yang menjadi pekan budaya, berupa karnaval drumblek. Dimeriahkan setidaknya 20 etnis di UKSW dan mengajak grub-grub drumblek di Salatiga.

Selain berkiprah dan melebarkan sayap di kancah nasional, UKSW juga banyak menjalin kerja sama dengan universitas luar negeri dan program-program internasional. Di bawah naungan Language Training Centre (LTC), terdapat dua program yaitu Program Intensif Budaya dan Bahasa Indonesia (PIBBI) dan Consortium for The Teaching of Indonesia (COTI). Ini merupakan kegiatan tahunan ke 73, karena beberapa sesi terakhir, PIBBI dan COTI dilaksanakan dua kali dalam setahun.

Program internasional lain adalah East Asian Student Encounter (EASE), yaitu program pertemuan mahasiswa UKSW dengan mahasiswa dari universitas luar negeri. Seperti Kwansei Gakuin University (KGU) dan Chung Yuan Christian University. Untuk kegiatan yang diadakan di Indonesia setiap tahun ganjil, dan tema untuk pertemuan tahun depan sudah dirumuskan di pertemuan tahun ini.

Mahasiswa UKSW juga banyak yang mengikuti program volunteer. Menyatukan minat mengajar di negara-negara berkembang seperti Vietnam dan Thailand. Dengan program ini, mahasiswa dipacu untuk lebih peduli dengan keadaan sosial di kancah internasional, selain tetap mengembangkan prestasi di dalam negeri.

Ke depannya, UKSW berencana membuat program Research University, yaitu pengajaran berbasis penelitian, menggiatkan dosen dan mahasiswa untuk berkolaborasi membuat sebuah penelitian. (mg10/mg13)

  • Bagikan