Siapkan Dua Zona Taksi

  • Bagikan
BANYAK PILIHAN: Taksi argometer sejak Sabtu mulai beroperasi di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANYAK PILIHAN: Taksi argometer sejak Sabtu mulai beroperasi di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Monopoli taksi di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang berakhir. Ini setelah diizinkannya sejumlah taksi berargometer mengangkut penumpang di bandara megah tersebut sejak Sabtu (21/7) lalu.  Bahkan, untuk meminimalisasi aksi premanisme dalam bandara  terkait operasional taksi, PT Angkasa Pura I akan segera melakukan seleksi kepada operator taksi non bandara. Seleksi akan dilakukan pada Agustus mendatang.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan Angkasa Pura, I Devy Suradji, menjelaskan, seleksi operator taksi diperlukan agar dapat dilakukan pendataan seperti kelayakan armada taksi, kecukupan kuota armada, identitas sopir, nomor lambung armada, dan beberapa data lainnya.

“Akan ada lelang terbuka, jadi ada beberapa operator, termasuk taksi bandara akan teregister semua,” ujar I Devy Suradji kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (23/7).

Ketika semua taksi bandara teregister, lanjut dia, maka kenyamanan dan keamanan pengguna jasa layanan bandara akan dapat terjamin. “Karena keselamatan penumpang tidak hanya saat berada di dalam bandara, tapi saat keluar bandara juga menjadi tanggung jawab kami,” kata Devy.

Seleksi operator taksi ini, lanjut dia, akan dilakukan seperti yang sudah berjalan di Bandara Juanda Surabaya, di mana akan dibuat dua zona. Zona taksi ini, lanjutnya, akan mengakomodasi semua penumpang untuk bisa memilih jenis transportasi lanjutan sesuai keinginan dan tujuan mereka. “Sehingga kejadian tidak mengenakkan yang dialami saudari Nathalie tidak terjadi lagi,” kata Devy.

“Di Juanda itu project awalnya, dan akan diterapkan di Bandara AP I lainnya, termasuk di Ahmad Yani. Zonasi terdiri atas zona taksi bandara dan zona argometer, termasuk zona rent car. Agar penumpang bebas leluasa memilih sesuai kebutuhan dan tujuan,” ujarnya.

Sebenarnya, kata dia, rencana ini sudah ada dalam rencana awal pembangunan Bandara Ahmad Yani yang pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. Mulai dari operasional, hingga pada tahap kelengkapan fasilitas, seperti area komersil, parkir, termasuk transportasi lanjutan.

“Yang diresmikan Pak Jokowi Juni lalu itu operasionalnya, nah fasilitas pendukung akan diselesaikan sambil jalan.  Termasuk transportasi, akhir 2018 akan selesai 100 persen,” katanya.

Sementara itu, mengenai penambahan jumlah armada taksi non bandara, pihaknya belum bisa menginventarisasi secara pasti. Dikatakan, akan ada penghitungan dari Dinas Perhubungan Jateng dan Angkasa Pura untuk menentukan jumlah kuota yang ideal. “Kira-kira nanti mendekati tiga bulan terakhir di 2018, semua akan sudah terealisasi,” ujarnya optimistis.

Pasca keluhan yang diunggah salah satu konsumen Bandara Ahmad Yani Semarang, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memerintahkan Dinas Perhubungan untuk membantu menyelesaikan persoalan. Dikatakan, pemerintah telah bertindak dan dalam waktu dua hari, taksi argo sudah bisa masuk ke bandara.

Ganjar berharap, nantinya bus bisa masuk sehingga dapat digunakan pula oleh pengguna jasa Bandara Internasional Ahmad Yani dengan harga lebih rendah. “Kalau bisa kita atur manajemen transportasinya ini secara bersama-sama. Kalau ada yang kerja sama ya kerja sama. Kalau ada yang harus memenuhi syarat, ya harus dipenuhi syarat itu,” ujar Ganjar.

“Kemarin dari kodam kan juga sudah menyampaikan rilisnya. Tinggal dikerjakan saja,” tambahnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mendatangi Bandara Ahmad Yani kemarin mengatakan, harus ada win-win solution untuk penyelesaian persoalan taksi ini. Menurutnya, akan lebih baik jika semua pihak secara bersama-sama merumuskan kebijakan yang tidak saling merugikan, baik bagi Angksa Pura, operator taksi, masyarakat, dan Koperasi Angkatan Darat.

“Semua kan punya pasukan nih. Pimpinannya harus bisa mengerem pasukannya di lapangan biar bisa kondusif,” harapnya.

Sebelumnya, pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, masyarakat tentu senang dengan masuknya taksi argometer ke bandara ini. Hanya saja, ia mempertanyakan, apakah sudah semua taksi yang beroperasi di bandara dijalankan dengan argo?  ”Ternyata tidak. Artinya yang Primkopad harus berargo juga,” ujarnya.

”Kemudian berapa komposisi armadanya. Belum ada kesepakatan kuota masing-masing taksi. Jenis kendaraannya apa juga belum,” imbuhnya.

Djoko meminta agar Bandara Internasional Ahmad Yani menjadi contoh baik dalam pengelolaan taksi bandara. Jangan sampai, bandara yang digadang-gadang sebagai pintu gerbang pariwisata Jawa Tengah ini justru memberikan kesan yang buruk kepada para pengguna jasanya.

”Baru keluar saja sudah dipalak begitu kan tidak bener. Jangan sampai justru menjadi contoh buruk dalam pengelolaan ini,” katanya.  (sga/aro)

  • Bagikan