KOSONG : Petugas keamanan pasar melewati los penjual daging ayam di Pasar Rejowinangun yang ditinggal para penjualnya karena melakukan aksi mogok, Minggu (22/7). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
KOSONG : Petugas keamanan pasar melewati los penjual daging ayam di Pasar Rejowinangun yang ditinggal para penjualnya karena melakukan aksi mogok, Minggu (22/7). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Aksi mogok tak berjualan yang dilakukan pedagang ayam potong di beberapa pasar di Kota Magelang, Minggu (22/7) membuat konsumen kelabakan. Pada pedagang ini mogok jualan karena protes harga ayam yang tidak stabil.

Salah satu pedagang bubur ayam di kawasan Kuliner Kartika Sari, Aceng, 47, mengaku bingung mencari bahan baku ayam karena para pedagang mogok. “Ya tetap nyari. Karena hari ini (kemarin) belum belanja bahan baku ayamnya. Kalau ndak dapat ya nggak tahu, mungkin ndak buka dagangan,” keluh Aceng.

Ia sebelumnya sudah mendengar rencana adanya aksi mogok tersebut. Namun ia mengira hanya sehari. “Ternyata saya dengar sampai tiga hari dan se-Jawa Tengah. Saya harus nyari di mana ini,” keluh Aceng.

Menurut dia, sejak berjualan selama 10 tahun, baru kali ini mengalami kenaikan harga ayam potong yang cukup tinggi. Selama ini harga ayam potong paha per kilogram rata-rata Rp 45.000 sampai Rp 50.000.

Salah satu petugas keamanan Pasar Rejowinangun, Agus S, mengaku aksi mogok para pedagang ayam potong berlangsung sejak pukul 02.00. “Sekitar 50 pedagang ayam tidak ada yang jualan. Ternyata mereka melakukan aksi mogok karena harga ayam dari peternak sudah tinggi. Saya dengar sampai tiga hari aksi mogoknya,” ujar Agus.

Salah satu pedagang ayam di Pasar Kebonpolo, Maesaroh, 49,mengatakan aksi dilakukan karena pasokan dari peternak sejak empat hari terakhir berkurang. “Sejak empat hari terakhir, pasokan ayam pedaging dari sejumlah peternak mengalami pengurangan dan harganya sudah melambung tinggi,” kata Maesaroh. Harga beli dari peternak mencapai Rp 25.000 per kilogram ayam hidup. Dengan harga tersebut, pedagang akan rugi. Apabila dijual mahal kepada konsumen dipastikan tidak laku.

Lanjut dia, harga jual ayam potong/pedaging kepada konsumen mencapai titik tertinggi yakni Rp 45.000 per kilogram. Sebelumnya, harga menjelang hingga sesudah Lebaran, berkisar di angka Rp 35.000 per kilogram hingga Rp 36.000 per kilogram. “Aksi para pedagang ayam tidak tahu kapan berakhir, sambil menunggu harga ayam turun di tingkat peternak saja,” tukasnya.

Aksi mogok jualan juga berlangsung di Pasar Blauran Salatiga. Hanya saja, kemarin masih ada pedagang yang menjual daging ayam karena tidak tahu ada aksi mogok. “Sebelumnya saya tidak tahu kalau mogok jualannya itu hari ini. Jadi hari ini yang jualan daging ayam potong cuma saya saja, yang lainnya pada libur. Ini saja saya nyepaki pelanggan saya yang biasanya beli di sini,” kata Retno di sela melayani pembeli.

Ia mengungkapkan, harga daging ayam saat ini mengalami kenaikan yang cukup drastis. Meskipun demikian, masih banyak pelanggan yang mencari daging ayam potong di lapaknya. “Biasanya harga normal cuma Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Sekarang bisa sampai Rp 45.000 per kilogram. Biasanya usus cuma sampai Rp 15.000 sekarang bisa sampai Rp 20.000 ke atas,” terangnya.

Sementara itu, pedagang ayam potong yang tergabung dalam Asosiasi Broiler Salatiga sebenarnya akan menggelar aksi unjuk rasa di kantor DPRD Kota Salatiga, Sabtu (21/7). Namun karena belum ada izin, aksi ditunda Senin (23/7) ini. (had/mg7/mg8/mg10/lis)