Membudayakan Literasi dengan Membaca Buku Fiksi

spot_img

RADARSEMARANG.COM – BUDAYA baca masyarakat Indonesia sangat rendah sekali dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini dapat dilihat dari data UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang mau membaca serius.

Sementara pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta pada 2014. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. (Zakiyuddin Baidhawy).

Melihat fenomena yang terjadi saat ini di mana budaya literasi akan membaca buku-ilmu pengetahuan sangat memprihatinkan, maka pada kurikulum 2013 untuk mempersiapkan generasi emas pada abad 21 salah satunya pemerintah memasukkan program literasi di sekolah.

Sebagai sebuah budaya, literasi bermula dari kemampuan yang terdapat pada setiap individu dalam suatu komunitas, seperti seorang siswa dalam suatu sekolah. Siswa yang literat akan memiliki kesenangan atau kegemaran terhadap aktivitas baca-tulis, sehingga dalam pertumbuhan dan perkembangan melalui pembiasaan, pengembangan, ataupun pembelajaran, kemampuan tersebut akan menjadi kebiasaan yang memola (membentuk suatu pola).

Baca juga:   Memaksimalkan Penggunaan Smartphone dan Internet dalam PJJ Bahasa Inggris

Kemampuan literat antara satu individu dan individu lain berkembang, sehingga bukan lagi sekadar kemampuan tunggal, melainkan kemampuan masyarakat, komunitas, atau warga sekolah. Oleh karena itu, budaya literat adalah sesuatu yang lebih luas dan yang lebih penting daripada sekadar keterampilan teknis membaca dan menulis yang bersifat individual.

Budaya literasi perlu dikembangkan sejak dini khususnya pada dunia anak-anak dengan membaca buku-buku yang menarik berupa buku fiksi. Buku fiksi biasanya akan mempercepat program budaya baca pada anak-anak. Fiksi mempunyai dua kegunaan, yakni: pertama, fiksi adalah kunci pintu gerbang kepada kecintaan membaca. Dorongan untuk tahu apa yang berikutnya, keinginan untuk membuka halaman berikutnya, ingin tahu apa lanjutannya, meski hal itu berat. Hal-hal tersebut mendorong Anda untuk belajar kata baru, dan terus berlanjut. Akhirnya mendapati bahwa membaca adalah sebuah kenikmatan. Ketika Anda sudah memasuki gerbang tersebut, Anda telah berada di jalan yang benar dan bisa membaca apa saja.

Kedua, fiksi membangun empati. Empati adalah alat untuk membangun orang-orang menjadi kelompok yang membuat kita berfungsi lebih dari sekadar memenuhi obsesi pribadi.

Baca juga:   Membangun Budaya Literasi dengan Pendekatan MANTAP

Budaya literasi menjadi tanggungjawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah saja. Oleh karena itu, dengan melihat data betapa rendahnya minat baca pada anak-anak sudah seharusnya kita sebagai pendidik mendukung sepenuhnya program pemerintah melalui kurikulum 2013.

Dalam kurikulum itu salah satunya berkaitan dengan literasi dalam mewujudkan nawacita pemerintah menuju Indonesia Emas dan mempersiapkan generasi abad 21 yang mampu bersaing dengan negara-negara maju di dunia ini.(kpig1/aro)

Guru MTs Hasyim Asyari Bawang Batang

Author

Populer

Lainnya