32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Jaga Toleransi Di Kota Salatiga

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Tuti Nusandari Roosdiono merupakan salah satu tokoh politik wanita asal kota Salatiga. Saat ini, Tuti menjadi bagian dari DPR RI Komisi II yang bergerak di bidang Pemerintahan dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur dan Reformasi Birokrasi, Kepemiluan, Pertahanan dan Reforma Agraria.

Ia dilantik sebagai anggota DPR RI Dapil I Jawa Tengah pada 11 Januari 2016 untuk periode 2014-2019 menggantikan Tjahjo Kumolo yang saat ini diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. Dalam masa jabatannya ini, Tuti bertugas di bidang luar negeri, pertahanan, dan intelijen. Namun, di awal 2018 ia dipindahtugaskan ke Komisi II dan menangani aparatur dan reformasi birokrasi, reforma agraria dan urusan dalam negeri.

Dalam peringatan HUT Salatiga tahun ini, Tuti Nusandari Roosdiono tampak sangat bersemangat ketika mengikuti kegiatan senam dan jalan sehat dalam rangkaian HUT Salatiga di Lapangan Pancasila. Ia dengan ramah memberi sambutan kepada para warga yang hadir, bahkan ikut menyumbangkan suara bersama penyanyi yang diundang tampil. “Seluruh warga harus menjaga Salatiga sebagai kota toleran. Jangan lupa selalu menjaga kebersihan, kesehatan dan persatuan,” jelas Tuti.

Sebagai bagian dari tugasnya, Tuti tentu tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan bersosialiasi kepada masyarakat. Mengajak masyarakat Indonesia untuk mengingat pilar-pilar kebangsaan. Sosialisasi ke masyarakat seperti ini sangat penting bagi Tuti, yang merasa prihatin kondisi muda – mudi yang mulai melalaikan pentingnya Pancasila. Tuti menjelaskan, menghormati nilai-nilai luhur bangsa bisa dilakukan dengan cara sederhana yang akhirnya menjadi kebiasaan seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu kebangsaan, pembacaan UUD 1945 dan Pancasila di setiap upacara bendera di sekolah.

Pada Mei 2018 lalu, Tuti juga datang ke Desa Bonomerto, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang untuk bertemu perwakilan warga, mendengarkan pendapat dan keinginan para masyarakat agar memperbaiki jalanan yang menghubungkan Dusun Krajan dan Dusun Godong yang hanya bisa dilalui sepeda motor karena areal perwasahan terlalu luas. Warga juga meminta dukungan untuk pengembangan kebudayaan di desa meliputi kebutuhan peralatan dan seragam grub drumblek maupun grub rebana.

Di luar jadwal dan kesehariannya sebagai aparatur negara, Tuti merupakan seorang aktivis antitembakau dan pegiat kebudayaan. Ia menjadi Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) sekaligus pendiri komunitas wayang orang, Mitra Barata. Selain itu, kegemarannya melukis juga pernah membuatnya mengikutsertakan lukisannya di sebuah pameran dan beberapa diantaranya laku terjual.

Meskipun bukan lulusan jurusan seni, bagi Tuti, melukis merupakan salah satu terapi diri sama seperti halnya ketika dia bermain piano, bermusik, maupun menari. Produktivitas melukis Tuti terbilang cukup tinggi. Bahkan, sebelum ia disibukan tugas-tugas sebagai anggota dewan, ia mengaku dalam satu tahun bisa menyelenggarakan lima kali pameran lukisan.

Tuti adalah alumni Business Administration, Washington Business School, Washington D.C, Amerika Serikat. Tuti mengungkapkan, kecintaannya pada lukisan berawal dari kesenangan suaminya menghadiri pameran-pameran lukisan, lalu membelinya sebagai koleksi pribadi. Nah, dari situ lah Tuti mulai memberanikan diri untuk belajar melukis, hingga seiring waktu berjalan melukis menjadi minatnya. Meski sering laris manis, Tuti menyatakan, tidak semua lukisannya dijual. Untuk lukisan yang ukuran kecil-kecil biasanya dia berikan sebagai kado. Dalam waktu dekat ini, ia juga akan membuat katalog, sehingga memudahkannya dalam hal pengarsipan lukisan karyanya. (mg8/mg13)

Latest news

Related news